SEJARAH PULAU WEH

Tak banyak literatur yang bisa diperoleh untuk menjelaskan asal-usul Kota Sabang. Legenda yang beredar di masyarakat Sabang, yang terletak di Pulau Weh, pulau itu dulunya bersatu dengan daratan Sumatera. Namun, akibat gempa bumi, ribuan bahkan belasan ribu tahun lampau, pulau ini terpisah dengan daratan. Begitu juga dengan pulau-pulau di sekitarnya, Seperti Pulau Rondo, Pulau Rubiah, Pulau Seulako dan Pulau Klah.

Sekitar tahun 301 sebelum Masehi, seorang Ahli bumi Yunani, Ptolomacus berlayar ke arah timur dan berlabuh di sebuah pulau tak terkenal di mulut selat Malaka, pulah Weh! Kemudian dia menyebut dan memperkenalkan pulau tersebut sebagai Pulau Emas di peta para pelaut.

Pada abad ke 12, Sinbad mengadakan pelayaran dari Sohar, Oman, jauh mengarungi samudera melalui rute Maldives, Pulau Kalkit (India), Sri Langka, Andaman, Nias, Weh, Penang, dan Canton (China). Sinbad berlabuh di sebuah pulau dan juga menamainya Pulau Emas, pulau itu yang dikenal orang sekarang dengan nama Pulau Weh.

Dan pada awal abad ke-15. Penjelajah asal China, Cheng Ho, pernah singgah di sana tahun 1413-1415. Catatan Ma Huan, salah satu penerjemah Cheng Ho, menjelaskan bahwa di sebelah barat laut dari Aceh terdapat daratan dengan gunung menjulang, yang dia beri nama Gunung Mao. Di sana terdapat sekitar 30 keluarga. Banyak para ahli sejarah menegaskan bahwa yang dimaksud Gunung Mao itu adalah Pulau Weh.

Dalam bukunya Ying Yai Sheng Lan yang kemudian diterjemahkan menjadi The Overall Survey of The Ocean’s Shores, Ma Huan menceritakan bahwa daratan itu menjadi salah satu tempat persinggahan para saudagar dari berbagai negara.

Gunung Mao yang tampak mencolok dari lautan itu menjadi suar atau petanda bagi para saudagar. Sabang sendiri merupakan penghasil kayu laka terbaik serta penghasil bunga teratai.

Erond juga menduga bahwa Sabang saat itu menjadi salah satu bagian dari jaringan perdagangan maritim yang membentang dari Teluk Persia sampai China Selatan pada abad ke-12 sampai ke-15. Thailand, Sri Lanka, dan India termasuk di dalamnya.

Asal Mula Nama Sabang Dan Pulau Weh

Nama Sabang sendiri, berasal dari bahasa Aceh ”Saban”, yang berarti sama rata atau tanpa diskriminasi. Kata itu berangkat dari karakter orang Sabang yang cenderung mudah menerima pendatang atau pengunjung. Karakter ini agak berbeda dengan karakter orang Aceh umumnya yang cenderung tertutup terhadap orang yang baru mereka kenal.

Versi lain menyebutkan bahwa nama Sabang berasal dari bahasa arab, yaitu “Shabag” yang artinya gunung meletus. Dahulu kala masih banyak gunung berapi yang masih aktif di Sabang, hal ini masih bisa dilihat di gunung berapi di Jaboi dan Gunung berapi di dalam laut Pria Laot.

Sedangkan Pulau Weh berasal dari kata dalam bahasa aceh, ”weh” yang artinya pindah, menurut sejarah yang beredar Pulau Weh pada mulanya merupakan satu kesatuan dengan Pulau Sumatra, yakni penyatuan daratan sabang dengan daratan Ulee Lheue. Ulee Lheue di Banda Aceh berasal dari kata Ulee Lheueh (“Lheueh” ; yang terlepas). Syahdan, bahwa Gunung berapi-lah (yang teresbut diatas) meletus dan menyebabkan kawasan ini terpisah. Seperti halnya Pulau Jawa dan Sumatera dulu, yang terpisah akibat Krakatau meletus.

Dalam Versi lain, Pulau Weh juga terkenal dengan pulau “We” tanpa h. ada yang berasumsi jika pulau weh diberi nama pulau we karena bentuknya seperti huruf “W”.

Menurut sebuah legenda menceritakan putri cantik jelita yang mendiami pulau ini meminta kepada Sang Pencipta agar tanah di pulau-pulau ini bisa ditanami. Untuk itu, dia membuang seluruh perhiasan miliknya sebagai bukti keseriusannya. Sebagai balasannya, Sang Pencipta kemudian menurunkan hujan dan gempa bumi di kawasan tersebut.

Kemudian terbentuklah danau yang lalu diberi nama Aneuk Laot. Danau seluas lebih kurang 30 hektar itu hingga saat ini menjadi sumber air bagi masyarakat Sabang meski ketinggian airnya terus menyusut. Setelah keinginannya terpenuhi, sang putri menceburkan diri ke laut.

Meski tidak ada sumber tertulis yang jelas, keinginan sang putri agar Sabang menjadi daerah yang subur dan indah setidaknya tecermin dari adanya taman laut yang indah di sekitar Sabang. Kondisi yang demikian kenyataannya juga telah memberi penghidupan kepada masyarakat.

Pulau Weh atau Sabang telah dikenal dunia sejak awal abad ke-15. Sekitar tahun 1900, Sabang adalah sebuah desa nelayan dengan pelabuhan dan iklim yang baik. Kemudian belanda membangun depot batubara di sana, pelabuhan diperdalam, mendayagunakan dataran, sehingga tempat yang bisa menampung 25.000 ton batubara telah terbangun.

Kapal Uap, kapal laut yang digerakkan oleh batubara, dari banyak negara, singgah untuk mengambil batubara, air segar dan fasilitas-fasilitas yang ada lainnya, hal ini dapat dilihat dengan masih banyaknya bangunan-bangunan peninggalan Belanda. Sebelum Perang Dunia II, pelabuhan Sabang sangat penting dibanding Singapura. Namun, di saat Kapal laut bertenaga diesel digunakan, maka Singapura menjadi lebih dibutuhkan, dan Sabang pun mulai dilupakan.

Pada tahun 1970, pemerintahan Republik Indonesia merencanakan untuk mengembangkan Sabang di berbagai aspek, termasuk perikanan, industri, perdagangan dan lainnya. Pelabuhan Sabang sendiri akhirnya menjadi pelabuhan bebas dan menjadi salah satu pelabuhan terpenting di Indonesia. Tetapi akhirnya ditutup pada tahun 1986 dengan alasan menjadi daerah yang rawan untuk penyelundupan barang.

Awal Januari 2000 Presiden Abdurrahman Wahid menegaskan Sabang sebagai pelabuhan bebas dan kawasan perdagangan bebas. Barang-barang yang diimpor lewat Sabang bebas pajak. Mobil-mobil mewah asal Singapura dijual murah di kota itu.

