RAHASIA YANG TERSEMBUNYI DI GUNUNG SIBAYAK “SUMUT”

Gunung Sibayak adalah gunung aktif yang  letaknya berdekatan dengan kota Berastagi provinsi Sumatra Utara.  Banyak penduduk setempat biasanya menyebutnya dengan Gunung Raja. Gunung Sibayak merupakan gunung aktif  yang terakhir  meletus  pada  tahun 1881. Gunung terletak di sekitar 50 Km  barat daya kota medan, dan merupakan salah satu gunung berapi aktif yang memiliki uap panas.  letusan yang terjadi pada waktu lalu sangat mengguncang bebatuan di puncak gunung mengakibatkan Kondisi yang “tidak beraturan” pada bebatuan puncak nya. Hal ini, justru menjadi salah satu keunikan tersendiri yang membuat wisatawan tertarik menguji adrenalinnya untuk dapat menaklukkan Gunung Sibayak hingga mencapai puncak. Dari atas gunung kita akan di suguhkan  pemandangan lautan awan  akan membuat anda terpesona dan menikmati pemandangan yang di ciptakan tuhan.  Tidak hanya itu di atas gunung kita dapat menikmati sunset dan kemunculan sinar matahari akan menerpa wajah dengan suasana hangat, menggantikan hawa dingin yang mengganggu dalam perjalanan Anda.

 

 

Dalam menuju ke puncak sibayak, anda harus mulai melangkah dari kaki gunung kurang lebih pada pukul 02.00 dini hari. Jangan khawatir, karena suasana di malam hari tetap akan memukau Anda. Ditambah lagi cahaya-cahaya lampu penduduk di sekitar gunung yang menerangi langit Gunung Sibayak yang membuat Anda merasa sedang berada di bulan karena kondisi pijakan selama pendakian yang penuh batuan.

Bukan hanya dari keindahan pemandangan puncaknya, gunung sibayak juga menyediakan aliran air dari sela-sela batuan gunung akan sangat menyegarkan Anda. Pendaki banyak yang memanfaatkannya sebagai cadangan air minum karena air di gunung sibayak Air nya yang jernih dan sangat segar. Inilah yang membuat sumber air ini menjadi salah satu sumber air untuk air minum kemasan merek “AQUA”.

Terlepas dari kawasan puncak, Gunung Sibayak masih banyak menyimpan kemegahannya. Diantaranya batu cadas yang sering dijadikan tempat dan objek berfoto bagi para pendaki. Di dalam gunung sibayak terdapat kawah belerang seluas 40.000 meter. Kandungan solfatara membuat uap dari belerang tak berhenti menyemburkan uap panas. Bagian yang lainnya dapat dijadikan sebagai tempat Anda untuk beristirahat sejenak di dalam tenda. Akhir pekan atau hari libur sekolah merupakan hari yang cocok untuk mendaki di gunung sibayak.

 

 

Gunung sibayak merupakan gunung yang terletak di dataran tinggi, kabupaten karo, Sumatera Utara. Ketinggian Gunung yang sering menjadi salah satu objek pendakian ini memiliki 2.094 MDPL. Hutan yang berada di sekitar pegunungan ini termasuk dalam wilayah Taman Hutan Raya ”TAHURA” Bukit Barisan, Sumatera Utara. Gunung Sibayak memiliki puncak tertinggi yang di beri nama “Takal Kuda” yang berarti “Kepala Kuda”. Yang mana titiki koordinat puncaknya  berada pada 97°  30’ BT dan 4° 15’ LS.

BERASTAGI – Pemandangan pemukiman dan kota Berastagi dilihat dari puncak gunung Sibayak (2,066 mdpl), Tanah Karo, Kamis (3/11). Berastagi merupakan kota dataran tinggi penghasil sayuran dan buah di Sumatera Utara. Foto: TRIBUN MEDAN/TAUFAN WIJAYA

Berangkat mulai dari Kota Medan, Anda akan menempuh jarak kurang lebih sejauh 78 KM dengan waktu lebih kurang 2 jam untuk sampai ke Berastagi. Setiba di sana anda dapat  memilih kendaraan sesuai yang anda inginkan. Kemudian, untuk sampai dilokasi, ada dua pilihan rute yang bisa anda pilih, diantaranya melakukan perjalanan dari Berastagi atau ada juga perjalanan dari desa Semangat Gunung.

Terdapat tiga jalur yang bisa anda lalui untuk bisa menuju ke puncak Gunung Sibayak. Melalui jalan kecil setapak yang berda disepanjang hutan tropis dan banyak terdapat hamparan tebing – tebing curam yand di kelilingi hamparan hutan dengan pohon yang tingi. Adapun jalur lainnya adalah melalui desa Raja berneh atau desa Semangat Gunun.Jalur lainnya yaitu jalur 54  Penatapan jagung rebus yang mana kita dapat beristirahat menikmati jagung bakar dan seduhan kopi panas yang letaknya kira – kira 500 meter dari Kota Berastagi.

 

Tidak ada patokan harga yang akan di tetapkan bagi para pengunjung, tergantung bagi para pendaki dengan kendaraan roda dua per orang sebelum memasuki lokasi gunung akan di kenakan Rp 5000 saja. Jadi pastikan Anda telah menyiapkan uang pas untuk membayarnya.

Gunung Sibayak merupakan gunung yang terletak kota Berastagi, banyak menyediakan kuliner-kuliner khas Berastagi yang dijajakan di sepanjang jalan Kota dan disana ada akan menikmati pemandangan perkebunan seperti perkebunan jeruk dan strawberi, bahkan petani memperbolehkan petik buah sendiri bagi pengunjung. Disana Anda juga tidak akan kesulitan menemukan tempat penginapan kelas melati hingga hotel Elit yang memanjakan peristirahatan anda. Hotel yang terletak didekat dengan objek wisata gunung Sibayak yaitu Hotel Mutiara. Tetapi, tujuan kita adalah hanya akan merasakan dan bercengkraman dengan alam asri hutan tanpa ada fasilitas modern di dalamnya.

Sumber : http://www.kebudayaanindonesia.com/2015/06/gunung-sibayak-adalah-gunung-aktif-yang.html

FESTIVAL PULO ACEH ANGKAT POTENSI LOKAL

BANDA ACEH – Dinas Pariwisata Aceh akan menggelar Festival Pulo Aceh 2017 selama dua hari yakni 22-23 Juli 2017 di Pulo Breuh dan Pulo Nasi, yang berada dalam Kecamatan Pulo Aceh, Aceh Besar. Kegiatan itu dilaksanakan atas kerja sama dengan Badan Pengusahaan Kawasan Sabang (BPKS), Dinas Pariwisata, Pemuda dan Olah Raga (Disparpora) Aceh Besar dan Balai Pelestarian Nilai Budaya (BPNB) Kemendikbud Aceh.

Festival itu mengangkat tema “Explorasi Destinasi Pulo Aceh”. Sejumlah agenda kegiatan eksplorasi wisata alam dan kebudayaan akan mewarnai festival itu, di antaranya Pentas Seni dan Budaya, Pulo Aceh Photo Hunting, Camping, Lomba Mewarnai, Permainan Rakyat “Ceria Bersama Anak Pulo”, Fun Bike, Jet Ski dan Fun Dive, Paramotor Show, Lomba Mancing, Pameran/Bazaar, Sosialisasi Sapta Pesona, Aksi Bersih Pantai, dan Penanaman Mangrove.

“Tidak hanya memberikan hiburan kepada masyarakat setempat, tetapi juga semangat dalam memajukan Pulo Aceh khususnya dan Aceh umumnya sebagai destinasi wisata unggulan Aceh,” ujar Kepala Dinas Pariwisata Aceh Reza Fahlevi, kemarin.

Menurut Reza, kegiatan itu akan mengangkat perpaduan antara keunikan alam dan pesona budaya masyarakat lokal. Menurutnya, Festival Pulo Aceh memang baru pertama kali dilaksanakan. Tujuannya untuk meningkatkan daya tarik pariwisata di Aceh Besar maupun Aceh.

Ia berharap festival itu mampu memperkenalkan potensi dan kekayaan alam serta budaya masyarakat Pulo Aceh kepada wisatawan. Selain itu juga dapat menumbuhkan jiwa wirausaha (entrepreneurship) dan ramah (hospitality) dalam menyambut dan melayani tamu oleh masyarakat setempat.

“Festival ini juga menjadi media untuk mempromosikan daerah yang masih sulit dijangkau karena berbagai keterbatasan sarana dan prasarana pendukung pariwisata. Juga untuk mendukung percepatan Pulo Aceh sebagai destinasi wisata bahari dengan berbagai keunggulan dan keunikan alam dan budayanya,” ujarnya.

Sementara Kepala BPKS Fauzi Husin mengatakan, Pulo Aceh yang masuk dalam Kawasan Perdagangan Bebas dan Pelabuhan Bebas Sabang memiliki beberapa spot wisata bahari yang layak untuk dikunjungi, seperti Pantai Nipah. (Lihat: Objek Wisata). Menurut Fauzi, letak Pulo Aceh yang sangat strategis dan tidak jauh dari Banda Aceh sebagai ibu kota provinsi, sangat strategis dan memiliki potensi untuk dikembangkan sebagai salah satu destinasi wisata unggulan. Fauzi melanjutkan, terlaksananya festival ini diharapkan mampu mengangkat wisata Pulo Aceh dan segala potensi investasinya.

Sementara itu, Kadisparpora Aceh Besar Sulaimi menambahkan, serangkaian agenda festival akan mengajak pengunjung untuk mengeksplor pesona alam dan keunikan budaya Pulo Aceh. Berbagai komunitas seperti sepeda, diving, memancing, photo hunting, jet ski, akan ikut serta dalam kegiatan itu.

Untuk menjalankan kegiatan, penyelenggara juga akan menggandeng sejumlah komunitas dan lembaga yaitu Yayasan Lamjabat, Sahabat Laut, dan Ikatan Pemuda, Pelajar, dan Mahasiswa Pulo Aceh (IPPELMAPA).

Sumber : http://aceh.tribunnews.com/2017/07/20/festival-pulo-aceh-angkat-potensi-lokal

LEGENDA DANAU LUT TAWAR

KONON dahulu kala ada sebuah desa yang tersembunyi di atas gunung. Gunung-gunung melengkung memagari wilayah tersebut. Hasil alam yang berlimpah ruah, masyarakatnya hidup serasi dengan alam. Tersebutlah dataran Gayo, dataran tinggi di mana kemakmuran melingkupi penduduknya.

Dahulu di daerah ini, ada sebuah kolam kecil di tengah hutan yang luas lagi lebat yang di dalamnya hanya hidup beberapa ikan saja. Airnya memancar keluar dari dalam tanah seperti air yang mendidih sangat jernih sekali, sehingga seluruh hewan yang menghuni hutan tersebut sangat suka meminum air dari kolam itu. Bukan saja hewan yang acap datang ke kolam itu,  bidadari dari kayangan pun konon sering mengunjungi kolam tersebut untuk sekedar mandi sambil bermain dan bercanda sesama mereka. Menurut cerita, Putri Bensu adalah salah satu nama dari bidadari tersebut yang turut mandi bersama dengan kakak-kakaknya sambil berluluran di atas batu besar yang ada di tepi kolam. Sementara di sebelah bebatuan yang besar lainnya biasanya ada seorang pemuda bernama Malim Dewa yang selalu meniup seruling dengan merdunya untuk memikat hati sang bidadari terutama Putri Bensu. Setelah mandi para bidadari ini akan kembali ke langit yang lebih dikenal dengan nama Negeri Antara.

