Sejarah Bangunan Gunongan Aceh

Taman Sari Gunongan Banda Aceh merupakan Salah satu bangunan peninggalan budaya yang bernilai sejarah dan masih dapat kita saksikan dalam keadaan utuh adalah Gunongan lengkap dengan taman sarinya. Gunongan ini terletak di pusat kota Banda Aceh, tepatnya berada di Kelurahan Sukaramai, Kecamatan Baiturahman, Kota Banda Aceh. Lokasi ini dapat dijangkau dengan menggunakan kendaraan bermotor atau labi-labi melalui jalan Teuku Umar. Taman Sari Gunongan merupakan salah satu peninggalan kejayaan Kerajaan Aceh, setelah kraton (dalam) tidak terselamatkan karena Belanda menyerbu Aceh.


Taman Sari Gunongan ini terbuka untuk umum, yang dibuka dari jam 7.00-18.00 WIB. Di Pinto Khop, yang berada tidak jauh dari Gunongan, terdapat taman bermain anak-anak sehingga tempat ini ramai dikunjungi terutama pada sore hari atau hari-hari libur. Di Taman Sari ini terdapat pula kantor Suaka Peninggalan Sejarah dan Purbakala yang mengelola bangunan, situs bersejarah di Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam dan Sumatra.

Gunongan dibangun pada masa pemerintahan Sultan Iskandar Muda yang memerintah tahun 1607-1636. Pada masa itu, pada tahun 1613 dan tahun 1615 melalui penyerangan dengan kekuatan ekspedisi Aceh 20.000 tentara laut dan darat, Sultan Iskandar Muda berhasil menaklukkan Kerajaan Johor dan Kerajaan Pahang di Semenanjung Utara Melayu. Sebagaimana tradisi pada zaman dahulu, kerajaan yang kalah perang harus menyerahkan glondong pengareng-areng (pampasan perang), upeti dan pajak tahunan. Di samping itu juga harus menyerahkan putri kerajaan untuk diboyong sebagai tanda takluk.

Putri boyongan itu biasanya diperistri oleh raja dengan tujuan untuk mempererat tali persaudaraan dari kerajaan yang ditaklukkannya, sehingga kerajaan pemenang menjadi semakin besar dan semakin kuat kedudukannya. Penaklukan Kerajaan Johor dan Kerajaan Pahang di Semenanjung Melayu berpengaruh besar terhadap diri Iskandar Muda. Putri boyongan dari Pahang yang sangat cantik parasnya dan halus budi bahasanya membuat Sultan Iskandar Muda jatuh cinta dan menjadikannya sebagai permaisuri.

Demi cintanya yang sangat besar, Sultan Iskandar Muda bersedia memenuhi permintaan permaisurinya untuk membangun sebuah taman sari yang sangat indah, lengkap dengan Gunongan sebagai tempat untuk menghibur diri agar kerinduan sang permaisuri pada suasana pegunungan di tempat asalnya terpenuhi. Selain sebagai tempat bercengkrama, Gunongan juga digunakan sebagai tempat berganti pakaian permaisuri setelah mandi di sungai yang mengalir di tengah-tengah istana Brakel (1975) melukiskan dalam Bustan, gunongan ini dikenal sebagai gegunungan dari kata Melayu gunung dengan menambahkan akhiran ‘an’ yang melahirkan arti “bangunan seperti gunung” atau “simbol gunung”. Jadi gunongan adalah simbol gunung yang merupakan bagian dari taman-taman istana Kesultanan Aceh.