Namun, ketika Aceh ditetapkan sebagai daerah operasi militer, aktivitas Sabang sebagai pelabuhan bebas terhenti. Aktivitas pelabuhan bebas makin sepi dengan terbitnya Keputusan Menteri Perindustrian dan Perdagangan (Menperindag) Nomor 610/MPP/Kep/ 10/2004 tentang Perubahan atas Keputusan Menperindag Nomor 756/MPP/Kep/12/2003 tentang Impor Barang Modal Bukan Baru. Tak boleh lagi ada barang bekas yang boleh masuk dari seluruh daerah perbatasan Indonesia, termasuk Sabang.

Sumber: http://hijrahheiji.blogspot.co.id/2014/03/sejarah-nama-sabang-dan-legenda-pulau_10.html

 

 

 

KISAH PULAU RUBIAH PELABUHAN KARANTINA HAJI TERKHIR SEBELUM KE JEDDAH

Belum pas rasanya apabila berwisata ke Kota Sabang, Nanggroe Aceh Darussalam, tidak menyempatkan diri datang ke Pulau Rubiah di Desa Iboih. Di sana bisa ditemui sisa bangunan asrama haji zaman kolonial karena pulau ini duku menjadi tempa persinggahan terakhir dari kapal jamaah haji yang hendak pergi ke Jeddah.

Kini sisa bangunan tempat karantina haji memang sudah tak terawat. Wisatawan pun lebih menyukai mengamati aneka ikan hias dengan melakukan snorkling atau menikmati taman laut dengan menyelam (diving).

“Pulau Rubiah memang tidak saja dikenal sebagai objek wisata menarik, tapi memiliki nilai sejarah, karena daerah itu untuk pertama kali dibangun Asrama Haji,” kata Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Sabang Zulfi Purnawati.

Menurutnya, pada tahun 1920-an pulau Rubiah yang artinya pulau ‘permata rubi’ berfungsi menjadi tempat karantina jamaah haji Indonesia sebelum diberangkatkan dengan kapal ke Tanah Suci.”Saat Pemerintah Belanda pada waktu itu, setiap jamaah haji Indonesia, baik yang mau berangkat dan pulang, harus singgah dulu di Pulau Rubiah,”

Memang, meski Pulau Rubiah merupakan tempat bersejarah, namun pulau ini belum mendapatkan perhatian serius, sehingga sisa bangunan asrama dan karantina haji sudah tidak dapat ditemui lagi Yang ada hanya tinggal sisa bangunan berupa pondasinya saja. Dan bila masih ada sisa bangunan asrama haji era kolonial itu, namun kondisinya memprihatinkan alias kurang perawatan. Akibatnya, bila ada wisatawan yang berkunjung ke tempat tersebut mereka pun merasa mendapati kondisi yang kurang nyaman.

Sebenarnya bila pemerintah setempat mau merawat dan memberdayakan pulau tersebut, potensi wisata sejarah dan alam dari Pulau Rubiah ini cukup menjanjikan. Apalagi bila masyarakat Aceh tahu bila di zaman Perang Aceh dahulu pulau ini juga dipakai pemerintah Kolonial Belanda sebagai tempat untuk menahan para pejuang Aceh.

saat ini,  terutama di musim iburan, khususnya menjelang akhir tahun, kunjungan wisatawan domestik ke Sabang meningkat 25 persen dari hari biasanya.

“Pada libur akhir tahun kunjungan wisatawan meningkat sekitar 25 persen,” kata Kepala UPTD Pelabuhan Balohan, Sabang, Abdurrani. Wisatawan domestik yang berkunjung ke kawasan strategis pariwisata nasional Sabang, dominan berasal dari Sumatera Utara dan Pulau Jawa.

Dikatakannya, dampak dari meningkatnya kunjungan wisatawan tersebut maka jadwal pelayaran pun bertambah satu trip dari Sabang-Banda Aceh dan sebaliknya.” Bila pada hari-hari biasa, Kapal KMP BRR (kapal lambat) hanya berlayar dua kali pulang pergi (PP) dari Sabang-Banda Aceh dan sebaliknya, maka karena terjadi lonjakan wisatawan kami menambahkan trip pelayarak tiga kali PP,” jelas Abdurrani.

Ada pun jadwal pelayaran Kapal KMP BRR dari Pelabuhan Balohan, Sabang menuju Pelabuhan Ulee-Lheue, Banda Aceh pukul 07.00, 13.00 dan pukul 19.00 WIB, kemudian sebaliknya pukul 10.00, 16.00, 22.00 WIB. Kapal Cepat Express Bahari berlayar dari Sabang – Banda Aceh pukul 08.00, 14.30 dan 16.00 WIB, lalu dan sebaliknya pukul 09.30 dan 16.00 WIB.

Selain transportasi laut, untuk ke Sabang juga bisa melalui udara dengan menggunakan Maskapai Garuda Indonesia jenis ATR 72-600 dan PT Lion Group jenis Wings Air.

Pelaksana tugas Wali Kota Sabang T Aznal Zahri menyatakan dua maskapai penerbangan (Garuda ATR 72-600 dan Wings Air) melayani rute Kualanamu, Sumatera Utara – Sabang. “Biasanya libur akhir tahun kunjungan wisatawan meningkat drastis ke Sabang dan untuk mengantisipasi lonjakan wisatawan tersebut dua maskapai sudah siap melayani wisatawan dari Bandara Kualanamu tujuan Sabang,” kata Aznal

Sumber : Muhammad Subarkah

Yuk, Rasakan Pesona Ramadhan yang Berkesan di Aceh

BANDA ACEH — Saat bulan Ramadhan menyapa, sempatkanlah untuk traveling ke Aceh. Provinsi berjuluk Serambi Makkah ini memiliki atmosfer dan suasana bulan Ramadhan yang khas. Ada banyak keseruan yang bisa dinikmati bersama pesona Ramadhan di Aceh. Deputi Pengembangan Pemasaran Pariwisata Nusantara Kemenpar Esthy Reko Astuti, yang didampingi Kabid Promosi Budaya Wawan Gunawan mengatakan tradisinya banyak yang unik.

Sepanjang Ramadhan menyapa, ada banyak aktivitas wisata yang bisa ditemui di seluruh Aceh. “Kunjungan wisatawan biasanya banyak di awal dan akhir Ramadhan,” kata dia.

Yang penasaran dengan tradisi bernama Meugang, silakan simak agendanya di Aceh. Tradisi ini merupakan tradisi potong sapi yang dilakukan dua hari sebelum Ramadhan dan dua hari menjelang Hari Idul Fitri. Dalam tradisi ini, wisatawan dapat melihat berbagai proses mulai dari pemotongan sapi, proses pemasakan, hingga makan bersama.

Setelah itu, ada juga festival Ramadhan dan beragam perlombaan, mulai dari lomba azan, Musabaqah Tilawatil Quran (MTQ), juga hafiz Alquran. Ada juga Kampung Ramadan yang biasanya digelar di bantaran sungai. Di situ, masyarakat akan menjajakan aneka menu buka puasa. Tak lupa zikir akbar yang akan digelar di Masjid Raya Baiturrahman.

“Masjid Raya Baiturrahman sudah menjadi daya tarik wisata baru. Sudah banyak warga yang selfie dan mem-posting keindahan dan kemegahan Masjid Baiturrahman ke media sosial,” kata Esthy.