Di pinggiran kolam yang jernih ini pun tumbuh sebatang pohon yang sangat besar batangnya, banyak buahnya serta rimbun daunnya. Tempat  dimana segala jenis binatang yang hidup di hutan tersebut untuk berteduh dari teriknya matahari dan derasnya hujan sambil beristirahat sejenak setelah melalang buana mencari makanan, sekaligus tempat menghilangkan rasa dahaga karena kolam tersebut airnya sangat jernih serta berada tepat di samping pohon besar. Begitu pun dengan burung-burung yang bermain dari cabang satu ke cabang yang lainnya lagi sambil mencari makanan di atas pohon kayu yang besar tadi. Mereka memakan buahnya sembari mencari ulat-ulat kecil yang merayap di atas cabang serta daunnya yang rimbun sebagai makanan tambahan. Tidak hanya ada pohon besar itu di pinggir kolam tersebut, tumbuhan lainpun hidup subur mengelilingi kolam walau memang tidak sebesar pohon yang satu itu.

Pada zaman itu hiduplah seorang  ulama yang sangat disegani dan sangat di hormati oleh masyarakat Gayo karena keta’atannya dalam beribadah, arif dalam mendudukkan perkara lagi bijaksana dalam bersikap, ulama ini  bernama Aulia. Sang Ulama memiliki ciri badan yang sangat berbeda dari manusia sekarang, beliau berbadan sangat besar dan tinggi, memiliki langkah kaki yang sangat lebar, tidaklah seberapa tingginya gunung-gunung yang menjulang di muka bumi serta dalam, panjang dan luasnya lautan di samudra. Seperti itulah kira-kira besar badannya, luas langkahnya, hanya khayalan kita saja yang bisa menyimpulkannya. Sehingga sang Ulama di juluki dengan nama Unok . Sampai sekarang julukan Unok masih melekat di antara masyarakat Gayo. Biasanya diberikan kepada mereka yang berbadan besar, tinggi dan mempunyai langkah kaki yang lebar.

Ketaatan Sang Unok dalam beribadah kepada Allah SWT menjadi tauladan di dataran tinggi Gayo. Banyak kabaran mengatakan kalau Unok sering terlihat di tanah suci untuk beribadah apalagi ketika hari Jum’at tiba beliau selalu mengerjakan shalat Jum’at di Mekkah, sehabis mandi beliau mengenakan pakaian yang sangat bagus lagi bercahaya harum pula wangi tubuhnya padahal jarak Mekkah dan Gayo sangat lah jauh bila di ukur dengan angka-angka skala, tetapi tidak bagi Unok dengan sekejap mata beliau bisa sampai di Mekkah. Unok tidak berlama-lama berada di Mekkah, sehabis melaksanakan kewajibannya menunaikan ibadah beliau langsung kembali lagi ke dataran tinggi Gayo, tak pernah ada yang mengetahui dengan cara apa beliau bisa sampai di Mekkah, atau mahluk apakah yang beliau tunggangi. Mungkinkah Unok mengendarai Burak seperti kendaraan Nabi pada saat pergi menuju Sidratul Muntaha, atau mungkin beliau terbang, karena belum pernah ada yang melihat secara langsung. Namun menurut kabaran beliau biasanya hanya berjalan kaki menuju ke Masjidil Haram.

Pada suatu hari yang mana menurut penanggalan sebagai hari serta bulan yang baik, turunlah sebuah ilham atau amanah kepada Sang Ulama bahwa nanti suatu hari akan turun cobaan dari Allah SWT kepada seluruh mahluk hidup yang ada di bumi untuk menguji siapa-siapa saja yang beriman dan siapa-siapa yang tidak di antara mereka. Apabila dia beriman maka dia akan selamat dari cobaan ini karena memegang teguh amanat atau perintah Tuhan, sementara yang tidak, pasti akan mendapat azab dariNya karena ingkar serta durhaka terhadap perintahNya. Cobaan yang maha dahsyat itu berupa banjir besar yang akan menenggelamkan semua yang ada di bumi baik daratan maupun gunung-gunung yang tinggi sekalipun. Semua akan ikut tenggelam saat air itu datang, dunia akan tergenang bak lautan yang luas.

Dalam ilham tersebut Unok diperintahkan untuk membuat sebuah perahu yang sangat besar agar bisa melindungi dan menyelamatkan mahluk hidup yang beriman. Di dalam perahu itulah nanti seluruh mahluk hidup akan tinggal sementara, makan dan minum serta bisa mengangkut bekal makanan karena tidak ada yang mengetahui sampai kapan banjir itu akan surut atau berhenti. Entah berapa bulan atau mungkin berbilang tahun. Perahu besar pun harus segera di buat dan akan diletakkan di sebuah tempat yang berdekatan dengan Mekkah.

Pada hari baik, setelah ada kesepakatan untuk membuat perahu yang besar, mulailah Unok dan orang-orang yang percaya akan alamat ilham Sang Unok mengumpulkan perkakas dan bahan-bahan yang akan digunakan untuk membuat perahu besar tersebut. Pohon-pohon mulai di tebang, tali tambang mulai di rajut. Membuat perahu yang besar di perlukan pohon yang besar serta banyak pula, maka Unok memutuskan untuk memilih batang pohon besar yang ada di samping kolam ikan di tengah hutan. Dengan segera mulailah Unok menarik kuat batang pohon tersebut karena memang sangat besar dan berumur sangat tua. Unok hampir kehabisan tenaga namun terus menarik batang pohon tersebut, begitu kuatnya Unok menarik hingga batang pohon tersebut tercabut beserta dengan akar-akarnya yang mengurat dalam di tanah. Setelah batang pohon besar tadi berhasil di cabut oleh Unok maka ia membawanya dengan cara menyeret ke  tanah sampai ke tepi pantai Laut Aceh dan meneruskanya hingga menyeberangi lautan yang luas sehingga hampir mendekati Mekkah. Bekas akar pohon besar tadi yang tanahnya terbongkar sehingga membentuk lubang yang sangat besar serta sangat dalam, lama-kelamaan air kolam memenuhi lubang tersebut, airnya pun semakin hari semakin banyak hingga kolam tersebut berubah menjadi danau yang dikenal dengan nama Danau Laut Tawar dan kabarnya bekas batang pohon besar yang diseret Unok itu kini telah menjadi Arul (sungai) yang bernama sungai Peusangan yang mengalirkan air dari Danau Laut Tawar menuju pesisir Aceh saat ini.

Sumber : http://www.lintasgayo.com/33595/legenda-danau-laut-tawar.html

PULAU LOMBOK PANTAI SENGGIGI

Kabupaten Lombok Barat adalah sebuah kabupaten yang bila ditinjau dari

sektor kepariwisataannya cukup meyakinkan dengan mendapatkan kehormatan

sebagai Daerah Tujuan Wisata. Terletak sebelah Utara Laut Jawa, sebelah Selatan Samudera Indonesia, sebelah Barat Selat Lombok dan Kota Madya Mataram, sebelah Timur Kabupaten Lombok Tengah dan Kabupaten Lombok Timur, terbagi dalam 15 Kecamatan yaitu: Kecamatan Bayan, Kayangan, Gangga, Tanjung, Pemenang, Gunungsari, Batulayar, Lingsar, Narmada, Labuapi, Kediri, Kuripan, Gerung, Lembar, dan Sekotong Tengah. Sarana dan prasarana untuk menunjang kegiatan pariwisata di Kabupaten Lombok Barat, sudah cukup mendukung walaupun belum selengkap seperti yang ada di Bali

obyek penelitian Dinas Pariwisata Seni dan Budaya di Kabupaten Lombok barat, adapun alasan memilih Kabupaten Lombok Barat sebagai daerah penelitian, karena menganalisa fenomena atau obyek di sekitarnya. Keindahannya membuat para turis selalu ingin tahu di balik cerita Lombok mengisah kan kepulauan yang begitu luar biasa.

Pulau Lombok “The Siter of Bali” merupakan salah satu objek tujuan wisata yang terus berkembang dengan cepat belakangan ini. Lombok menyajikan tempat wisata yang indah. Tingkat wisatawan ke Lombok pun berkembang pesat dalam beberapa decade ini. Seperti kita ketahui Jika Pulau Bali dan Lombok banyak terdapat kemiripan. Oleh karena itu Wisata pulau Lombok tidaklah kalah jauh dengan wisata di Pulau Bali. tempatnya yang dilingkari oleh lautan menjadikan Lombok sebagai tempat favorit para wisatawan yang ingin menikmati keindahan laut. Berikut ini beberapa tujuan Wisata Pulau Lombok yang paling banyak diminati oleh para wisatawan

Wisata pulau lombok yang pertama yaitu Pantai senggigi. Senggigi merupakan objek pariwisata yang favorit di Lombok dan terdapat di sebelah barat Lombok. Pantai Senggigi tidaklah setenar Kuta Bali, namun jika kita berada di pantai senggigi ini, suasana yang rasakan seperti membawa kita seperti di Kuta, Bali. Dengan kondisi pantai yang masih asri merupakan daya pikat dari pantai senggigi untuk menarik para wisatawan.

Pantai Senggigi ini merupakan salahsatu dari sekian banyaknya tempat wisata di Lombok,Nusa Tenggara Barat yang tentunya bisa membuat wisatawan terpesona akan keindahan yang dimiliki oleh pantai ini. Pantai yang terletak di sebelah barat pesisir Pulau Lombok ini memang tak sebesar Pantai Kuta yang terdapat Bali.

Pemandangan yang terlihat di sekitar Pantai Senggigi Lombok ini masih begitu asri,Selain dari itu, pemandangan bawah lautnya pun sbegitu indah.Di pantai ini pengunjung bisa melakukan snorkling dengan sepuas hari, sebab ombak di Pantai ini tak begitu besar karena terumbu karang yang ada di pantai ini menjulang ketengah sehingga ombak besarnya pecah di tengah.

Pantai Senggigi ini terletak sekitar 12 kilometer di sebelah barat laut Kota Mataram,Dimana pantai merupakan tempat wisata yang cukup terkenal dengan keindahan dan kealamian pantainya.

 

Pemandangan yang terlihat di sekitar Pantai Senggigi Lombok ini masih begitu asri,Selain dari itu, pemandangan bawah lautnya pun sbegitu indah.Di pantai ini pengunjung bisa melakukan snorkling dengan sepuas hari, sebab ombak di Pantai ini tak begitu besar karena terumbu karang yang ada di pantai ini menjulang ketengah sehingga ombak besarnya pecah di tengah.

Pantai Senggigi ini terletak sekitar 12 kilometer di sebelah barat laut Kota Mataram,Dimana pantai merupakan tempat wisata yang cukup terkenal dengan keindahan dan kealamian pantainya.