Gunongan adalah bagian dari suatu kompleks yang lebih luas, yaitu Taman Ghairah, yang merupakan bagian dari taman istana. Di kompleks ini sekarang hanya tersisa empat buah bangunan:Gunongan itu sendiri; leusong (lesung batu) terletak di kaki Gunongan, agak di bagian Tenggara; kandang, sebuah bangunan empat persegi di bagian utara di arah timur laut sepanjang sungai Krueng Daroy; dan Pinto Khop adalah sebuah pintu gerbang berbentuk kubah yang dulunya menghadap istana dan menghubungkan taman dengan alun-alun istana. Hanya anggota keluarga istana kerajaan yang diizinkan melewati pintu gerbang ini. Adapun detail dari bagian dari Taman Sari Gunongan itu adalah

1. Gunongan berdiri dengan tinggi 9,5 meter, menggambarkan sebuah bunga yang dibangun dalam tiga tingkat. Tingkat pertama terletak di atas tanah dan tingkat tertinggi bermahkota sebuah tiang berdiri di pusat bangunan. Keseluruhan bentuk Gunongan adalah oktagonal (bersegi delapan). Serambi selatan merupakan lorong masuk yang pendek, tertutup pintu gerbang yang penyangganya sampai ke dalam gunung.

  1. Penterana Batu berukir berupa kursi bulat berbentuk kelopak bunga yang sedang mekar dengan lubang cekung di bagian tengah. Kursi batu ini berdiameter 1m dengan arah hadap ke utara dengan tinggi 50 cm. Sekeliling peterana batu berukir berhiaskan arabesque berbentuk motif jaring atau jala. Peterana batu berukir berfungsi sebagai tahta tempat penobatan sultan. Belum diketahui dengan pasti nama-nama sultan yang pernah dinobatkan di atas peterana batu berukir tersebut. Bustanus as Salatin menyebutkan ada dua buah batu peterana, yaitu peterana batu berukir (kembang lela masyhadi) dan peterana batu warna nilam (kembang seroja). Namun yang masih dapat disaksikan hingga saat ini adalah peteranan batu berukir kembang lela masyhadi yang terletak bersebelahan dengan gunongan dan berada di sisi sungai.
  2. Kandang Baginda merupakan sebuah lokasi pemakaman keluarga sultan Kerajaan Aceh, di antaranya makamSultan Iskandar Tsani(1636-1641) sebagai menantu Sultan Iskandar Muda (1607-1636) dan istri Sultanah Tajul Alam (1641-1670). Bangunan kandang berupa teras dengan tinggi 2 m dikelilingi oleh tembok dengan ketebalan 45 cm dan lebar 18 m. Bangunan ini dibuat dari bahan bata berspesi kapur serta berdenah persegi empat dengan pintu masuk di sisi selatan. Areal pemakaman terletak di tengah lahan yang ditinggikan. Konon, lahan yang ditinggikan pernah dilindungi oleh satu bangunan pelindung. Pagar keliling kandang mempunyai profil berbentuk tempat sirih dengan tinggi 4 m. Pagar ini diperindah dengan beragam ukiran berbentuk nakas, selimpat (segi empat?), temboga (seperti hiasan tembaga?), Mega arak-arakan (awan mendung), dan dewamala (hiasan serumpun bunga dengan kelopak yang runcing dan bintang yang merupakan hiasan pada kolom tembok keliling berupa arabesque berbentuk pola suluran mengikuti bentuk segi empat. Mega arak-arakan yaitu hiasan arabesque berupa awan mendung yang dibentuk dari suluran sebagai hiasan sudut pada bingkai dinding. Dewamala merupakan hiasan yang berbentuk menara-menara kecil berjumlah dua belas buah di atas tembok keliling terutama bagian sudut, berbentuk bunga dengan kelopak daunnya yang runcing menguncup. Menurut sumber, bangunan ini dibuat oleh orang Turki atas perintah sultan.
  3. Medan Khairani merupakan sebuah padang luas di sisi barat Taman Ghairah yang pernah dihiasi dengan pasir dan kerikil yang dikenal dengan nama sebutan kersik batu pelinggam. Sebagian besar lahannya kini digunakan sebagai Kerkoff, kompleks makam Belanda yang juga disebut Pocut. Kompleks makam ini digunakan untuk mengubur prajurit Belanda yang gugur dalam Perang Aceh (1873-1902).
  4. Balai merupakan bangunan yang banyak dibangun di dalam Taman Ghairah. Dalam Bustan as Salatin diuraikan mengenai lima unit balai dengan halaman pada tiap-tiap balai beserta teknik pembangunan dan kelengkapan ragam hiasnya. Balai merupakan bangunan panggung terbuka yang dibangun dari kayu dengan fungsi yang berbeda-beda. Balai-balai tersebut antara lain Balai Kambang tempat peristirahatan, Balai Gading tempat kenduri dilaksanakan, Balai Rekaan Cina tempat peristirahatan yang dibangun oleh ahli bangunan dari Cina, balai keemasan tempat peristirahatan yang dilengkapi dengan pagar keliling dari pasir, dan Balai Kembang Caya. Namun, dari balai-balai yang disebutkan tersebut tidak satu pun yang tersisa.
  5. Pinto Khop (Pintu Biram Indrabangsa) secara bebas dapat diartikan sebagai pintu mutiara keindraan atau kedewaan/raja-raja. Di dalam Bustan as Salatin disebut dengan Dewala. Gerbang ini dikenal pula dengan sebutan Pinto Khop, merupakan pintu penghubung antara istana dengan Taman Ghairah. Pintu ini berukuran panjang 2 m, lebar 2 m dan tinggi 3 m. Pintu Khop ini terletak pada sebuah lembah sungai Darul Isyki. Dugaan sementara, tempat ini merupakan tebing yang disebutkan dalam Bustan as Salatin dan bersebelahan dengan sungai tersebut. Dengan adanya perombakan tata kota Banda Aceh dewasa ini, kini pintu tersebut tidak berada dalam satu kompleks dengan Taman Sari Gunongan. Bangunan pintu Khop dibuat dari bahan kapur dengan rongga sebagai pintu dan langit-langit berbentuk busur untuk dilalui dengan arah timur dan barat. Bagian atas pintu masuk berhiaskan dua tangkai daun yang disilang, sehingga menimbulkan fantasi (efek) stiliran figur wajah dengan mata dan hidung serta rongga pintu sebagai mulut.