Saat ini, Masjid Raya Baiturrahman di Banda Aceh, Nangroe Aceh Darussalam memang sudah sangat menawan. Tampilan fisiknya sudah berubah total mirip Masjid Nabawi di Madinah. Pekarangannya sudah dilapisi marmer. Saat sore hari, ada 12 payung raksasa yang dibiarkan mengembang dengan balutan pendaran pencahayaan super-keren. “Silakan selfie, bikin vlog, dan sebarkan ke dunia maya. Bagikan keindahan Ramadan di Aceh ke seluruh dunia,” ucapnya.

 

Kepala Dinas Pariwisata Aceh Reza Pahlevi menambahkan pada 10 Ramadan terakhir, ada Qiyamul Lail. Momen ini biasanya dibanjiri pengunjung. Maklum, ustaz dari Riyadh, Arab Saudi, ikut diundang ke Aceh.

“Banyak yang bisa dinikmati. Siang hari bisa ke museum, atau destinasi panorama. Kalau untuk kuliner bisa malam hari mulai jam 4 sore. Ada juga Ifthar Bersama, tarawih dan tadarrus, Zikir  dan Khanduri Khatam Al-Qur’an dan Malam Nuzulul Qur’an,” kata Reza Pahlevi.

Menteri Pariwisata Arief Yahya juga yakin, Aceh akan laku dengan positioning sebagai destinasi wisata Islami dunia. Menurutnya sektor agama dan budaya Aceh memiliki koneksi kuat untuk dijual sebagai wisata. “Sama seperti Bali dengan filosofi kekuatan ajaran agama, budaya dan pariwisata yang bersatu, Aceh juga kuat daya tariknya dengan produk wisata alam dan proses ajaran kebudayaan religi syariat islamnya,” ujarnya.

sumber : REPUBLIKA.CO.ID

BOH ROM ROM : PENGANAN KHAS ACEH SELAMA RAMADHAN

Boh rom rom

BULAT dan kecil, tidak ketinggalan parutan kelapa dengan isi gula begitulah sekilas yang terlihat dari panganan kue yang satu ini. Ya, bagi sebagian masyarakat Aceh mengenalnya dengan sebutan boh rom-rom, namun ada juga yang menyebutnya boh meucroet. Sajian kue kecil ini memang terbilang lucu, dari sekian banyak namanya masih ada juga yang akrab mengenal kue ini dengan nama boh duek beudeh, ada saja-saja ternyata ya.

Boh rom-rom memang bukan makanan langka, kue kecil yang menjadi pelengkap sebagai cemilan ini sering dijumpai dimana-mana. Bulan puasa misalnya, boh rom-rom bisa jadi sajian untuk berbuka. Rasanya yang manis dengan isi gula merah, berpadu dengan parutan kelapa menjadi sensasi tersendiri di mulut, apalagi saat gula merahnya pecah. Benar-benar terasa di lidah. Lalu, bahan apa saja untuk membuat si kue kecil imut ini bisa dinikmati saat berbuka. Berikut ini resepnya untuk anda coba:

 

Bahan dan bumbu:

-500 gram tepung ketan putih

-Setengah sendok teh garam

-100 ml air putih panas

-80 ml air dingin

-Air secukupnya buat merebus

-3 lembar daun pandan

-Setengah butir kelapa yang sudah parut

-100 gram gula merah (bisa juga gula tebu) yang diparut kasar

-2 lembar daun pandan

-50 ml air

Cara Membuatnya:

-Campur tepung ketan, garam dan air panas serta aduk sampai rata.

-Tuang air dingin sedikit demi sekit, dan aduk hingga adonan terasa kalis.

-Panaskan air bersama dengan daun pandan hingga mendidih.

-Ambil satu sendok teh adonan, bulatkan dan jangan lupa mengisi dengan gula merah yang sudah diparut kasar ditengahnya.

-Masukkan adonan yang sudah dibulatkan tadi ke air yang mendidik, masak hingga mengapung dan matang.

-Jika sudah matang lalu angkat, dan guling-gulingkan diatas parutan kelapa tadi.

http://auliaoktavella.it.student.pens.ac.id/Aceh/kuliner_kue_bohromrom.html

 

 

MELEPAS DAHAGA DENGAN KELAPA MUDA DI BULAN RAMADHAN

Anda tahu buah kelapa ? Pohon kelapa ? Buah kelapa mengandung manfaat yang sangat banyak. Seluruh bagian buahnya dapat digunakan oleh manusia. Mulai dari airnya yang menyegarkan, bagian isinya yang muda sangat enak dimakan langsung, sedangkan yang tua dijadikan santan untuk sayur, kue dan dapat diproses menjadi minyak masak. Tempurungnya untuk kerajinan tangan, perlengkapan rumah tangga atau sekedar dibakar untuk membuat bara api. Sabutnya bisa dipakai untuk alat gosok peralatan dapur atau dianyam menjadi keset kaki dan sikat.

Demikian pula halnya dengan pohon kelapa, seluruh bagian dari akar, batang hingga pelepah daunnya dapat memberikan manfaat. Contoh yang sudah sangat diketahui adalah lidi yang terdapat pada daunnya dapat dijadikan sapu.

Begitulah sesungguhnya bulan Ramadan. Bulan Ramadan penuh dengan manfaat. Sejak awal hingga akhirnya, Ramadan mengandung berbagai macam keistimewaan. Awalnya adalah Rahmat, pertengahannya adalah ampunan dan akhirnya adalah pembebasan dari api neraka. Siang harinya adalah ibadah pengendalian diri menuju kesempurnaan martabat manusia dan malam harinya adalah ibadah pendekatan diri kepada sang Pencipta Allah SWT.

Setiap hari dalam bulan Ramadan menyimpan makna dan keistimewaan masing-masing yang ganjarannya dihitung dengan perkalian lipat ganda. Satu dibalas sepuluh, seratus bahkan seribu. Sehari dibalas sebulan, sebulan dibalas setahun hingga puncaknya disediakan balasan syurga. Bulan Ramadan menyediakan semua yang dibutuhkan manusia. Dirahmati hidupnya, dimaafkan dan diampuni kesalahan dan dosanya, dimudahkan segala urusannya, dilipatgandakan setiap amal ibadahnya, disejukkan hatinya, dibersihkan dirinya dari segala macam penyakit jasmani dan rohani, dimurahkan rezeki, diberi predikat taqwa dan dimasukkan kedalam syurga. Jangan sia-siakan nikmatnya Ramadan.

Penulis : Direktur Eksekutif BAZ Tarakan Syamsi Sarman,S.Pd

 

“MESJID NABAWI” ADA DI ACEH

Banda Aceh – Masjid Raya Baiturrahman Banda Aceh bersolek. Tampilannya seperti Masjid Nabawi di Madinah, pekarangan kini diganti marmer dan ditambah 12 payung raksasa. Meski belum sepenuhnya siap, kehadiran payung elektrik ini menjadi daya tarik bagi wisatawan. Foto selfie di bawahnya dengan latar belakang masjid mulai ramai bertebaran di media sosial. Warga sekitar Banda Aceh menjadikan lokasi ini sebagai objek wisata baru. Menjelang sore atau siang hari, beberapa payung dibiarkan mengembang. Jamaah salat fardhu biasanya menyempatkan diri untuk melihat-lihat secara dekat keberadaan payung. Meski demikian, beberapa petugas keamaan masjid berjaga-jaga.