Sumber : http://sev-old.blogspot.co.id/2012/06/artikel-pariwisata-candi-borobudur.html

 

KEINDAHAN GUNUNG BURNI TELONG TAKENGON

BURNI Telong adalah gunung berapi aktif yang terletak di Kabupaten Bener Meriah, sekitar 17 kilometer dari Takengon, Aceh Tengah. Ketinggiannya 2.624 meter di atas permukaan laut. Burni Telong termasuk dalam tipe gunung berapi strato.

Puncak Burni Telong dapat dicapai dari dua arah. Pertama dari lereng tenggara melalui Kampung Sentral. Bisa juga dari lereng barat daya melalui Bandar Lampahan. Umumnya para pendaki naik lewat lereng barat daya. Dibutuhkan waktu sekitar tiga hingga empat jam untuk mencapai puncak. Sebelum sampai ke pintu rimba, harus melalui kebun kopi dan tebu milik petani setempat.

Beberapa tumbuhan khas ada di Burni seperti anggrek hutan. Anggrek-anggrek ini bisa ditemui sebelum tiba di ladang edelwis. Hamparan edelwis terletak di lereng terjal sebelum tiba di puncak. Di ujung ladang edelwis ada sebuah gua kecil. Di sini juga bisa didapat tumbuhan kantong semar.

Di balik pesonanya, Gunung Burni Telong adalah gunung berapi Aktif dan pernah meletus pada Tanggal 7 Desember 1924 menyebabkan kerusakan hebat lingkungan sekitarnya termasuk lahan pertanian dan perkampungan.

Tinggi menjulang, wajahnya seringkali tidak terlihat tertutup kabut. Diam dengan segala keanggunan. Gunung yang satu ini telah menjadi icon kabupaten Bener Meriah, namanya adalah Burni Telong.

Burni Telong yang dalam bahasa Indonesia diartikan dengan gunung yang terbakar, berada di ketinggian 2.600 meter di atas permukaan laut. Gunung ini hanya berjarak lima kilometer dari Redelong, ibu kota Kabupaten Bener Meriah dan Bandar Udara Rembele (RBL). Gunung ini oleh masyarakat setempat disebut dengan Burni Cempege yang dalam bahasa Gayo mempunyai arti gunung yang penuh belerang.

Sekian lama tidak menunjukan aktivitasnya, Gunung ini dikabarkan akan meletus. Usut punya usut ternyata isu tersebut tidak benar. Isu tersebut mencuat beberapa saat setelah meletusnya gunung Sinabung di Brastagi di, Sumatera Utara. Isu tersebut tentu saja menimbulkan keresahan masyarakat.

Namun fakta akhirnya berbicara, setelah dilakukan penelitian dengan pengawasan yang seksama oleh petugas pengawasan Api di Kampung Kute Kering, Kecamatan Bukit, Bener Meriah, ternyata Burni Telong masih aktif normal dan belum terjadi peningkatan volkanik.

Syafi’ie, petugas Pengawas Gunung Api Burni Telong menjelaskan masyarakat tidak perlu takut dan tidak terpengaruh dengan isu-isu yang tidak benar “Kondisi Burni Telong masih biasa-biasa saja, karena dari hasil pengamatan kami tidak ada menunjukan perubahan yang berarti” kata Safi’e kepada wartawan.

Dari pemantauan para ahli, intensitas gempa vulkanik Burni Telong, masih cukup normal, tidak ada penambahan yang cukup berpengaruh. Selain itu, kondisi suhu air di seputar lingkungan Gunung Burni Telong seperti di kawasan Kampung Pante Raya dan Simpang Balik, Kecamatan Wih Pesam, juga tidak menunjukan perubahan. Demikian juga pengamatan visual, tidak menunjukkan perubahan fisik pada gunung tersebut. Pengawasan terhadap Gunung Burni Telong sendiri telah dilakukan sejak 1991 dan sepanjang kurun waktu 20 tahun terakhir belum ada reaksi peningkatan status.

 

Gunung Burni Telong sendiri bertipe A, sehingga pengawasan terus dilakukan selama 24 jam. Burni Telong termasuk dalam tiga gunung berapi yang bertipe A. atau aktif, yaitu gunung Seulawah Agam di kabupaten Aceh Besar, Gunung Peut Sagoe di kabupaten Pidie, dan gunung Burni Telong di Bener Meriah.

Seperti yang ditulis salah satu harian Terbitan Medan, Gunung Seulawah Agam adalah salah satu dari tiga gunung api strati aktif tipe A di Provinsi Aceh. Masa istirahat terpendek dari Gunung Seulawah Agam adalah 136 tahun dan terpanjang 239 tahun. Erupsi terakhir terjadi di kawah parasit pada 12-13 Januari 1839, di kawah Heutz berupa erupsi freatik.

Dari ketiga gunung berapi tipe A di Aceh, yang paling dikhawatirkan para ahli adalah gunung Burni Telong di Bener Meriah. Sebab, di kawasan gunung itu terdapat sebuah kota yang berada di dalam kawasan peta rawan bencana. Burni Telong memiliki puncak dengan ketinggian 2.624 meter di atas permukaan laut (dpl). Ini beda tipis dengan ketinggian Gunung Peuet Sagoe di Pidie, yakni 2.780 meter dpl.

Sedangkan Gunung Jaboi di Sabang, itu tipe C, menandakan gunung berapi itu erupsinya tidak diketahui dalam sejarah manusia, namun terdapat tanda-tanda kegiatan masa lampau, berupa lapangan solfatara atau fulmarola pada tingkat yang lemah.

Burni Telong terletak pada ketinggian 2.624 meter diatas permukaan laut, tipe strato memiliki lima kawah yang semuanya berada di puncak. Secara geografis terletak di 4 derajat 46 Lintang Utara dan 96 derajat 48.5 Bujur Timur. Sementara itu, Gunung Seulawah Agam memiliki ketinggian 1.726 meter dpl. Secara geologis, gunung tipe A menandakan gunung berapi itu pernah mengalami erupsi magmatik sekurang-kurangnya satu kali sesudah tahun 1600.

Berdasarkan data yang ada seperti yang ditulis oleh Neuman Van Padang (1951), Burni Telong pernah meningkat kegiatannya atau meletus pada tahun 1837, pada akhir September tahun itu, terjadi beberapa letusan dan gempa bumi yang menyebabkan banyak kerusakan, Neuman van Padang (1951) menganggap sebagai letusan normal kawah pusat.

Beberapa tahun kemudian pada 1839 terjadi letusan pada tanggal 12 hingga 13 Januari dengan abu letusan mencapai pulau Weh. Pada tahun 14 April 1846 terjadi letusan dari kawah pusat selanjutnya ia juga menulis bahwa dibulan Desember pada tahun 1919 terjadi letusan normal dari kawah pusat, dan terakhir pada tahun 1924 pada tanggal 7 Desember tahun itu, Nampak 5 buah tiang asap tanpa diikuti suatu letusan.

Secara Morfologi seperti yang ditulis oleh Zulfikar Arma dalam blognya,www.gayoaceh.wordpress.comdalam tulisan berjudul Gunung Berapi Di Aceh, ia menulis Gunung ini, berkembang bebas ke arah selatan, tenggara dan barat daya, meskipun ke arah selatan sedikit terhalang oleh adanya bukit-bukit kecil di bagian lerengnya. Hal ini karena ke arah utara dan timur pertumbuhann tubuh Bur Ni Telong terhalang oleh komplek gunung Geurodong, Leui Kucak dan gunung Panji.

Pola aliran sungainya dipengaruhi oleh morfologi yang membentuknya, sebagian dari aliran sungai yang berada di sekitar puncak menunjukan suatu daerah tangkapan berpola aliran radier dan semi dendritik, namun ke arah hilir berubah menjadi pararel.

Daerah puncak Burni Telong mempunyai morfologi berrelief kasar terdiri dari sisa sisa kerucut dan kubah lava yang sebagian terhancurkan oleh erupsi pada waktu lampau sehingga bila dilihat dari kejauhan nampak bergerigi. Daerah puncak dan lereng aatas ini mempunyai sudut lereng yang terjal 35 dan berdasarkan titik aktivitas saat ini kaeah Burni Telong terbuka ke arah barat daya. Adapun bekas kawah yang terdapat di sebelah tenggara saat ini tidak menunjukan aktivitasnya.

Burni Telong merupakan gunung api termuda pada komplek gunung api tua Pepanji, Geurodong dan Salah Nama. Batuan yang mendasarinya berupa batuan sedimen/meta sedimen (sedimen tersier). Erupsi gunung api pertama yang terjadi pada komplek gunungapi ini adalah gunung . Salah Nama, setelah kegiatan ini berakhir terjadi erupsi di gunung Geurodong yang mengakibatkan terbentuknya kaldera dengan bukaan relatif utara-selatan.

Selanjutnya lokasi kegiatan gunungapi kembali berpindah ke gunung Pepanji yang mengakibatkan terbentuknya kawah di puncak yang terisi air (danau). Setelah aktivitas gunung Pepanji berakhir, kegiatan mulai berlangsung di Bur Ni Telong, produk letusan berupa aliran piroklastik, lava dan jatuhan piroklastik. Kegiatan yang terus berlangsung hingga sekarang adalah pembentukan endapan sungai berupa alluvium. Dengan Batuan tertua batuan sedimen, yang sebagian besar telah terubah menjadi kwarsit, batu tanduk dan meta gamping yang merupakan batuan dasar (basement) dari batuan vulkanik.

Burni Telong merupakan gunung api termuda yang terdapat di dalam suatu komplek gunung api tua yang terdiri dari gunung Salah Nama, Geureudong dan gunung Pepanji. Penyebaran produk letusan gunung Burni Telong sebagian besar ke arah selatan, tenggara dan barat daya, terdiri dari : aliran piroklastik (awan panas), jatuah piroklastik dan lava.

Sebagian besar lava tersingkap di daerah puncak dan di lereng barat dan selatan bagian atas dengan komposisi andesitic dan dasitik. Pada umumnya lava di bagian lereng bersifat andesitik sedangkan di daerah puncak (kawah) umumnya dasitik (Suhadi dkk, 1994). Aliran piroklastik mempunyai sebaran yang cukup luas di sekitar lereng terutama di bagian baratdaya, adapun jatuhan piroklastik tersingkap di lereng selatan dan baratdaya umumnya menumpang diatas aliran piroklastika. Meskipun kegiatan Burni Telong saat ini hanya menempakan fumarola yang berasap tipis dan lemah , namun bukan berarti bahwa gunung tersebut tidaak berbahaya dan tidak akan meletus kembali.

Kawasan rawan bencana Burni Telong dapat dibagi dalam dua tingkatan yaitu, Kawasan Rawan Bencana, Kawasan Rawan Bencana. Kawasan Rawan Bencana II adalah kawasan yang berpotensi terlanda awan panas, aliran lava, lontaran atau guguran batu (pijar), hujan abu lebat, hujan Lumpur (panas), aliran lahar dan gas beracun. Kawasan rawan bencana II ini dibedakan menjadi dua yaitu, Kawasan Rawan Bencana terhadap aliran masa berupa awan panas, aliran lava dan aliran lahar Kawasan rawan bencana terhadap material lontaran dan jatuhan seperti lontaran batu (pijar), hujan abu lebat dan hujan lumpur (panas).