Atap bangunan yang bertingkat tiga dihiasi dengan berbagai hiasan dalam bingkai-bingkai, antara lain biram berkelopak (mutiara di dalam kelopak bunga seperti yang juga ditemukan pada bangunan gunongan) dan bagian puncak dihiasi dengan sangga pelinggam (mahkota berupa topi dengan bagian puncak meruncing). Bagian atap merupakan pelana dengan modifikasi di empat sisi dan berlapis tiga. Pada sisi utara dan selatan dewala ini berkesinambungan dengan tembok tebal (tebal 50 m dan tinggi 130 m) yang diduga merupakan pembatas antara lingkungan kraton dengan taman, tetapi tembok tersebut sudah tidak ditemukan lagi.

 

Kerkhof Peucut, Bukti Sejarah Kegigihan Rakyat Aceh Melawan Belanda

Pada saat Belanda menjajah Indonesia, Aceh merupakan salah satu daerah yang menentang serta memberikan perlawan sengit terhadap penjajahan. Peristiwa peperangan di Aceh ini, banyak meninggalkan kisah dan bukti sejarah yang hingga kini masih tertata rapi di bumi Serambi Mekkah. Salah satunya adalah Kerkhof Peucut yang kini diabadikan menjadi situs cagar budaya.

Kerkhof Peucut merupakan sebuah pemakaman di Banda Aceh yang memiliki luas sekitar 3,5 hektar. Mayoritas kuburan yang berada di pemakaman ini merupakan milik dari tentara Belanda yang tewas ketika berperang melawan rakyat Aceh. Lebih dari 2.200 serdadu Belanda dikebumikan ditempat ini, selain itu juga terdapat kuburan dari tentara Jepang, dan juga tentara pribumi yang tergabung dalam pasukan marsose dan KNIL.

Secara geografis, Kerkhof Peucut ini terletak di Desa Sukaramai, Kecamatan Baiturrahman, Banda Aceh, Provinsi Aceh. Letak dari makam ini berada tepat dibelakang Museum Tsunami Aceh. Lokasinya yang sangat strategis berada di jantung Kota Banda Aceh, menjadikan pengunjung sangat mudah untuk menemukan lokasi makam ini.