Pengerjaan pembangunan landscape dan infratruktur saat ini sudah mencapai 90 persen. 12 unit payung dan lantai marmer sudah dipasang. Sebuah kolam dibangun di halaman depan untuk memperindah masjid kebanggan masyarakat Tanah Rencong. Gubernur Aceh Zaini Abdullah sudah melakukan peluncuran awal (soft launching). Ia menekan tombol secara simbolis sehingga payung mengembang secara perlahan. Butuh waktu beberapa menit sehingga payung terbuka lebar.

“Jika pengembangan tahap pertama ini selesai seluruhnya, maka masjid ini tidak hanya berfungsi sebagai rumah ibadah bagi kaum muslimin, tapi juga menjadi pusat pengembangan peradaban Islam terbesar di Asia Tenggara,” kata Zaini dalam sambutannya saat soft launching di halaman masjid Raya Baiturrahman, Banda Aceh, Selasa (14/2/2017).

Pembangunan tahap pertama ini sasarannya yaitu melebarkan halaman dan memasang 12 unit payung elektrik. Enam payung dipasang disebelah selatan dan sisanya di utara masjid. Selain itu, proyek senilai Rp 458 miliar ini juga mencakup pembangunan basement sebagai lokasi parkir mobil dan sepeda motor. Dalam perencanaannya, areal parkir bawah tanah ini bisa menampung 254 unit mobil dan 343 sepeda motor. Di basement itu juga dilengkapi tempat wudhu, serta toilet pria dan wanita. Semua bahannya terbuat dari batu marmer Italia atau Spanyol. Pemerintah Aceh memang mempermak landscape ini sehingga mirip dengan Masjid Nabawi.

Sementara untuk bagian atas, pada pinggiran halaman akan ditanam 33 pohon kurma dan satu pohon geulumpang. Sedangkan di tengah halaman, dibangun kawasan hijau dengan cara menanam rumput hijau dan berbagai jenis bunga warna warni. Pembangunan infratruktur ini juga ramah disabilitas. Dari basement menuju plaza atau pekarangan, terdapat beberapa lift. Wisatawan yang berkunjung ke sana, dapat menikmati keindahan Masjid Baiturrahman dari berbagai sudut.

“Apa yang kita saksikan saat ini telah berdiri 12 unit payung yang menyerupai payung di Masjid Nabawi, dimaksudkan tidak saja untuk menambah keindahan masjid, namun juga sebagai sarana untuk kenyamanan beribadah para jamaah,” jelas Zaini.

Pemerintah Aceh nantinya akan menjadikan kawasan kompleks Masjid Raya Baiturrahman sebagai pusat beragam aktivitas yang mendukung fungsi masjid sebagai sentral kegiatan umat Islam di Aceh. Saat ground breaking pada 2015 silam, Zaini mengungkapkan pembangunan Masjid Raya dilakukan dalam dua tahap, yaitu jangka pendek dan jangkap panjang. Untuk jangka pendek, akan dilakukan pemasangan 12 Unit payung elektrik di pelataran masjid. Selain itu, juga akan dibangun berbagai sarana lain, seperti taman, rumah genset, pusat pengolahan air, drinking water system dan perbaikan beberapa interior bangunan.

Sedangkan target jangka panjang, jelas Gubernur, akan dilakukan perluasan kawasan masjid. Rinciannya, untuk kawasan barat akan dijadikan sebagai pusat pendidikan. Di lokasi tersebut akan dibangun TPA dan sekolah yang fokus pada pendidikan agama Islam. “Bagi anak-anak kami yang ingin belajar tentang Alqur’an atau ingin menjadi hafiz, nantinya dapat belajar di pusat pendidikan itu. Guru-guru agama pasti kita pilih yang terbaik untuk menjadi guru di TPA dan sekolah itu,” terang Zaini Abdullah. Gubernur yang kerap disapa Abu Doto ini menambahkan, untuk kawasan selatan nantinya akan jadikan sebagai pusat berbagai aktivitas Islam. Di lokasi itu akan dibangun guest house dan covention center.

“Bagi wisatawan yang ingin belajar tentang Islam atau ingin menikmati keindahan masjid dan Kota Banda Aceh, bisa menginap di guest house itu dan semua unit itu dikelola dengan system manajemen islam,” ungkap Zaini saat itu. Selanjutnya, untuk kawasan timur akan dijadikan sebagai media center. Di areal itu akan dibangun berbagai sarana penyiaran berita islami dan penyebarluasan informasi soal agama Islam. Sebuah Departemen Store, jelas Gubernur, juga akan dibangun di kawasan timur.

Bangunan tersebut nantinya akan difungsikan sebagai central bisnis yang akan dikelola oleh pengurus Masjid Raya Baiturrahman. Sedangkan zona utama akan dibangun pusat percetakan dan Galeri serta berbagai sarana untuk pameran. Sementara kawasan utara nantinya akan terhubung dengan Krueng Aceh sehingga menambah keindahan dan keunikan masjid. Saat soft launching semalam, proses pembangunannya baru hampir selesai tahap awal.

“Masjid Raya Baiturrahman tempat kita berada saat ini, diawal berdirinya menjadi simbol peradaban islam dan pusat perjuangan rakyat Aceh mempertahankan kesultanan Aceh Darussalam,” ungkap Zaini tadi malam.

Masjid Baiturrahman yang dibangun Sultan Iskandar Muda Mahkota Alam pada tahun 1022 H/1612 M ini menjadi saksi bisu perang, tsunami, dan damai Aceh. Pada masa penjajahan Belanda, masjid tersebut sempat dibakar pada 10 April 1873. Berselang beberapa tahun kemudian, serdadu penjajah membangun kembali masjid pada tahun 1877 untuk menarik perhatian serta meredam kemarahan masyarakat Tanah Rencong.

Akhir 2016 lalu, Masjid Baiturrahman meraih predikat sebagai World’s Best Halal Cultural Destination, pada ajang World Halal Tourism Award (WHAT) yang digelar di Abu Dhabi. Predikat itu membuat Pemerintah Aceh semakin meningkatkan sarana dan prasarana masjid.

“Prestasi ini tentu menuntut kita untuk bekerja lebih keras lagi, meningkatkan kualitas sarana dan prasarana dilingkungan Masjid Raya Baiturrahman,” jelas Zaini.

“Kepada para pihak yang terlibat dalam proyek Pengembangan Landscape dan Insfrastruktur Masjid Raya Baiturrahman ini, agar dapat lebih memacu kinerjanya, sehingga seluruh proyek ini dapat selesai tepat waktu sesuai dengan harapan kita bersama,” kata gubernur.

Walau sudah dilakukan peluncuran, namun pagar yang menutup proyek pembangunan belum sepenuhnya dibuka. Meski demikian, pengunjung masih dapat menikmati keindahan masjid dengan masuk lewat masuk sebelah utara dan selatan masjid.

Penasaran dengan nuansa baru yang mirip Masjid Nabawi? Yuk kunjungi Masjid Raya Baiturrahman! (bnl/aff)

DAYA TARIK KEUKARAH BAGI PELANCONG

Banda Aceh – Persediaan Keukarah atau Karah di gerai kue tradisional Pak Adnan (57) di kawasan Pasar Atjeh sempat habis. Adnan sang pemilik gerai memesannya kembali, karena kue khas Aceh itu diminati banyak warga dan pelancong.