Diperkirakan gunung ini, tidak akan menghasilkan guguran batu (pijar), hujan Lumpur (panas) maupun gas beracun, karena ketiga jenis produk gunungapi ini sering tergantung pada karakteristik gunungapi tersebut, yang mana berdasarkan sejarah letusannya ketiga jenis produk tersebut tidak tercatat.

Kawasan Rawan Bencana I adalah rawan bencana yang paling berbahaya, kawasan yang berpotensi terlanda lahar dan banjir dan tidak menutup kemungkinan dapat terkena perluasan awan panas dan aliran lava. Kawasan ini dibedakan menjadi dua, yaitu, Kawasan rawan bencana terhadap aliran ma berupa lahar dan banjir dan kemungkinan perluasan awan panas dan aliran lava. Kawasan ini terletak di dekat lembah atau bagian hilir sungai yang berhulu di daerah puncak, Kawasan rawan bencana terhadap jatuhan berupa hujan abu tanpa memperhatikan arah tiupan angin dan kemungkinan dapat terkene lontaran abtu (pijar).

Ada tiga parameter yang selalu diamati dari gunung api aktif ini, seperti kegempaan, visualisasi dan pengukuran suhu air panas yang memakai thermokopel. Berbagai parameter pengamatan gunung api Burni Telong.

Saat ini, hasil pemantau Burni Telong setiap hari dilaporkan kepusat vulkanologi di Bandung, Jabar dengan menggunakan radio SSB (single side band).“Melihat fenomena Gunung Sinabung di Sumut yang bertipe-B, kini telah berubah secara otomatis setelah meletus ke tipe-A, seperti yang terjadi pada Gunung Anak Ranakah di NTT. Pengawasan gunung api di Aceh tidak boleh lalai,”kata salah seorang pengawasan Burni Telong bernama Sulaiman seperti yang dikutip oleh wartawan.

Disebutkan, saat ini pengetahuan masyarakat Bener Meriah terhadap pemahaman aktifnya Burni Telong masih sangat rendah, sehingga perlu adanya sosialisasi terhadap kemungkinan yang terjadi, terutama kawasan yang berdekatan langsung dengan gunung itu. “Harus ada antisipasi melalui berbagai sosialisasi tentang berbagai kemungkinan yang terjadi pada Burni Telong, termasuk kesiapan warga jika gunung ini meletus, sehingga dapat mengurangi resiko dan korban,” ujarnya.

Salah satu indikasi rendahnya pemahaman terhadap Burni Telong ditandai dengan dibangunnya berbagai fasilitas perkantoran, Bandara Rembele, Mako Polres Bener Meriah, dan Batalyon 114 Pedang Sakti di Bener Meriah, karena masih masuk kawasan rawan bencana gunung api, seperti yang ditulis oleh kantor berita Antara.

Saat ini, Burni Telong acapkali di daki oleh para pencinta Alam. Gunung ini bahkan namanya terkenal sampai ke Negeri Tetangga seperti Malaysia, pada Bulan Juli 2009 tiga puluh orang pendaki dari Malaysia yang tergabung dalam Orang Gunung Kuala Lumpur (OGKL) pernah menjajaki gunung Burni Telong.

Untuk mencapai gunung yang sering disebut ada beberapa jalur. Salah satunya, melalui Jalur Edelwais. Dinamakan Edelwais karena di sepanjang jalur itu ditumbuhi bunga Edelwais yang oleh masyarakat Gayo dipercayai sebagai bunga abadi. Jalur ini diawali dengan jalan aspal mulai dari simpang jalan utama Takengon-Bireun sampai ke lereng Burni Telong tepatnya di desa Bandar Lampahan Kecamatan Timang Gajah yang berjarak 3 km.

Bila mau melakukan Pendakian sebaiknya berkonsultasi dulu dengan pemuda-pemuda setempat atau mengajak satu dua orang dari mereka turut serta, kecuali anda sudah mengenal betul medan dan jalur pendakian Gunung Burni Telong. Kondisi lapangan untuk mencapai ke ketinggian puncak memang agak terjal. Tapi, jalur dari Bandar Lampahan menuju lereng gunung merupakan pilihan favorit para pecinta alam atau pendaki gunung.

Di sepanjang rute tersebut mempunyai medan terjal, yang sering digunakan pendaki sebagai tempat menginap bila ingin bermalam untuk beberapa hari. Di ketingian Burni Telong, hamparan pohon pinus memanjakan mata. Dari gunung ini juga mengalir air panas yang kemudian dijadikan pemandian air panas di Kecamatan Wih Pesam, Lampahan.

Wakil Gubernur Aceh, Muhammad Nazar pernah mengingatkan semua pihak agar tak lengah mengawasi dan meneliti tingkat kerawanan semua gunung api yang ada di Aceh. “Meningkatnya intensitas bencana di Sumatera, termasuk Aceh, harus membuat kita semakin tanggap terhadap kondisi alam dan giat melakukan penelitian, seperti meneliti gunung berapi dan lainnya.” Ujarnya kepada Media.

Agaknya, apa yang dikatakan oleh Nazar ada benarnya. Bagaimanapun semua pihak terutama pemerintah kabupaten agar menyiapkan langkah antisipasi kalau-kalau gunung ini meletus. Artinya harus ada system yang dibuat secara jelas seandainya terjadi bencana.

Selain itu, tentu masyarakat sendiri harus mengetahui cara menghindar dan menyelamatkan diri dengan bantuan arahan dan pelatihan yang dilakukan oleh pihak terkait, terutama bagi pihak-pihak terkait dalam hal ini. Terakhir tentu saja sebagai umat beragama, sebagai seorang muslim memanjatkan doa, agar gunung Berapi menjadi berkah bukan sebaliknya menjadi bencana kepada masyarakat sekitar sebagai bentuk hukuman Tuhan karena telah durhaka kepada sang Penciptanya.

Sumber : AtjehPost.com | LintasGayo.com ( http://acehtourismagency.blogspot.co.id/2012/09/keindahan-gunung-burni-telong-takengon.html )

 

SERPIHAN SURGA DI BUKIT SOEHARTO

Siapa yang tidak suka jalan-jalan. Apalagi jika sedang mengalami permasalahan, baik di kantor, rumah, atau hubungan percintaan anda. Rasanya banyak yang ingin menghabiskan waktunya di tempat-tempat yang menyenangkan. konon obat yang paling ampuh untuk menghilangkan stres dan depresi adalah liburan, yaitu dengan jalan-jalan kesuatu tempat.

Liburan itu tidak mesti mahal. Banyak tempat-tempat menarik yang bisa anda kunjungi dan terhitung murah, bahkan murah sekali. Karena bahagia itu tidak berarti harus membayar mahal bukan?,

Jika anda suka jalan-jalan yang tidak memerlukan terlalu banyak budget, anda bisa pergi ke pantai dengan pasir-pasir yang indah, gunung dengan petualangan yang hebat, atau bahkan menelusuri sejarah kota anda. Murah, meriah, dan mudah. Anda juga bisa bertualang ke tempat-tempat yang jarang orang mengunjunginya, jika beruntung anda akan mendapatkan tempat rahasia yang menakjubkan. Dan menjadikan tempat itu sebagai ‘Private place’.

Apakah anda pernah ke Banda Aceh?, Ibu Kota Provinsi yang terletak paling barat Indonesia. Nanggroe Aceh Darussalam. Di provinsi ini juga terdapat tugu 0 KM. Tempat dimana garis batas wilayah Indonesia berada.

Jika mendengar Aceh, hampir semua bisa membayangkan kota dengan keistimewaan syari’at Islamnya. Sebagaimana dikatakan aceh adalah tempat dimana “wisata Islami” yang menjadi kebanggaan masyarakat. Tempat wisata di Banda Aceh cukup banyak. Mulai dari wisata sejarah seperti; musium, Kerkrof (Kuburan belanda), Taman Putro Phang (tempat pemandian putri raja Aceh, Sultan Iskandar Muda). Wisata alam, seperti pantai lampuuk, pantai Lhoknga, Mata Ie, dan wisata Islami seperti Masjid Raya, serta berbagai kebudayaan masyarakat setempat yang pantas untuk dilirik.

Kota ini juga dikenal dengan bencana dahsyatnya, yaitu Tsunami. Yang telah menelan korban ribuan orang, dan meruntuhkan banyak bangunan-bangunan pada 2004 yang lalu.

Musium Tsunami adalah tempat yang cocok untuk berwisata sejarah tsunami aceh.

Semua tempat wisata yang saya sebutkan di atas, rasanya sudah tidak asing lagi anda dengar. Bahkan mungkin untuk anda yang tinggal di seputar Banda Aceh, atau sering mengunjungi Aceh sudah sering melihatnya bahkan beberapa kali mengunjunginya. Kali ini saya ingin berbagi cerita tentang perjalanan saya yang mungkin masih banyak orang Banda Aceh sendiri yang belum berkunjung ke tempat ini.

Bukit Soeharto !, mungkin anda pernah mendengarnya, bahkan sudah pernah berkunjung. Daerah ini terletak ± 30 KM dari kota Banda Aceh dan termasuk wilayah Krueng Raya, Aceh Besar. Terdapat banyak tempat yang pantas anda kunjungi juga disini, yaitu Makam Malahayati, Pantai Pasir Putih, Pabrik Semen Andalas, dan Bukit Soeharto itu sendiri.

Bukit ini dikelilingi rerumputan dengan pepohonon yang terhitung jarang-jarang. Didominasi pohon jambu kleng, buah kecil seperti anggur yang banyak dijual di sepanjang jalan darussalam. Rasanya sedikit kesat, dicampur dengan bumbu cabe dan plik aceh. khas sekali.

Pundukan-pundukan bukit terlihat disepanjang jalan. Rasanya membuat saya tidak sabar untuk mengabadikannya. Biasanya bukit-bukit ini diselimuti dengan rumput-rumput hijau dan hewan-hewan peliharaan seperti kambing dan sapi.

Kali ini Bukit Soeharto terlihat berbeda. Rumput-rumput berubah menjadi warna coklat, kering. Cuaca memang cukup panas akhir-akhir ini. Namun pemandangan ini membuat saya dan teman takjub.

Walaupun panas terik, tapi sudah cukup terbayar dengan pemandangnya. Suasana yang beda menambah keunikan bukit itu. Jika tidak berlebihan, rasanya saya merasakan sedang berada di gundukan-gundukan coklat raksasa. Dengan sapi-sapi yang terlihat seperti rerumputan di kejauhan. Sama-sama berwarna coklat. Belum lagi ditambah pemandangan laut yang indah, seperti kami berada di serpihan surga yang sudah lama hilang.

Tidak jauh kami memasuki bukit soeharto, kami melihat di kejauhan ada pantai dengan biru jernih airnya, dan tebing-tebing yang terlihat serasi. Menambah keindahan. Rasanya belum pernah kami ke sana dan melihatnya. Kami pun tertarik untuk sedikit menjelajah tempat yang tersembunyi tersebut. Sepertinya menarik untuk diabadikan.