Tak ada kesan horor atau menakutkan ketika berkunjung ke Kerkhof Peucut. Banyak pengunjung yang datang ke makam ini, terutama dari wisatawan mancanegara khususnya Belanda. Selain itu, pemakaman ini juga menawarkan pesona tersendiri yang terletak pada pintu gerbang makam. Memiliki gaya arsitektur khas Belanda, disini terukir jelas daftar nama orang yang dimakamkan pada tempat ini.

Pesona Kerkhof Peucut

Saat pengunjung tiba di pemakaman, akan disambut dengan pintu gerbang setinggi 4 meter bergaya Belanda. Pada pintu gerbang megah, yang dicat berwarna kuning dan coklat tua ini secara lengkap tertulis nama-nama yang dimakamkan di Kerkhof Peucut diurutkan sesuai tahun kematian dan diurutkan sesuai abjad.

Pada gerbang, juga terdapat semacam prasasti yang dituliskan dalam bahasa Belanda, Arab dan Jawa berbunyi “Teruntuk Kawan dan Teman yang Gugur di Medan Perang”. Pemakaman Kerkhof Peucut ini menurut berbagai sumber menjadi makam terluas bagi Belanda diluar negara mereka sendiri. Memasuki ke dalam makam, akan nampak deretan pemakaman yang mayoritas berwarna putih tertata dengan rapi.

Ketika tsunami meluluh lantahkan bumi Serambi Mekkah pada tahun 2004 lalu, makam Kerkhof Peucut ini juga terkena dampaknya. Banyak pemakaman yang mengalami kerusakan diterjang air bah, serta tak kurang dari 50 palang salib yang menjadi tanda makam hilang. Akhirnya dilakukan renovasi terhadap beberapa makam yang rusak dengan bantuan dana dari negara Belanda.

Dalam makam Kerkhof Peucut ini, pengunjung dapat menemukan hal-hal menarik seperti kisah hidup para tentara semasa hidup hingga tewas yang dituliskan secara singkat pada batu nisan makam. Selain itu, suasana makam yang dikeliling pohon-pohon rindang serta rerumputan hijau menciptakan suasana asri dan teduh.

Dari ribuan makam tentara Belanda yang dikebumikan di Kerkhof Peucut, terdapat diantaranya perwira tinggi salah satunya adalah General Majoor Johan Harmen Kohler yang dikenal tewas ketika menyerbu Aceh. Kala itu, pasukan Belanda datang menggunakan kapal dan berhasil merebut Masjid Raya Baiturrahman.

Masyarakat Aceh dengan gigih mencoba merebut kembali tempat ibadah mereka dan terjadilah peperangan sengit di sekitar Masjid Raya Baiturrahman. Pada peristiwa tersebut General Majoor Johan Harmen Kohler berhasil ditembak mati oleh pasukan Aceh. Jenazahnya lalu dibawa oleh tentara Belanda ke Tanah Abang dan dimakamkan di Kober Kebun Jahe.

Namun pada tahun 1978, makam General Majoor Johan Harmen Kohler terkena penggusuran yang akhirnya dipindahkan ke Banda Aceh. Nama Kerkhof Peucut sendiri berasal dari gabungan bahasa Belanda “Kerkhof” yang berarti halaman gereja atau kuburan. Sedangkan “Pocut” merupakan bahasa Aceh yang bisa diartikan anak kesayangan.

Selain makam para tentara Belanda, Jepang, pasukan marsose dan tentara KNIL di Kerkhof Peucut ini terdapat sebuah makam bercorak Islam yang merupakan makam milik anak dari Sultan Iskandar Muda, bernama Meurah Pupok. Konon Meurah Pupok dihukum oleh Sultan Iskandar Muda karena telah melakukan zina. Tragedi yang memilukan ini seolah memberikan sebuah tauladan betapa adil dan tegasnya Sultan Iskandar Muda dalam menegakkan nilai-nilai agama.

Fasilitas Kerkhof Peucut

Fasilitas yang terdapat di pemakaman Kerkhof Peucut ini juga tergolong cukup memadai. Wisatawan bisa menemukan tempat parkir yang luas tak jauh dari pintu gerbang makam. Selain itu, jika ingin beribadah wisatawan bisa menuju ke Masjid Raya Baiturrahman yang lokasinya cukup dekat dari makam ini.