“Ini baru diantar lagi kue nya, sudah habis sejak kemarin, padahal ini baru beberapa hari usai hari raya, pembuat kue masih libur,” ujar Adnan sambil tertawa, Jumat 15 Juli 2016.

karah

Pembelinya kebanyakan wisatawan yang menghabiskan libur hari raya di Banda Aceh, sebut Adnan. “Kalau kemarin banyak orang Malaysia yang beli, mereka suka karena bentuknya unik dan rasanya tidak terlalu manis, cocok untuk camilan saat jalan-jalan,” ujar Adnan.

Keukarah memang kue yang banyak dilirik para wisatawan. Selain pelancong dari Malaysia, sebut Adnan, pengunjung asal Jakarta dan beberapa kota di Pulau Jawa dan Sumatera, juga memilih Keukarah sebagai camilan saat jalan-jalan.
“Alasannya ya itu tadi, bentuknya lucu dan rasanya manis gurih menjadi daya tarik dan enak dimakan,” jelas pria yang sudah berjualan kue kering Aceh sejak tahun 1980 tersebut.

Hal senada juga dikatakan Kak Upik, pengelola toko souvenir Cut Nyak Souvenir yang berlokasi di jalan Mohd Jam Banda Aceh. Menurut Upik, dari sekian banyak jajanan kering tradisional Aceh, maka Keukarah menjadi jajanan yang selalu dilirik para pelancong, terutama pelancong asal Malaysia. “Belum pernah makan juadah yang seperti ini, rasanya enak, saya suka,” aku Puan Rusydah, pelancong asal Kualalumpur Malaysia, saat berkunjung ke gerai kue pak Adnan.

Serombongan turis asal Malaysia ini pun memborong sejumlah kue untuk dijadikan oleh-oleh.

Ari, pengunjung asal Jakarta juga melakukan hal yang sama. Mengemas Keukarah sebagai oleh-oleh untuk dibawa pulang ke Jakarta. “Ini nanti mau dibagi ke keluarga dan teman-teman,” katanya. Harga Keukarah terbilang murah, mulai Rp 10 ribu hingga Rp 25 ribu sesuai dengan ukuran kemasan yang ada.

Di era tahun 1980-an hingga tahun 1990-an, kenang Adnan, kue Keukarah ini sulit ditemukan di hari-hari biasa. Pasalnya kue dengan bentuk seperti sarang burung ini, biasanya hanya dibuat saat hari raya saja atau pada saat adanya kenduri pesta perkawinan. Dalam pesta perkawinan, Keukarah akan menjadi bagian penting dari antaran pengantin.

karah 2

“Jadi ini kue adat kalau untuk orang aceh. Tapi sekarang karena zaman sudah maju, kini kue ini lebih memasyarakat, artinya bisa jadi lebih mudah ditemui tapi fungsinya sebagai kue adat tetap masih berlaku, yakni sebagai adat pemulia jamee (adat memuliakan tamu). Bentuknya ya sebagai oleh-oleh untuk tamu yang datang berkunjung ke sini,” jelasnya.

Keukarah terbuat dari tepung beras yang diadon dengan santan dan diberi gula. Dimasak dengan cara digoreng dengan ditiriskan dari kaleng kecil yang sudah diberi lubar kecil sekelilingnya, lalu adonan ditiriskan ke dalam minyak panas. Setelah digoreng Keukarah dibentuk seperti bulan sabit. Ada juga berbentuk bulat lonjong.

“Dulu untuk satu Keukarah ukurannya setengah piring makan orang dewasa. Kini bentuk dan ukuran semakin inovasi bahkan ada seukuran jari-jari namun tetap dalam bentuk bulan sabit,” ujar Adnan.

Selain Keukarah, di pusat wisata kuliner Pasar Atjeh, Banda Aceh, ada beberapa camilan kue kering juga menjadi favorit bagi pelancong di antaranya Pisang Sale Goreng, Bada Reuteuk dan Lontong Paris. Pasar Atjeh teretak persis di samping Masjid Raya Baiturrahman. [Yayan]

Sumber : http://www.bandaacehtourism.com/objek-wisata/kuliner/daya-tarik-keukarah-bagi-pelancong

Temu Penyair 8 Negara akan Dibuka Malam Ini

Gubernur Aceh H Zaini Abdullah, Jumat (15/7/2016) malam akan buka Temu Penyair 8 Negara di Anjong Mon Mata Banda Aceh. Acara yang dilaksanakan Dinas Kebudaayan & Pariwisata Aceh bekerjasama dengan Lapena berlangsung, 15-18 Juli 2016 di Banda Aceh. Menurut Koordinator Aceh, Helmi Hass, peserta yang diundang pada temu penyair pertama di Aceh ini, berjumlah 120 orang. Minat peserta untuk hadir ke Aceh sangat tinggi, sehingga banyak peserta ingin ikut jadi peserta.

“Awalnya panitia rencanakan mengundang sekitar 100 orang, namun dalam pejalanan bertambah jadi 120 orang. Mudah-mudahan semua peserta bisa hadir dalam acara ini,” sebut Helmi.

Temu-Penyair-Poem-Summit-2016_Baliho-B-850x600-Horizontal

Sebelum acara pembukaan usai melaksanakan shalat berjamaah di Masjid Raya Baiturrahman Banda Aceh, peserta dijamu makan malam bersama dan ramah tamah dengan gubernur Aceh di pendopo. Pada malam pembukaan, gubernur juga akan meluncurkan 27 judul buku karya penyair dari berbagai negara. Buku-buku tersebut akan dipamer dan dibedah pada acara seminar internasional, Sabtu (16/7/2016) seharian penuh di Gedung ACC Sultan Selim Banda Aceh.

Acara yang dimeriahkan ekspresi sastra dan seni, akan tampil delegasi mewakili negara untuk membacakan puisi. Masing-masing, Atzimba Luna Becerril (Meksiko), Amir Rahimi (Iran), Yang Seung Yoon (Korea Selatan), Nik Abdul Rakib bin Nik Hassan (Thailand), Raja Ahmad Aminullah (Malaysia), Zefri Hariff (Burnai Darussalam), Anie Din (Singapura) dan Rida K Liansi (Indonesia).

Kadis Kebudayaan dan Pariwisata Aceh, Drs Reza Fahevi MSi mengharapkan semua peserta yang diudang ke Aceh bisa hadir, sehingga tamu dari luar bisa merekam suasana damai Aceh, jejak budaya dan menikmati beragam kuliner khas Aceh.

“Kehadiran tamu dari luar ke Aceh penting. Kami berharap mereka akan menjadi juru informasi positif bagi pengembangan wisata Aceh ke depan,”kata Reza.

 

Sumber: aceh.tribunnews.com

Ratusan Peserta Ramaikan 100 Tenda se-Nusantara

Sebanyak 450 peserta dari sejumlah provinsi di Tanah Air serta peserta asal luar negeri ikut meramaikan kegiatan 100 tenda se-Nusantara di tepian Danau Laut Tawar, Kabupaten Aceh Tengah, Sabtu dan Minggu (9-10/7/2016).