Terlihat jalan setapak membelah rerumputan yang kering coklat itu, kami pun langsung memasuki lokasi tersebut. Dengan berbekal ke-sok-tahuan kami, sepertinya menembus bukit-bukit ini bukan hal yang sulit. Namun sayang ternyata itu tidak semudah yang kami kira. Jalan yang kecil, ditambah batu-batu karang yang tajam ternyata membuat perjalanan menjadi lebih menyeramkan. Belum lagi jalan itu ternyata buntu. Sungguh sial. Tapi, untungnya kami berpuasa. Jadi harus sabar. Hehe

Di ujung jalan yang di pagar oleh sang pemilik glee (kebun). Kami terus berpikir bagaimana caranya bisa menembus bukit-bukit ini menuju tempat tujuan. Dan akhirnya kami menemukan petunjuk yang saya pikir masuk akal. Jalan-jalan setapak lainnya, terlihat di kejauhan menuju tempat yang kami maksud.

Tidak lama kami berbalik arah, sekitar 10 meter kami mendapati seorang warga yang sedang berteduh di pepohohan rindang bersama anaknya. Sepertinya dia sedang istirahat setelah memetik buah jambu kling yang mungkin akan mereka jual. Setelah puas mencari petunjuk, langsung saja kami menuju tempat yang disarankan oleh sang bapak.

“tamong aju, jalan nyan jeut chit. Jalan jak ke u glee” (masuk aja, jalan ini bisa juga. Jalan ke kebun). Katanya sambil menunjuk ke arah jalan.

Seru memang, naik bukit, turun bukit. Jalanan terjal, batu tajam. Lengkap sudah. Ditambah dengan haus yang semakin terasa.

Sekitar 4 KM menempuh perjalanan yang terhitung sulit. Akhirnya kami dibuat tercengang setelah melihat jalan kembali buntu. Pagar menghentikan perjalanan. Tapi ini sudah terlanjur jauh. Kami pun tidak berpikir panjang untuk membuka pintu jalan dengan ucapan “Assalamualaikum” dan “Bismillahirahmanirahim”. Berharap pemilik tidak memarahi kami yang sudah tanpa ijin masuk dipekaranganya.

Jalanan semakin kecil dan terjal. Membuat teman saya harus jalan kaki beberapa meter. Kami berharap, setelah bukit ini langsung bisa terlihat tempat yang membawa kami se-nekat ini.

Benar saja, akhirnya dari kejauhan terlihat pantai dengan air biru yang kami maksud. Tebing yang kami lihat sebelumnya terlihat lebih indah dari jarak yang semakin dekat.

Dari bukit kami berdiri saat ini juga terlihat pondok kecil. Terkadang kami berpikir sedang berada di Indonesia bagiat timur, seperti NTT, atau Irian. Tapi tidaklah, inikan Aceh. pastinya juga memiliki keindahan alam yang tidak kalah dengan wilayah lain.

Beberapa sepeda motor yang parkir di dekat pondok sempat membuat kami risau. Ternyata mereka juga pengunjung yang sedang memancing di tempat itu. Syukurlah, jika itu pemiliknya pasti kami sempat diintrogasi.

Perjalanan yang panjang disertai panas, membuat kami sesekali berpikir dan bercanda untuk mengakhiri puasa.

Akhirnya terbalas sudah. Ternyata ini serpihan surga itu. Sambil menikmati pemandangan dan mengabadikan beberapa foto, saya pikir tempat ini layak untuk menjadi destinasi tujuan anda jika berkunjung ke Banda Aceh dan Aceh Besar.

 

Sumber : http://kukuh-pamuji.blogspot.co.id/2012/08/serpihan-surga-di-bukit-soeharto.html

 

 

 

SEJARAH SINGKAT CUT NYAK DHIEN

Cut Nyak Dien lahir pada tahun 1848 dari keluarga bangsawan Aceh. Dari garis ayahnya, Cut Nyak Dien merupakan keturunan langsung Sultan Aceh. Ia menikah dengan Teuku Ibrahim Lamnga pada usia masih belia tahun 1862 dan memiliki seorang anak laki-laki.

Ketika Perang Aceh meluas tahun 1873, Cut Nyak Dien memimpin perang di garis depan, melawan Belanda yang mempunyai persenjataan lebih lengkap. Setelah bertahun-tahun bertempur, pasukannya terdesak dan memutuskan untuk mengungsi ke daerah yang lebih terpencil. Dalam pertempuran di Sela Glee Tarun, Teuku Ibrahim gugur.

Kendati demikian, Cut Nyak Dien melanjutkan perjuangan dengan semangat berapi-api. Kebetulan saat upacara penguburan suaminya, ia bertemu dengan Teuku Umar yang kemudian menjadi suami sekaligus rekan perjuangan.

Bersama, mereka membangun kembali kekuatan dan menghancurkan markas Belanda di sejumlah tempat. Namun, ujian berat kembali dirasa ketika pada 11 Februari 1899, Teuku Umar gugur. Sementara itu, Belanda –yang tahu pasukan Cut Nyak Dien melemah dan hanya bisa menghindar– terus melakukan tekanan.

Akibatnya, kondisi fisik dan kesehatan Cut Nyak Dien menurun, namun pertempuran tetap ia lakukan. Melihat kondisi seperti itu, panglima perangnya, Pang Laot Ali, menawarkan menyerahkan diri ke Belanda. Tapi Cut Nyak Dien malah marah dan menegaskan untuk terus bertempur.

Akhirnya Cut Nyak Dien berhasil ditangkap dan untuk menghindari pengaruhnya terhadap masyarakat Aceh, ia diasingkan ke Pulau Jawa, tepatnya ke Sumedang, Jawa Barat. Di tempat pengasingannya, Cut Nyak Dien yang sudah renta dan mengalami gangguan penglihatan, mengajar agama. Ia tetap merahasiakan jati diri sampai akhir hayatnya.

Ia wafat pada 6 November 1908 dan dimakamkan di Sumedang. Makamnya baru diketahui secara pasti pada tahun 1960 kala Pemda Aceh sengaja melakukan penelusuran. Perjuangan Cut Nyak Dien membuat seorang penulis Belanda, Ny Szekly Lulof, kagum dan menggelarinya “Ratu Aceh”.

(Agustinus Winardi. Sumber: angkasa.co.id)

KISAH SULTAN ISKANDAR MUDA DAN SERIBU PASUKAN GAJAH

Sultan Iskandar Muda merupakan raja Aceh yang terkenal karena di zamannya dari 1607 sampai 1636 Kerajaan Aceh Darussalam mencapai puncak kejayaannya.

Iskandar Muda adalah keturunan dari Raja Darul-Kamal, dan dari pihak leluhur ayah merupakan keturunan dari keluarga Raja Makota Alam. Darul-Kamal dan Makota Alam  dahulunya merupakan dua tempat pemukiman bertetangga.

Ibunya bernama Putri Raja Indra Bangsa, adalah anak dari Sultan Alauddin Riayat Syah, Sultan Aceh ke-10.

Ketika Iskanda Muda berumur empat tahun, kakeknya memberinya gajah mas dan kuda mas untuk permainan, dua biri-biri yang dapat bertarung, lalu gasing dan panta (gatok) dari emas atau dari suasa.

Ketika berumur lima tahun, kakeknya memberinya anak gajah bernama Indra Jaya sebagai teman bermain. Umur tujuh tahun, dia sudah berburu gajah liar.

Saat itu, gajah liar diburu bukan untuk dibunuh kemudian diambil gadingnya, tetapi untuk dijinakkan. Setelah jinak, gajah terbaik dan terbesar dijadikan gajah sultan, sedangkan sisanya untuk armada perang.

Dan ketika Iskandar Muda sudah menjadi raja, dia memiliki kemampuan terbaik dalam menjinakkan dan memperlakukan gajah. Gajah pun menjadi tunggangan kebanggaan Sang Sultan. Jika sultan mengendarai gajah, bawahannya harus mengendarai kuda, begitu sebaliknya.

Sejak kecil Iskandar Muda juga sudah diperdengarkan kegemilangan kisah hidup Iskandar Zulkarnain yang juga memiliki tentara bergajah oleh Laksamana Keumala Hayati panglima pasukan inong balee.

Tak heran di kemudian hari Raja Iskandar Muda mempunyai prajurit kavaleri bergajah yang jumlahnya mencapai 1.000 pasukan. Pasukan gajah ini digunakan untuk melengkapi infanteri, pasukan berkuda dan persenjataan artileri meriam yang dimiliki Sultan Iskandar Muda.

Aceh Darussalam pada waktu itu merupakan satu-satunya kerajaan di Nusantara yang memiliki pasukan 1.000 gajah. Gajah-gajah tersebut selain digunakan untuk armada perang juga untuk penyambutan tamu.

Gajah-gajah tersebut juga digunakan Sultan Iskandar Muda untuk membentengi istananya. Ratusan gajah-gajah tersebut dilatih untuk menghancurkan dan berperang sehingga tak takut suara senapan.

Iskandar Muda yang sangat menyayangi binatang ini memberikan nama kepada masing-masing gajah. Dia juga sangat menghormati gajah yang menurutnya paling berani dan paling terlatih.

Bahkan saking sayangnya dia dengan gajah, diceritakan pula ketika gajah-gajah itu berjalan-jalan di luar, dia akan memerintahkan anak buahnya untuk membawakan payung bagi mereka.

Gajah perang biasanya ditempatkan di tengah barisan, tempat mereka dimanfaatkan untuk menahan serangan musuh atau untuk melakukan serangan terhadap pasukan lawan.

 

Ukurannya yang besar dan penampilannya yang menakutkan menjadikan gajah sebagai kavaleri berat yang cukup berguna. Di luar medan tempur, gajah berguna untuk membawa perlengkapan perang yang berat.

Serangan gajah bisa mencapai kecepatan sekitar 30 km/jam (20 mil/jam). Tidak seperti kavaleri kuda, gajah tidak dapat dihentikan dengan mudah oleh infantri.

Serangan gajah dilakukan murni dengan kekuatan. Gajah menyerang barisan depan musuh dan menginjak-injak prajurit musuh sambil mengayun-ayunkan belalainya. Prajurit yang tak terinjak biasanya akan terlempar. Selain itu, gajah bisa memicu ketakutan pada pasukan yang tidak terbiasa bertempur melawan gajah.

Teror yang disebabkan oleh gajah akan membuat barisan pertahanan musuh menjadi pecah dan buyar. Kuda yang tidak terbiasa dengan bau gajah juga bisa langsung panik jika berhadapan dengan pasukan gajah.

Selain untuk penyerangan, gajah juga menyediakan tempat yang aman dan stabil bagi pemanah untuk menembakkan panahnya di medan pertempuran.

Gajah-gajah tersebut juga digunakan Sultan Iskandar Muda untuk menaklukan beberapa wilayah di Sumatera dan semenanjung Malaya. Bahkan juga pernah digunakan untuk menggempur Portugis di Malaka.

Hingga perang kemerdekaan pasukan bergajah di Aceh masih digunakan oleh pasukan KNIL. Sekarang gambar gajah putih (Gajah Puteh) dijadikan simbol Kodam Iskandar Muda.