Selain itu, wisatawan bisa berwisata kuliner setelah berkunjung ke makam Kerkhof Peucut. Terdapat beberapa restoran dan café disekitarnya yang menawarkan berbagai kuliner mulai dari makanan tradisional hingga modern. Jika ingin menginap, juga terdapat alternatif hotel dan penginapan di pusat Kota Banda Aceh yang bisa dipilih.

Baca Juga: Taman Putroe Phang, Bukti Kejayaan Kesultanan Aceh di Masa Lampau

Berkunjung ke makam, tak selamanya akan menciptakan suasana menyeramkan dan menakutkan. Kerkhof Peucut bisa menjadi tujuan wisata jika kamu tengah berada di Banda Aceh, berikut beberapa kegiatan yang bisa kamu lakukan ketika berada dimakam ini.

Wisata Sejarah

Bagi kamu yang hobi berkunjung ke tempat wisata sejarah, kamu bisa menjadikan Kerkhof Peucut sebagai destinasi wisatamu selanjutnya. Tak hanya sebuah makam biasa, makam ini merupakan saksi kegigihan masyarakat Aceh yang kala itu menolak bergabung dengan Hindia Belanda. Di tempat ini terdapat lebih dari 2.000 makam dari tentara Belanda yang tewas ketika peperangan Aceh.

Kamu bisa melihat pada pintu gerbang daftar nama-nama prajurit yang dimakamkan di kuburan ini. Selain itu, kamu juga bisa mengetahui kisah singkat hidup para prajurit yang dituliskan pada batu nisan makam. Di tempat ini juga terdapat makam dari General Majoor Johan Harmen Kohler, serta putra Sultan Iskandar Muda yang memang telah dimakamkan 300 tahun sebelum Kerkhof Peucut ini dibangun.

Menikmati Pemandangan

Meskipun makam identik dengan suasana menyeramkan dan horor, namun nyatanya Kherkof Peucut ini juga menawarkan daya tarik tersendiri yang terletak pada keindahan arsitektur pintu gerbangnya. Pintu gerbang yang megah serta menjulang tinggi ini, bergaya arsitektur khas Belanda yang bisa kamu nikmati keindahannya.

Selain itu, makam-makam yang ada di tempat ini juga memiliki bentuk seperti tugu atau monumen. Pada makam ini, juga dipenuhi dengan pepohonan rindang, serta rerumputan yang terjaga dan dirawat apik oleh pengelola makam. Ketika berkunjung kamu bisa menikmati segarnya udara, serta melihat Museum Tsunami Aceh dari jauh yang nampak sangat megah.

 

Pantai Momong, Surga Tersembunyi di Pesisir Barat Aceh

Pesisir barat Aceh ternyata menyembunyikan banyak pantai super keren, dan salah satunya adalah Pantai Momong yang berada di Kecamatan Lhoknga, Kabupaten Aceh Besar. Beberapa dari pantai tersebut sangat terpencil, sehingga mengeksplorasinya membutuhkan usaha dan sedikit jiwa petualang. Tapi, begitu tiba di lokasi, kamu bakalan speechless saking terpesonanya.

Nah, khusus Pantai Momong, memang belum banyak yang tahu. Jadi kebayang kan kalau alamnya masih asri, pantainya masih bersih dan lautnya masih jernih?

Kalau kamu datang ke Pantai Lampuuk, maka Pantai Momong bisa dilihat tersembunyi di balik bukit batu di sebelah kanan, yang menjadi tempat bersandar Joel’s Bungalow.

Cara mencapai Pantai Momong

Penginapan tersebut menjadi patokan untuk mencapai Momong. Sebelum gerbang masuk Joel’s Bungalow, kamu harus mengarahkan mobil atau motor menuju jalan setapak yang ada di sebelah kanan, mengarah kepada Pantai Momong.