“Peserta yang telah mendaftar dan ambil bagian pada kegiatan ini juga ada dari luar negeri yakni peserta dari Malaysia,” kata Ketua panitia, Sani Tarigan di Takengon.

Ia menjelaskan kegiatan 100 Tenda Se-Nusantara bermalam di tepian Danau Laut Tawar, Takengon, Kabupaten Aceh Tengah tersebut merupakan kegiatan yang telah berjalan dua tahun.

Camping-100-tenda-2016_Takengon_Aceh-Tengah-e1468132337526

“Peserta yang mendaftar di luar target, kita hanya memperkirakan 100 tenda, tapi jumlah peserta mencapai 450 orang, jadi ada diantara peserta membawa tenda sendiri,” kata Sani.

Ia mengatakan tingginya animo peserta pada kegiatan tersebut, pihaknya merencanakan pada kegiatan selanjutnya akan diselenggarakan lebih luas sehingga peserta yang datang lebih banyak lagi.

“Mungkin tahun depan akan kita jadikan 1000 tenda dengan jangkauan tidak lagi Nusantara tapi dunia,” katanya.

Ia mengatakan sebelum menuju lokasi berkemah, peserta 100 Tenda Se-Nusantara dijamu Bupati Aceh Tengah, Nasaruddin di pendopo bupati daerah setempat.

Nasaruddin menilai sangat positif kegiatan tersebut dan orang nomor satu di Dataran Tinggi Gayo tersebut menekankan agar kegiatan tersebut dapat dilaksanakan secara berkelanjutan dengan menjangkau peserta yang lebih luas.

“Kita berharap melalui even 100 tenda se-Nusantara, wisata Aceh Tengah akan semakin diminati sebagai salah satu destinasi wisata favorit di Aceh,” demikian Nasaruddin.

Agenda Tahunan 100 Tenda

Suksesnya acara 100 tenda yang digelar Pantai Gading, Bebuli, menurut panitia nantinya akan dijadikan agenda tahunan. Kegiatan yang sukses dan menyita perhatian banyak pihak ini, merupakan momen yang tepat untuk mempromosikan daerah.

Menurut panitia, kegiatan 100 tenda ini akan menjadi ajang promosi Gayo agar lebih dikenal dunia, lewat potensi wisata dan juga keunggulan panorama alamnya.

Sumber: Antara/Lintas Gayo | Foto: IG @100tenda

 

MARTUNIS, BOCAH AJAIB ADIK ANGKAT CRISTIANO RONALDO

Masyarakat Indonesia, mungkin tidak banyak yang tahu sosok Martunis, 13, siswa kelas 2 SMPN 8 Banda Aceh. Namun di Portugal, nama Martunis menjelma sebagai sosok anak ajaib dan pahlawan kemanusiaan yang banyak dikagumi dan dibanggakan oleh penduduk Eropa. Bintang dunia sekelas Cristiano Ronaldo dan penyanyi top Madona angkat topi untuk Martunis.

Tidak hanya dua nama superstars itu yang dibuat tercengang oleh aksi patriotisme Martunis. Sederetan nama bintang sepakbola dunia seperti Louis Figo, Nuno Gomes, dan Pelatih Luiz Felipe Scolari serta Ketua Federasi Sepak Bola Gilberto Madail, cuma bisa geleng-geleng kepal. Sementara penyanyi sekelas Celion Dion bangga bisa bertemu dengan Martunis.

Siapa sebenarnya Martunis?

Saat Tsunami meluluh-lantakan Aceh pada 26 Desember 2004 silam, Martunis sosok anak tegar dan bertanggung jawab atas keluarganya. Dia berusaha menyelamatkan dirinya dan Ibundanya serta saudaranya dengan menumpang sebuah bak kendaraan bak terbuka jenis pikap. Sayang, saat upaya penyelamatan keluarganya itu, kendaraan yang ditumpanginya dihantam ombak besar dan tenggelam bersama seluruh penumpangnya termasuk Martunis yang pada saat itu mengenakan kaos sepak bola Nasional Portugal.

Keajaiban Tuhan berpihak kepada Martunis. Martunis muncul dipermukaan air dan berusaha menyelamatkan diri dengan meraih sepotong kayu untuk membawanya ke tempat aman. Dari kayu Martunis pindah ke kasur, sayang kasur yang dijadikan pegangan dia tenggelam. Martunispun berusaha mencari dan memanjat sebatang pohon untuk mempertahankan hidupnya. Dia dinyatakan selamat, setelah setelah arus tsunami mulai surut.

Meski begitu, Martunis baru bernafas lega setelah 19 hari perjuangannya ditemukan warga di daerah area pemakaman Tengku Syiah Kuala pada 15 Januari 2005. Warga menyerahkan Martunis kepada salah satu media elektronik Inggris. Dalam waktu beberapa menit saja, wajah dan kisah perjuangan Martunis beredar di statisun televise Eropa.

Berawal dari situ, nama Martunis langsung naik daun di daerah Portugal. Salah satu media harian nasional di Portugal 24 Hours memberi lima halaman khusus bagi pahlawan cilik Nanggroe Aceh Darussalam itu khusus mengupas kepahlawannya, dengan mengusung judul “A Nova Vida de Martunis” atau “kehidupan baru martinis”.

Beberapa kali Martunis diundang sebagai tamu kehormatan. Selain jiwa kepahlawannya, simpati masyarakat Eropa khusunya Portugal, karena saat dalam perjuangan hidup-matinya itu, Martunis mengenakan seragam timnas sepakbola Portugal. Martunis dipertemukan dengan pesepakbola dunia seperti Louis Figo, Nuno Gomes, dan idolanya, Cristiano Ronaldo.

Tidak hanya para bintang lapangan hijau, sejumlah bintang panggung dunia seperti Madona dan Celion Dion memberi simpati luar biasa kepada Martunis. Bahkan diva dunia Celion Dion memasuakan nama Martunis dalam buku 12 Heroes Among Us. Dalam buku itu Martunis ditahbiskan sebagai salah satu dari pahlawan yang “manusiawi”. “Pahlawan yang tidak perlu kekuatan super untuk menjadi pahlawan. Mereka hanya memerlukan bersemangat dan tidak menyerah”.

MARTUNIS

Betul kata Dion, untuk menjadi seorang pahlawan, tidak harus angkat senjata yang menguras uang Negara. Menjadi Pahlawan tidak harus berangkatemedanperang. Karena sejatinya, pahlawan itu mengabdikan dan mengorbankan dirinya untuk memperjuangkan dan membela sesuatu yang diyakini sebuah kebenaran.

Martunis hanya seorang bocah Banda Aceh berusia belasan tahun. Namun aksi yang sudah dia lakukan patut menjadi inspirasi bagi orang dewasa. Dan karenanya, saya menjadi malu, karena udah gede segini, belum memberi sesuatu yang terbaik untuk apapun dan bagi siapapun. [bakudara.com]

 

Source : http://hack87.blogspot.co.id/2010/02/anak-aceh-gegerkan-dunia.html

Kemenpar sambut baik “Wonderful Ramadhan in Aceh”

Jakarta (ANTARA News) – Kementerian Pariwisata menyambut baik lomba mempromosikan wisata halal Aceh melalui media sosial bertema “Pesona Ramadhan di Aceh” yang diselenggarakan Dinas Pariwisata di provinsi Bumi Serambi Mekkah itu. Menteri Pariwisata Arief Yahya dalam keterangan di Jakarta, Senin, menyebutkan ada tiga poin yang bisa diambil manfaat dari lomba itu.