Sumber :

TAMAN PUTRO PHANG, SAKSI SEJARAH KEBESARAN KERAJAAN ACEH

Berwisata memang sudah menjadi kebutuhan bagi masyarakat untuk melepas penat dari rutinitas sehari-hari. Namun, bagaimana kalau musim paceklik alias belum gajian? Akankah harus mengurung niatnya untuk berwisata? Tentu jawabannya tidak.

Kini Aceh memiliki objek wisata alternatif yang juga bisa menghilangkan penat di akhir pekan, yaitu Taman Putroe Phang. Taman ini bisa menjadi objek alternatif untuk menghabiskan waktu senggang bersama keluarga.

Letaknya terbilang sangat mudah dijangkau karena berada di tengah-tengah kota Banda Aceh, bersebelahan dengan Kerkhof, kuburan prajurit Belanda yang tewas di Aceh.

Taman Putroe Phang kini memang sudah ditata dengan rapi oleh Pemerintah Kota Banda Aceh. Wisatawan berkunjung ke taman ini, tidak hanya sekedar berwisata, tetapi juga menjadi wisata sejarah.

Taman Putroe Phang memiliki sejarah hubungan erat antara Aceh dan Malaysia pada saat kepemimpinan Sultan Iskandar Muda (1607-1636). Namun, saat Belanda masuk ke Aceh, banyak bangunan hancur saat peperangan terjadi di Aceh.

Sekarang, taman ini tidak hanya dikunjungi oleh wisatawan lokal. Akan tetapi dikunjungi juga oleh wisatawan mancanegara, terutama warga Malaysia yang ingin menyaksikan langsung taman yang memiliki hubungan antara Aceh dan Malaysia.

Apa lagi di akhir pekan, Taman Putoe Phang selalu saja ada pertunjukan seni. Baik seni musik, seni tari dan sejumlah kreativitas seni lainnya yang dipentaskan oleh anak-anak muda di Banda Aceh. Tentunya hal itu bakal semakin menarik banyak wisatawan berkunjung di taman ini.

Dari taman inilah mengukir sejarah hubungan erat antara Kerajaan Aceh dengan Pahang, Malaysia saat Aceh dipimpin oleh Sultan Iskandar Muda. Hingga kini masih bisa terlihat jelas bukti sejarah taman yang dibangun Sultan Iskandar Muda khusus untuk permaisuri kesayanganya Putroe Phang.

Putroe Phang (Putri Kamilah) berasal dari Pahang Malaysia yang dipersunting menjadi permaisuri raja kala itu. Sangking sayangnya Iskandar Muda pada Putri Kamilah, hingga dibangunlah taman ini agar Putroe Phang tidak kesepian saat ditinggalkan olehnya di istana.

Dalam taman Putroe Phang terdapat Pintoe Khop, ini menghubungkan langsung dengan istana dengan taman berbentuk kubah. Di bawahnya mengalir air yang dijadikan tempat mandi permaisuri saat itu. Anak sungai itu sekarang diberi nama dengan Krueng Daroy.

Sedangkan Pintoe Khop yang dibangun digunakan tempat beristirahat Putroe Phang selepas mandi di Krueng Daroy. Bersama dengan dayang-dayang membasuh rambut permaisuri sembari keramas dan mandi air bunga.

Putoe Phang sendiri memiliki kecakapan dalam menyelesaikan persoalan. Bijaksana dalam setiap memberikan masukan untuk raja. Hingga Putroe Phang selain menjadi permaisuri kesayangan raja, juga diangkat menjadi penasehat raja.

Karena Putroe Phang selalu cakap dalam menyelesaikan sengketa di tengah-tengah masyarakat. Masyarakat pun kerap meminta masukan untuk menyelesaikan berbagaimacam sengketa hukum pada masyarakat.

Seorang wisatawan asal Malaysia yang berkunjung ke Aceh sengaja menyempatkan diri untuk berkunjung ke Taman Putroe Phang. Kunjungan mereka ke Aceh selain dalam rangka berlibur, mereka juga ingin mengetahui sejarah hubungan antara Malaysia dengan Aceh.

“Selain dalam rangka berlibur, kami juga ingin mengetahui sejarah tentang Putri Pahang dengan Sultan Aceh,” ujar Puan Azizah (45) pekan lalu.

Menurutnya, Aceh memang memiliki ikatan dengan Malaysia sejak zaman kesultanan dulu. Istri Sultan Iskandar Muda merupakan seorang putri dari Pahang, Ketika sang Sultan mangkat, jasadnya dikuburkan di pekuburan yang terletak di antara Museum Rumoh Aceh dan Gedoeng Juang di depan Pendopo. Sedangkan makam Putroe Phang sendiri hingga kini belum diketahui keberadaanya.

Sumber : https://www.merdeka.com/peristiwa/taman-putroe-phang-saksi-sejarah-kebesaran-kerajaan-aceh.html

 

“KAPAL DI ATAS RUMAH” KAPAL PENYELAMAT 59 ORANG

Bencana Tsunami Aceh pada tanggal 26 Desember 2004 yang lalu membawa kapal seberat 20 ton ini tersangkut di atas rumah penduduk di kawasan gampong Lampulo, tepatnya di atas rumah keluarga Misbah dan Abassiah. Kapal dengan panjang 25 meter dan lebar 5,5 meter ini terbuat dari kayu. Bagian bawah kapal dicat warna hitam, sedangkan badan kapal tampak telah dicat kembali dengan cat minyak berwarna perak. Beberapa bagian di dinding kapal terlihat mulai lapuk dimakan usia. Bagi para pengunjung keberadaan kapal ini  tentu saja akan mengingatkan pada kekuasaan Sang Pencipta.

Untuk memudahkan pengunjung melihat bagian atas kapal, dibangun tangga datar setinggi lima meter. Seluruh bangunan ini berwarna abu-abu. Dari atas sini kita dapat dengan leluasa melihat bagian dalam kapal dan juga rumah-rumah penduduk di sekitarnya.

Di bawah kita akan menemukan sebuah plakat dalam tiga bahasa; Aceh, Indonesia dan Inggris. Plakat ini dirancang oleh tim Bustanussalatin dan bantuan recovery Aceh-Nias Trust Fund BRR. Di atas plakat ada tulisan “Kapal ini dihempas oleh gelombang tsunami pada tanggal 26 Desember 2004 hingga tersangkut di rumah ini. Kapal ini menjadi bukti penting betapa dahsyatnya musibah tsunami tersebut. Berkat kapal ini 59 orang terselamatkan pada kejadian itu”.

Untuk mencapai objek wisata ini tidaklah sulit, letaknya berdekatan dengan kantor Puskesmas Lampulo, persis di belakang sekolah dasar (SD) 65 Coca Cola Banda Aceh. Akses ke sana juga mudah, bisa menggunakan sepeda motor atau naik becak dengan tarif tiga ribu rupiah per kilometernya.

 

 

MUSEUM TSUNAMI ACEH, KEMEGAHANNYA YANG MENYIMPAN PILU

Museum Tsunami Aceh terletak di pusat kota Banda Aceh, tidak jauh dengan Masjid Raya Baiturrahman yang kami kunjungi sebelumnya. Museum Tsunami Aceh adalah sebuah museum untuk mengenang kembali pristiwa tsunami yang maha dahysat yang menimpa Nanggroe Aceh Darussalam pada tanggal 26 Desember 2004 yang menelan korban lebih kurang 240,000 0rang.

Gedung Museum Tsunami Aceh dibangun atas prakarsa beberapa lembaga yang sekaligus merangkap panitia. Di antaranya Badan Rehabilitasi dan Rekonstruksi (BRR) NAD-Nias sebagai penyandang anggaran bangunan, Departemen Energi dan Sumber Daya Mineral (DESDM) sebagai penyandang anggaran perencanaan, studi isi dan penyediaan koleksi museum dan pedoman pengelolaan museum), Pemerintah Nanggroe Aceh Darussalam (NAD) sebagai penyedia lahan dan pengelola museum, Pemerintah Kotamadya Banda Aceh sebagai penyedia sarana dan prasarana lingkungan museum dan Ikatan Arsitek Indonesia (IAI) cabang NAD yang membantu penyelenggaraan sayembara prarencana museum.

Selebaran Sayembara Museum Tsunami Aceh

Adapun fungsi Museum Tsunami Aceh ini adalah : 1. Sebagai objek sejarah, dimana museum tsunami akan menjadi pusat penelitian dan pembelajaran tentang bencana tsunami. 2. Sebagai simbol kekuatan masyarakat Aceh dalam menghadapi bencana tsunami. 3. Sebagai warisan kepada generasi mendatang di Aceh dalam bentuk pesan bahwa di daerahnya pernah terjadi tsunami. 4. Untuk mengingatkan bahaya bencana gempa bumi dan tsunami yang mengancam wilayah Indonesia. Hal ini disebabkan Indonesia terletak di “Cincin Api” Pasifik, sabuk gunung berapi, dan jalur yang mengelilingi Basin Pasifik. Wilayah cincin api merupakan daerah yang sering diterjang gempa bumi yang dapat memicu tsunami.

Sumber : http://www.travellers.web.id/indonesia/aceh/aceh-tsunami-museum/

PEMBUKAAN ACEH POLICE EXPO 2017

Aceh Police Expo 2017 dalam rangka Hari Ulang Tahun Bhayangkara ke 71 di lapangan Blang Padang resmi dibuka oleh Gubernur Aceh, Irwandi Yusuf, Sabtu (08/07 malam.

Pembukaan Aceh Police Expo tersebut ditandai dengan pengguntingan pita oleh Gubernur Aceh, Irwandi Yusuf bersama Kapolda Aceh, Irjen Pol. Rio Septianda Djambak serta unsur Forkopimda lainnya.

Dalam sambutannya Kapolda Aceh, Irjen Pol. Rio Septinada Djambak mengatakan, peringatan Hari Bhayangkara merupakan kegiatan yang sakral, sehubungan dengan hal tersebut, Kepolisian Daerah Aceh menggelar Aceh Police Expo untuk memberikan gambaran tentang tugas kepolisian khususnya Polda Aceh beserta polres jajaran kepada masyarakat.

 

“Semua ini kita lakukan agar Kepolisian Daerah Aceh lebih dekat dengan masyarakat, kegiatan ini bukan hanya milik Polda Aceh, tapi juga seluruh masyarakat Aceh,” kata Kapolda

Kegiatan tersebut lanjut Kapolda, selain dari Polda Aceh beserta polres jajaranya juga melibatkan berbagai instansi yang terdiri TNI, Pemerintah Provinsi dan Kabupatenn/Kota, BUMN, serta instansi swasta lainnya.

“Polda Aceh terus melakukan berbagai upaya dalam meningkatkan kinerja dan pelayanan publik sejalan dengan perkembangan teknologi, salah satunya adalah aplikasi Peluit (Pelayanan Elektronik Lalulintas Untuk Informasi Tercepat)  Polda Aceh  berbasis android yang diluncurkan bersamaan dengan pembukaan Aceh Police Expo tersebut. Melalui aplikasi tersebut, masyarakat dapat mengakses e-samsat, e-SIM, SP2HP Online, Pengaduan, Layanan PJR dan Tombol kecelakaaan.” Terangnya.

Kapolda berharap aplikasi tersebut membantu masyarakat mendapatkan akses berbagai informasi lalu lintas dengan cepat dengan hanya menggunakan handphone.

Sementara itu, Gubernur Aceh, Irwandi Yusuf didampingi Kepolda Aceh menyempatkan diri untuk meninjau sejumlah stand di lokasi Expo tersebut.

Ribuan masyarakat juga terlihat terus berdatangan untuk berkunjung ke Expo yang akan digelar selama lima hari kedepan.

Turut hadir pada kegiatan tersebut, Walikota Banda Aceh, Aminullah, Kasdam IM, Brigjen Achmad Daniel, Kajati Aceh, Raja Nafrizal, Kepala Biro Humas Setda Aceh, Mulyadi Nurdin serta sejumlah pejabat lainnya. (Iwan Gunawan).

Sumber  : http://www.tribratanewspolresacehtimur.com/2017/07/pembukaan-aceh-police-expo-2017.html

 

 

PANTAI LAMPUUK, SI CANTIK YANG SEDANG BANGKIT DARI TRAGEDI

Tragedi Tsunami Aceh di tahun 2004 lalu bukan hanya menelan ribuan korban jiwa dan harta benda tapi juga Pantai Lampuuk, salah satu tempat terindah di Bumi Serambi Mekkah. Sepuluh tahun sudah cukup bagi Pantai Lampuuk untuk kembali bangkit dan mempercantik diri menjadi salah satu obyek wisata memikat bagi wisatawan lokal dan mancanegara.

KONSERVASI PENYU DI PANTAI LAMPUUK

Siapa sih yang enggak jatuh cinta saat menapakkan kaki ke pasir putih Pantai Lampuuk dan memandang air laut yang berwarna biru kehijauan? Angin sepoi-sepoi yang bertiup menambah sejuk suasana dan menambah kedamaian di pantai yang merupakan wilayah Kecamatan Lhoknga, Aceh Besar.

Pantai Lampuuk memiliki empat pintu masuk yang berderet dari selatan ke utara dan diberi nama sesuai urutannya, yaitu Babah Satu, Babah Dua, Babah Tiga dan Babah Empat. Wisatawan lokal semacam dirimu biasanya akan masuk lewat Babah Satu dan Babah Dua. Sementara Babah Tiga dipake oleh para turis bule yang hendak berselancar. Beberapa orang menganggap Pantai Lampuuk adalah Pantai Kutanya Aceh karena belakangan menjadi incaran para wisatawan penggemar surfing.

Karena ombak Pantai Lampuuk cukup bersahabat kamu bisa memanfatkan waktumu untuk berenang, naik banana boat atau sekedar berjalan-jalan menyusuri bibir pantai yang terbentang sepanjang 5 km. Pantai Lampuuk tergolong unik karena kamu akan menjumpai semacam kolam yang terbentuk secara alami dari air laut yang menerjang masuk ke daratan. Palingkan pandanganmu ke arah utara dari Pantai Lampuuk kamu akan melihat sebuah tebing yang ditumbuhi pepohonan. Persis di bawah tebing ada sebuah bungalow yang juga didirikan paska tsunami dan tarif per malamnya cukup kompetitif.

Nggak jauh dari Pantai Lampuuk terdapat sebuah pusat konservasi buat satwa penyu yang didirikan ketika Aceh sedang dalam masa recovery pasca tsunami. Pusat Konservasi Penyu ini ada nggak jauh dari Babah Dua dan menjadi salah satu hal yang membuat wisatawan ingin mengunjungi Pantai Lampuuk. Kamu juga bisa mengajak anak, keponakan atau adek kecil kamu ke sini, dijamin mereka akan senang melihat tukik (anak penyu) yang sedang berenang di dalam kolam penampungan khusus tukik sekalian belajar tentang mengapa kita harus melestarikan satwa.

Kamu juga bisa mengunjungi Masjid Rahmatullah Lampuuk, satu-satunya bangunan yang secara misterius tetap tegak berdiri saat tsunami meluluhlantakkan pantai cantik ini, travelers. Masjid ini juga digunakan untuk memajang beberapa foto yang diambil beberapa saat setelah datangnya tsunami. Hanya saja kamu perlu ijin khusus dari pihak pengelola masjid kalo ingin masuk dan melihat-lihat foto tsunami aja tanpa beribadah di sana. O iya, kalo kamu perhatikan penduduk sekitar Pantai Lampuuk memiliki mata yang sangat indah, hijau kebiruan seperti mata orang bule. Mereka cukup ramah terhadap wisatawan meski agak pendiam.

Kalo lapar kamu tinggal jalan aja ke warung-warung makan yang bertebaran di sepanjang Pantai Lampuuk, travelers. Selain bisa menyantap Mi Aceh, kuliner khas Aceh yang sangat tersohor di seantero Nusantara, kamu juga bisa memesan hidangan lain seperti ikan kerapu bakar. Dijamin rasanya lebih mak nyus karena ikannya masih segar. Tapi kamu wajib tanya-tanya dulu tentang harganya karena harga makanan yang dijual di tempat wisata biasanya lebih mahal. Trus kalo udah sore jangan buru-buru pulang. Sempatkan dirimu buat menyaksikan matahari terbenam yang akan membuatmu semakin terbius oleh keelokan Pantai Lampuuk.

 

CARA MENDATANGI PANTAI LAMPUUK

Pantai Lampuuk berjarak sekitar 15 km dari Kota Banda Aceh dan kamu cukup membutuhkan waktu sekitar setengah jam untuk mendatanginya. Jalan menuju Pantai Lampuuk juga cukup bagus karena baru direnovasi bersamaan dengan pembangunan kembali Aceh paska tsunami. Masalahnya, nggak ada kendaraan umum yang menuju Pantai Lampuuk sehingga kamu hanya bisa mendatanginya dengan naik kendaraan pribadi atau sewaan. Alternatifnya kamu naik kendaraan umum jurusan Banda Aceh-Lhoknga trus ganti naik ojek buat ke Pantai Lampuuk. Tapi kamu wajib tawar menawar dulu bila gak mau isi dompetmu terkuras.

Pengin menyaksikan indahnya matahari terbenam di Pantai Lampuuk? Sabar ya, travelers. Lebih baik kamu siapin dulu backpack kamu trus hubungi Pegipegi dulu buat memesan tiket pesawat dan memesan hotel nyaman terjangkau di sekitar Banda Aceh

Sumber : https://www.pegipegi.com/travel/pantai-lampuk-aceh/

MUZAMMIL HASBALLAH RESMI NIKAHI SONIA RISTANTI

Qari muda bersuara merdu Muzammil Hasballah (24) telah melangsungkan ijab qabul di Masjid Agung Al-Makmur, Banda Aceh, Aceh. Ia kini sah menjadi suami dari perempuan bernama Sonia Ristanti (22).

Baca Juga : http://www.glory-travel.com/sejarah-pesawat-ri-001-seulawah/

Pantauan detikcom, prosesi akad nikah dimulai sekitar pukul 06.30 WIB, Jumat (7/7/2017). Muzammil duduk di depan penghulu dengan mengenakan jas dan dasi kupu serta dipadu dengan kemeja putih. Sebelum proses ijab qabul, Muzammil terlebih dulu melantunkan ayat suci Alquran sebanyak tiga surat yaitu surat Annisa ayat 34, surat Arrum ayat 21 dan surat At-Tahrim ayat 6.


Selain melantunkan ayat suci, Muzammil juga membaca arti dari surat-surat tersebut. Proses akad nikah yang diawali salat Subuh bersama ini dihadiri jemaah yang memenuhi hingga ke lantai dua masjid. Para jemaah menyaksikan dari awal hingga selesai prosesi pernihakan Muzammil.

Bertindak sebagai wali nikah yaitu ayah kandung Sonia, Idris. Proses ijab qabul berlangsung lancar dan dengan disahut sah oleh jemaah yang hadir.

“Saya terima nikah Sonia Ristanti anak kandung bapak untuk saya dengan mahar 20 mayam emas, tunai,” kata Muzammil saat menyambut nikah.

Setelah itu, Sonia baru dibawa masuk ke dalam Masjid dan duduk di samping Muzammil. Ia mengenakan cadar sehingga hanya kelihatan dua bola matanya. Sonia terlihat beberapa kali menangis haru saat duduk bersanding dengan Muzammil.

Prosesi akad nikah dilanjutkan dengan momen penyerahan mahar dari Muzammil kepada Sonia dan doa suami untuk istri. Sonia juga diminta untuk salam takzim kepada suami dengan mencium kedua tangan Muzammil.

Prosesi akad nikah Muzammil berakhir sekitar pukul 08.00 WIB. Jemaah yang hadir sempat berebutan bersalaman dengan Muzammil, tapi panitia masjid langsung membawanya ke dalam sebuah ruangan. Tak lama berselang, ia meninggalkan lokasi.

Sumber http://www.detik.com

 

 

SEJARAH PESAWAT RI 001 SEULAWAH

Bila Anda berkunjung ke Kota Banda Aceh, singgahlah di Lapangan Blang Padang Banda Aceh yang terletak di pusat kota. Lapangan yang terletak di Kp. Baru, Kecamatan Baiturrahman, Kota Banda Aceh ini paling digemari masyarakat Kota Banda Aceh.

Lapangan Blang Padang selain di gunakan warga sebagai tempat berwisata, olahraga, dan menikmati kuliner ini memiliki banyak nilai sejarah. Selain terdapat tugu peringatan tsunami, monumen Thank to The World, dan 53 monumen (prasasti) negara yang ikut membantu Aceh saat tsunami dan sebelum tsunami, di lapangan ini juga terdapat replika Pesawat Dakota RI-001 Seulawah.

Pesawat Dakota RI-001 Seulawah adalah pesawat angkut pertama Indonesia yang sangat berjasa dalam mewujudkan kemerdekaan negeri ini. Bukti kecintaan dan sikap patriotisme rakyat Aceh terhadap republik Indonesia.

Seperti yang Loveaceh.com kutip dari Bandaacehtourism.com, pesawat ini diberi nama Seulawah atau gunung emas, merujuk pada nama gunung api di Aceh Besar ini, merupakan cikal bakal perusahaan berdirinya perusahaan penerbangan niaga pertama di nusantara, Indonesian Airways, yang sekarang dikenal dengan Garuda Indonesia.

Pesawat ini dibeli dari hasil sumbangan rakyat Aceh atas permintaan Soekarno yang datang khusus ke Aceh, medio Juni 1948. Dalam pertemuannya dengan Gubernur Militer, Abu Daud Beureueh di Hotel Aceh, samping Masjid Raya Baiturrahman, Banda Aceh, Presiden RI pertama itu menangis, mengiba agar rakyat Aceh membantu dana pembelian pesawat.

Tujuannya untuk memperkuat pertahanan negara dan hubungan antar pulau, menembus blokade Belanda yang mulai menguasai sebagian besar nusantara menyusul agresi militer ke II Belanda. Pusat pemerintah Indonesia di Yogjakarta sendiri kala itu mulai dikuasai lagi Belanda.