Pertama, mempopulerkan Aceh sebagai “halal destination”, kedua, mempromosikan Aceh melalui media sosial, dan ketiga, menjadikan Ramadhan sebagai momentum untuk mengambil peluang melakukan “branding” Aceh”. Agar lomba ini diikuti oleh banyak orang maka harus dipromosikan di media sosial dan media digital. Promosikan, ini akan membuat Aceh makin mendunia,” katanya.

Masjid-Baiturahman-Banda-Aceh

Kepala Dinas Pariwisata Provinsi Aceh Reza Pahlevi mengatakan lomba itu merupakan terobosan kreatif menyambut bulan suci Ramadhan untuk memantik wisatawan berkunjung ke Aceh.Lomba itu bertema Pesona Ramadhan di Aceh (Wonderful Ramadhan in Aceh) dengan peserta WNI yang berdomisili di Aceh dengan menunjukkan fotokopi KTP dan memiliki akun instagram dan youtube.

Ia mengatakan karya video yang dilombakan bersifat orisinal karya sendiri, tidak mengambil atau menjiplak buatan orang lain, tidak “mencuri” hasil kerja orang lain, baik sebagian maupun keseluruhan. Karyanya tidak mengandung unsur SARA (suku, agama, ras, dan antargolongan) dan pornografi. Satu peserta hanya boleh mengunggah satu karya dengan durasi 2-3 menit sudah termasuk pembukaan dan penutupan di youtube dan ringkasannya dengan durasi satu menit diunggah di instagram. Link youtube dicantumkan saat mengunggah di instagram.

masjid-raya-baiturrahman_20150617_224326

Gambar video yang diambil menggunakan kamera telepon pintar, DSLR, mirrorless, atau sejenisnya dengan format full HD 1080×1920. Selain itu, kata Reza, “follow” dan “tag” akun instagram @atwitlovers dan @disbudpar_aceh serta dengan tagar #thelightofaceh, #halaltourism, dan #RamadhandiAceh.

Peserta diperbolehkan menggunakan materi berupa musik atau lagu milik orang lain dalam karya videonya, namun harus seizin pemilik/free copyright. Karya video menceritakan tentang suasana dan kegiatan Ramadhan di Aceh, karya video pemenang akan menjadi hak milik panitia dan dapat digunakan untuk publikasi pariwisata.

Reza mengatakan penentuan pemenang berdasarkan penilaian juri dan tentunya dengan kriteria.

“Dilihat kesesuaian dengan tema, pesan yang disampaikan dan teknik pengambilan gambar dan penyuntingan,” katanya. Ia menegaskan Aceh harus terus mendunia, salah satunya dengan menggunakan sosial media.

Untuk juara I akan mendapatkan HD external harddisk 500GB + merchandise, juara II powerbank 16.000mhA + merchandise, juara III tongsis monopod + merchandise, dan masih banyak lagi.

Peserta mengikuti pawai keliling kota menyambut bulan suci Ramadan di Banda Aceh, Aceh, Rabu (1/6). Pawai Ramadhan yang dilepas Wali Kota Banda Aceh Illiza Sa'aduddin Djamal tersebut diikuti sekitar 10.000 umat muslim yang terdiri dari pelajar, ormas Islam, dan pegawai negeri sipil. ANTARA FOTO/Ampelsa/kye/16
Peserta mengikuti pawai keliling kota menyambut bulan suci Ramadan di Banda Aceh, Aceh, Rabu (1/6). Pawai Ramadhan yang dilepas Wali Kota Banda Aceh Illiza Sa’aduddin Djamal tersebut diikuti sekitar 10.000 umat muslim yang terdiri dari pelajar, ormas Islam, dan pegawai negeri sipil. ANTARA FOTO/Ampelsa/kye/16

Source : Antara News

Kagum dengan Akhlak Muslim di Aceh, Gadis California ini Memeluk Islam

BANDA ACEH – Emma Wei, gadis asal California, Amerika Serikat, ba’da Jumat (27/06/2016)  memutuskan memeluk Islam dan mengucapkan dua kalimah syahadat yang dituntun Ustad Drs Syaifuddin di Masjid Taqwa, Gampong Seutui, Kecamatan Baiturrahman, Banda Aceh.

baca syahadat
                                                                                           Ilustrasi

Gadis keturunan Taiwan yang lahir di Amerika Serikat, 06 Februari 1993 ini, mengaku kagum dengan akhlak yang dilihat pada muslim di Aceh yang dia temui, terutama sejumlah pria kenalannya di Radja Gym, Neusu Aceh, kecamatan sama.

“Muslim-muslim di sini sangat menghargai saya, meski mereka tahu saya seorang nonmuslim. Bahkan saya selalu diajak bicara dan membantu apa saja yang menjadi kendala yang saya temui,”  kata Emma Wei yang berganti nama Annisa Humaira, kepada Serambinews.com.

Ia mengatakan selama setahun telah berada di Banda Aceh, Annisa merasa tidak takut sama sekali, meski harus jauh dari keluarga.

Justru, sebutnya hatinya begitu tenang, selain banyak teman-teman muslim yang sangat menghargainya, Anissa juga mengagumi silahturahmi yang erat sesama muslim di Aceh.

“Hal yang paling membuat saya kagum, mereka selalu shalat tepat waktu dan selalu mengucapkan salam saat bertemu sesama muslim,” ungkap Annisa.

Prosesi pensyahadatan Emma Wei yang berganti nama muslimah Annisa Humaira di Masjid Taqwa, ikut disaksikan Kadis Syariat Islam, Mairul Hazami, Keuchik Gampong Seutui, Syaiful Banta SE Ak.

Lalu ikut hadir Camat Baiturrahman, M Rizal SSTP, Kapolsek AKP Zulham, dan Danramil Baiturrahman, Kapten Inf Sumastono.

028740300_1447053266-kecantikan-mualaf-asal-korea-ini-hebohkan-netizen-kbYyGjVhok
                                                                                         Muallaf Korea

Source : Serambi Indonesia

 

Makan di Resto Hotel, Pastikan Paham 6 Istilah Ini Dahulu

Merdeka.com – Tiap hotel memiliki restoran dengan fasilitas dan sajian menu berbeda. Tergantung pada kelas masing-masing. Untuk resto hotel kelas menengah, biasanya menyuguhkan fasilitas dan signature dish (menu khas) yang lebih sederhana.

Beda lagi jika kamu mau makan hidangan resto hotel mewah bintang 5. Mereka tentu saja melengkapi dengan layanan eksklusif dan menu-menu premium.

Terlepas dari itu, ada beberapa istilah yang sebaiknya dipahami para turis agar tak canggung saat makan di resto hotel. Berikut ulasannya.