“Saya tidak akan makan malam ini, kalau dana untuk itu tidak terkumpul,” kata Soekarno dalam pertemuan diselenggerakan Gabungan Saudagar Indonesia Daerah Aceh (GASIDA) itu.

Ketua GASIDA, Muhammad Djuned Yusus yang hadir dalam forum, langsung menyanggupinya. Bersama Said Muhammad Daud Alhabsyi, ia memimpin Dakota Found, panitia penggalangan dana. Para saudagar menyumbangkan uang dan emas. Sementara rakyat biasa ikut mengumpulkan hasil pertanian dan peternakannya untuk disumbang ke panitia. Alhasil dalam dua hari terkumpul dana setara 20 kilogram emas atau 130 ribu dolar Singapura.

Versi lain menyebutkan, saat itu Daud Beureueh yang iba dengan Soekarno langsung memerintahkan langsung Abu Mansor, sekretarisnya untuk mengumpulkan sumbangan.

Menurut Pemerhati Sejarah Aceh, Abdurrahman Kaoy, saat itu Abu Mansor datang ke Pasar Atjeh memungut sumbangan dari warga yang berada di pasar tradisional samping Masjid Baiturrahman itu. “Mereka dengan ikhlas memberikan perhiasan, emas, dan segala barang berharganya untuk disumbangkan,” ujarnya.

Sebelum kembali ke Pulau Jawa membawa sumbangan rakyat Aceh, dalam pertemuan akbar dengan rakyat Aceh di Lapangan Blang Padang, Soekarno berorasi mengajak rakyat Aceh membantu perjuangannya.

“Aku meminta kepadamu hai pemuda-pemuda, pemudi-pemudi, ulama-ulama, saudara-saudara, anak-anakku dari angkatan perang, segenap pegawai, segenap rakyat jelata yang berkumpul di sini, di seluruh daerah Aceh, marilah kita terus berjuang,” katanya.

Dalam kunjungannya ke Aceh, Soekarno juga berpesan khusus kepada Daud Beureueh yang ia panggil Kakak, agar mengajak rakyat Aceh membantu perjuangan mengusir Belanda yang masih bercokol di berbagai daerah di nusantara.

“Saya minta bantuan Kakak agar rakyat Aceh turut mengambil bagian dalam perjuangan bersenjata yang sekarang sedang berkobar antara Indonesia dan Belanda, untuk mempertahankan kemerdekaan yang telah kita proklamirkan pada tanggal 17 Agustus 1945.”

“Saudara Presiden! Kami rakyat Aceh dengan segala senang hati dapat memenuhi permintaan Presiden asal saja perang yang akan kami kobarkan itu berupa perang sabil atau perang fisabilillah, perang untuk menegakkan agama Allah sehingga kalau ada di antara kami yang terbunuh dalam perang itu maka berarti mati syahid,” jawab Daud Beureueh.

“Kakak! Memang yang saya maksudkan adalah perang yang seperti telah dikobarkan oleh pahlawan-pahlawan Aceh yang terkenal seperti Teungku Cik Di Tiro dan lain-lain, yaitu perang yang tidak kenal mundur, perang yang bersemboyan merdeka atau syahid,” timpal Soekarno.

Sekembali ke Pulau Jawa, sumbangan terkumpul dari Aceh dipakai untuk membeli pesawat jenis Dakota DC-3 melalui Singapura pada Oktober 1948, oleh perwira penerbangan Wiweko Soepono yang akhirnya menjadi Direktur Utama garuda. Diberi registrasi RI-001 Seulawah, inilah pesawat angkut pertama milik Indonesia dan cikal bakal berdirinya Indonesian Airwasy yang saat itu berkantor di Burma (Myanmar), karena sebagian besar wilayah nusantara masih dikuasai Belanda.

Memiliki panjang badan 19,66 meter dan rentang sayap 28,96 m, pesawat ini ditenagai dua mesin pratt & whitney berbobot 8,030 Kg. Mampu terbang dengan kecepatan maksimum 346 Km per jam.

Pada awal beroperasi, RI-001 Seulawah menjadi penghubung Jawa dan Sumatera, mengangkut obat-obatan dari Burma dan India dengan menembus blokade-blokade Belanda. Burung besi ini juga berperan menyelundupkan senjata, amunisi dan perangkat komunikasi dari Burma ke Aceh, untuk logistik perang melawan Belanda. Dengan perangkat radio yang diselundupkan pesawat ini, dari Aceh disiarkan kabar ke penjuru dunia bahwa “Indonesia masih ada”.

Agar tak terdeteksi musuh, penerbangan di lakukan malam hari. Pesawat biasanya mendarat di Lapangan Udara Lhok Nga atau Blang Bintang, Aceh Besar. Begitu mendapat konfirmasi pendaratan, para pemuda Aceh membakar daun kepala kering sebagai tanda bahwa lokasi siap menerima landing. Siang harinya, tubuh pesawat ditutupi dengan daun dan rerumputan agar tak terlihat dari pengintaian udara Belanda.

Pesawat hasil sumbangan barang-barang pribadi rakyat Aceh ini selain digunakan Soekarno melawat ke berbagai daerah dalam di Sumatera dan Jawa untuk mendapat dukungan kemerdekaan RI, juga dipakai dalam menjalin diplomasi demi terwujudnya Negara Kesatuan Republik Indonesia ke berbagai Negara. RI-001 Seulawah ikut mengangkut tokoh-tokoh bangsa ke luar negeri untuk menjalin hubungan international dalam memperoleh dukungan kemerdekaan.

Ketika agresi Belanda memanas, pesawat RI-001 Seulawah sempat dilarang kembali ke Indonesia dan tertahan di Burma. Tahun 1949, RI-001 Seulawah kemudian disewa (carter) oleh Pemerintah Myanmar, dijadikan pesawat angkut negara itu. Inilah kali pertama RI-001 Seulawah dikomersilkan. Myanmar saat itu sedang menghadapi gejolak pemberontakan dalam negeri. Pesawat ini ikut dipakai dalam menjalankan berbagai misi operasi militer di negara tersebut.

Untuk mengenang jasa rakyat Aceh lewat sumbangan pesawat ini dalam membantu mewujudkan Indonesia, dibangun sebuah monumen replika Dakota RI-001 Seulawah di Lapangan Blang Padang. Peresmian monumen ini ditandai dengan penandatanganan prasasti pada 29 Juli 1984 oleh Kepala Staf TNI Angkatan Udara Marsekal Sukardi dan Hadi Tajeb, Gubernur Aceh saat itu.

Berikut isi prasasti tersebut yang berhasil Loveaceh.com catat beberapa hari yang lalu waktu mengunjungi Lapangan Blang Padang ini:

DENGAN RAHMAT ALLAH SUBHANAHU WA TA’ ALA

MONUMEN PERJUANGAN RI-001 “SEULAWAH” INI DIBANGUN SEBAGAI TANDA PENGHARGAAN YANG TULUS IKHLAS DARI TENTARA NASIONAL INDONESIA ANGKATAN UDARA KEPADA RAKYAT ACEH DALAM RANGKA MENEGAKKAN DAN MEMPERTAHANKAN KEMERDEKAAN NEGARA KESATUAN REPUBLIK INDONESIA YANG BERDASARKAN PANCASILA DAN UNDANG-UNDANG DASAR 1945 PADA MASA 1948-1950.

BANDA ACEH, 29 JULI 1984

KEPALA STAFF TNI ANGKATAN UDARA

-SUKARDI-

MARSEKAL TNI

GUBERNUR/KEPADA DAERAH ISTIMEWA ACEH

-H. HADI THAJEB-

Sedangkan di bawah badan pesawat, atau tepatnya di tiang penopang pesawat, Loveaceh.com juga melihat sebuah prasasti lagi yang menerangkan peranan Pesawat Dakota RI-001 Seulawah dalam perang kemerdekaan. Isinya sebagai berikut:

PERANAN PESAWAT DAKOTA RI-001 “SEULAWAH” DALAM PERANG KEMERDEKAAN

PESAWAT JENIS INILAH YANG DISUMBANGKAN OLEH RAKYAT ACEH, KEPADA PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA PADA MASA PERJUANGAN KEMERDEKAAN DENGAN NOMOR RI. 001.

DENGAN PESAWAT INI BLOKADE BELANDA DAPAT DI TEROBOS DAN HUBUNGAN ANTARA PEMERINTAH PUSAT DI YOGYAKARTA DENGAN DAERAH-DAERAH DI SUMATERA KHUSUSNYA ACEH DAPAT DIWUJUDKAN SEHINGGA MEMPERLANCAR JALANNYA RODA PEMERINTAHAN.

AGRESI MILITER BELANDA II PADA TAHUN 1948 MEMAKSA PESAWAT RI OO1 “SEULAWAH” BERPANGKALAN DAN BEROPERASI DI RANGOON BIRMA.

PERJUANGAN YANG DILAKUKAN SELAMA DI LUAR NEGERI ANTARA LAIN :

  • PENEROBOSAN PADA MALAM HARI TERHADAP BLOKADE BELANDA DENGAN MENGANGKUT SENJATA & MESIU KE PANGKALAN UDARA LHO’NGA
  • MENDIRIKAN “INDONESIAN AIRWAYS” DALAM MEMBANTU MEMBIAYAI PENGADAAN SENJATA & MESIU, PENGADAAN PESAWAT-PESAWAT C-47 DAKOTA RI-007 DAN RI-009, MEMBANTU MEMBIAYAI PERWAKILAN-PERWAKILAN RI DI LUAR NEGERI DAN PENDIDIKAN CALON PENERBANG SERTA TEKNISI AURI DI LUAR NEGERI
  • MELALUI PEMANCAR RADIO “INDONESIAN AIRWAYS” BERITA-BERITA PERJUANGAN DI TANAH AIR DITERUSKAN KEBEBERAPA PERWAKILAN RI DI LUAR NEGERI DAN PERSERIKATAN BANGSA-BANGSA

PERJUANGAN RAKYAT ACEH DALAM PERJUANGAN MENEGAKKAN DAN MEMPERTAHANKAN NEGERA KESATUAN REPUBLIK INDONESIA YANG DIWUJUDKAN DENGAN SUMBANGAN PESAWAT INI MENCERMINKAN JIWA KEJUANGAN YANG PATUT DITAULADANI DAN DILESTARIKAN OLEH SELURUH RAKYAT INDONESIA SEPANJANG MASA.

UDEP SARE MATE SAHID

BANDA ACEH,

29 JULI 1984

Pesawat Dakota RI-001 Seulawah yang sudah menjadi monumen kini menjadi salah satu situs wisata sejarah di Banda Aceh. Bukti cinta rakyat Aceh kepada Ibu Pertiwi yang tetap kokoh berdiri walau sempat diterjang tsunami Aceh 2004 silam.

Nah, selain melihat Pesawat Dakota RI-001 Seulawah yang berada di Lapangan Blang Padang, jangan lupa mengunjungi tempat bersejarah lainnya di Kota Banda Aceh yang berdekatan dengan Lapangan Blang Padang, seperti Kerkhof Peutjut, dan Museum Tsunami Aceh.

Sumber : Loveaceh.com