  1. Buffet

Layanan Buffet telah banyak dipakai di restoran hotel kelas atas dan menengah. Berbagai macam makanan dan minuman disajikan di atas meja dan para tamu bebas untuk mengambilnya sesuai selera. Jika Anda ingin memesan menu yang tidak terdapat di Set Buffet umumnya akan dikenakan biaya tambahan.

buffet

  1. Banquet

Banquet mirip seperti Buffet Service. Bedanya, makanan disiapkan untuk kelompok dalam jumlah tertentu, sesuai pesanan. Menu-menu yang disajikan juga sudah ditentukan sebelumnya. Layanan resto hotel semacam ini biasanya digunakan oleh sejumlah orang yang mengadakan rapat, pernikahan, seminar, dan konferensi.

buffet 2

  1. Ala Carte Menu

Menu Ala Carte adalah susunan menu dimana makanan dan minuman dicantumkan per item dengan harga terpisah. Menu semacam ini juga berlaku di berbagai restoran pada umumnya. Anda perlu sedikit bersabar saat memesan Menu Ala Carte, karena menu baru dimasak setelah dipesan.

  1. Room Service Menu

Room Service Menu merupakan layanan makanan untuk tamu di kamar hotel. Layanan ini biasanya menawarkan menu yang lebih sedikit dibanding yang ditawarkan di restoran. Anda bisa menggunakan telepon di kamar hotel untuk memesan Room Service Menu.

  1. Table Service

Anda hanya perlu duduk di meja makan, kemudian waiter/waitress akan melayani makanan dan minuman Anda. Terdapat beberapa jenis layanan table service yaitu Table Service gaya Amerika, Inggris, Prancis, dan Rusia. Masing-masing mempunyai ciri khas dan keunikannya sendiri.

table manner

  1. Table D’Hote

Table D’Hote adalah susunan hidangan lengkap (complete meal) yang ditawarkan untuk satu harga. Terdapat dua hidangan atau lebih yang ditawarkan dalam menu, masing-masing memliki harga tersendiri. Anda dapat memilih makanan di antara kelompok menu tersebut.

(Berbagai sumber)

 

ACEH BAKAR “SERIBU TUNGKU APAM” UNTUK REKOR MURI

ACEH  akan memecahkan rekor bakar surabi “Seribu tungku” dalam Aceh Culinary Festival dan Banda Aceh Coffee Festival, 10 sampai 12 Mei 2016.

Aceh Culinary Festival yang tahun ini mengangkat tema ‘Melestarikan Budaya dan Tradisi Legenda Kuliner Aceh’  berlangsung di Lapangan Blang Padang.

Festival Kopi dan Aceh Culinary Festival 2016

Reza Pahlevi, Kadibudspar Aceh, mengatakan festival ini menawarkan agenda menarik untuk pengunjung; mulai dari pameran resep dan mencicipi 1000 Legenda Kuliner Aceh. Ada pula lomba memasak kuliner khas Aceh, yang menjadi ajang pencarian Koki Masakan Aceh.

Khusus lomba masak, panitia menghadirkan Chef Haryo Pramoe. Panitia juga menyediakan hadiah total Rp 20 juta untuk pemenang pertama dan ketiga. “Kami juga akan berusaha memecahkan rekor Muri melalui ‘Teot Apam’, yakni membakar surabi dengan 1000 tungku,” kata Pahlevi.

Acara Teot Apam akan menjadi suguhan menarik karena diikuti masyarakat sekitar, dan bertepatan dengan bulan Rajab. Dalam istiadat Aceh, Rajab dipercaya sebagai buleun Teot Apam.

Toet-Apam-Bakar-Serabi

“Khanduri kuah beulangong juga akan menjadi daya tarik acara ini. Kari khas Aceh ini akan dihidangkan untuk 32 walikota se Indonesia yang hadir pada acara Jaringan Kota Pusaka Indonesia,” kata Pahlevi.

Aceh Culinary Festival bukan event biasa, tapi ajang nostalgia masyarakat yang kehilangan beberapa masakan khas Aceh resep nenek moyang. Panitia juga mengajak pemuda Aceh melestarikan berbagai kuliner menarik.

Mengenai Banda Aceh Coffee Festival, Pahlevi mengatakan acara ini bertujuan menguatkan kapasitas pelaku usaha kopi dalam negeri. Panitia mengundang eksportir lokal dan mancanegara, dengan harapan ekspor kopi dari Aceh meningkat.

kuah belangong

Kapala Bidang Pemasaran Pariwisata Aceh Rahmadani menambahkan kompetisi kopi tahun ini menghadirkan barista papan atas, yang masing-masing menunjukan kemampuan meracik kopi sedara tradisional.**

 

Kapal Pesiar MV Artania Merapat di Dermaga Sabang

BANDA ACEH–Sabang, kota di ujung barat Indonesia, kembali dikunjungi kapal pesiar mancanegara. Kali ini MV Artania yang merapat di dermaganya, dan menurunkan 700 wisatawan mancanegara.

Artania bukan kapal sembarangan. Semula, kapal ini — dibuat di galangan kalap Finlandia — bernama Royal Princess. Nama itu itu diberikan Putri Diana saat kali pertama diluncurkan tahun 1984.

artania 3

Kapal sempat berganti nama menjadi Artemis, nama salah satu dewa dalam kepercayaan Mesir kuno, dan tahun 2011 berganti nama lagi menjadi Artania sebagai akibat pergantian pemilik. Kini, Artania dimiliki Artania Shipping, dengan Phoenix-Reisen sebagai operator.

Di Sabang, turis tidak hanya turun dari kapal dan menikmati suasana kota. Mereka melakukan overland, atau menjelajah wilayah yang lebih jauh ke jantung Pulau Weh.

Sebanyak 500 awak kapal juga turut dalam overland, yang membuat Sabang tiba-tiba kebanjiran wisatawan mancanegara.

Reza Pahlevi, kepala Dinas Pariwisata Aceh, mengatakan MV Artania tiba Kamis (7/4) sekitar pukul 10:00 WIB. Warga di sekitar Dermaga Sabang tidak aneh dengan kunjungan MV Artania, karena ini kali kedua kapal itu datang dan menurunkan wisatawan.

Seperti biasa, ada acara peumulia jamee — atau memuliakan tamu. Penumpang disambut tarian Guel, yang berasal dari dataran tinggi Gayo, Aceh. Elman Muehlebach, kapten Artania, mendapat pengalungan bunga.

artania

“Penumpang dari berbagai negara sangat menikmati penyambutan kami,” kata Pahlevi. “Ada yang ikut menari, dan berfoto bersama dengan penari.”

Menurut Pahlevi, semua ini berkat terobosan berani Menteri Pariwisata (Menpar) Arief Yahya. Kapal pesiar kini tidak lagi sulit menyambangi pelabuhan-pelabuhan di Indonesia, dan menurunkan penumpangnya.

Selama di Sabang, sebagian turis menikmati suasana dengan berkendara atau berjalan kaki. Tidak sedikit yang berbaur dengan warga sekitar, dan menikmati kopi di warung-warung.

Pengemudi becak motor menikmati rejeki mendadak, penjual kerajinan sibuk melayani wisatawan yang membelanjakan uangnya. Kopi asli Aceh menjadi souvenir paling dicari.

artania 2

Sepanjang 2016, Sabang telah disinggahi 16 kapal pesiar. Menpar Arief Yahya yakin akan makin banyak kapal pesiar yang berkunjung ke Aceh, dengan beberapa dari mereka datang berali-kali.**

 

Source : PontianakPost