Sayangnya, letaknya tersembunyi dan akses menuju pantai ini bisa dibilang agak sulit. hanya kendaraan roda dua yang bisa masuk sebatas pagar kebun penduduk. Dari tempat penghentian terakhir sepeda motor, kamu harus melewati jalan setapak yang berjarak sekitar 500 meter menuju Momong.

Jalan setapak yang kamu lewati bersisian dengan perkebunan penduduk, dan akan licin ketika hujan. Setelah meninggalkan jalan ini, kamu harus mendaki bukit kecil dan melalui kanopi pepohonan dari hutan hujan yang cukup lebat. Di sini, kamu sudah bisa mendengar suara ombak bedebur di kejauhan. Semangat lagi deh!

Ketika mencapai ujung hutan tropis, saatnya seluruh perjuangan terbayar lunas. Bibir pantai Momong menyajikan pemandangan pantai pasir putih yang luar biasa indah, dengan lautan yang sangat biru, dengan latar belakang langit dan bebatuan karang.

Sayangnya, kamu nggak bisa berenang di pantai ini karena dipenuhi batu karang besar. Namun banyak pemancing yang memilih tempat indah ini untuk menyalurkan hobby mereka.

So, kalau kamu punya rencana liburan ke Aceh, jangan lupa mampir ya!

Rute dari Banda Aceh menuju Pantai Momong

  • Dari Banda Aceh, Pantai Momong bisa ditempuh dalam waktu 30 menit. Dari Jalan Elang, kamu harus mengambil arah ke JalanTeuku Umar di Sukaramai (lewat Jalan Aladin Mansyursyah).
  • Dari Jalan Cut Nyak Dhien, ambil arah menuju Seubun Keutapang, lalu ambil arah menuju Meunasah Balee hingga terlihat penginapan Joel’s Bungalow

 

Tebing Lamreh, Surga Yang Tersembunyi Di Ujung Barat Sumatera

Aceh Besar tak hentinya menawarkan pesona alam yang menggoda mata untuk di datangi. Bagi Anda yang suka jalan-jalan ke tempat baru yang menantang dan menyukai alam liar, Anda wajib mendatangi Desa Lamreh. Lamreh adalah sebuah desa yang berada di Kecamatan Mesjid Raya, Kabupaten Aceh Besar.

Lamreh selain terkenal dengan pantai pasir putihnya, Lamreh ternyata menyimpan surga yang tersembunyi yaitu Puncak Tebing.

Bila di Bali ada Uluwatu, maka di Aceh ada Tebing Lamreh. Anjungan batu karang yang terjal dan tinggi serta menjorok ke laut ini pantas disamakan dengan Uluwatu yang ada di Bali. Betapa tidak, Anda akan takjub melihat hamparan laut luas yang biru yang menyegarkan mata, di tambah lagi dengan desiran angin yang tenang.

Dari Kota Banda Aceh satu jam perjalanan, dan melewati Pelabuhan Malahayati sejauh 1 km, atau 1 km sebelum sampai Pantai Pasir Putih Lhok Mee, di sebelah kiri Anda akan melihat papan besar yang bertuliskan “Welcome To Wisata Puncak Tebing”. Jalan lain yang bisa di tempuh adalah melalui Pantai Pasir Putih itu sendiri, namun anda harus berjalan kaki selama 20 menit.

Sejumlah pemuda Desa Lamreh akan menyapa Anda dengan ramah, dah menanyakan Anda bila hendak menuju ke objek wisata Puncak Tebing, Anda harus merogoh kocek Rp. 10.000 / motor. Memang tidak terlalu murah untuk objek wisata yang masih baru ini.

Namun, uang 10 ribu akan terbayar dengan akses jalan yang baru saja di perbaiki dan bisa dilewati kendaraan roda empat. Tanpa perlu berhati-hati yang terlalu besar, jalan yang masih berlapis tanah ini memang belum cukup mulus, tapi aman di kendarai meskipun Anda membawa boncengan.

Kurang 1 km perjalanan menuju Tebing Lamreh, Anda akan melihat jajaran pohon jamblang sejauh mata memandang. Bila sedang musimnya, atau sekitar bulan Agustus Anda bisa memetik buah jamblang, masyarakat lokal memanggilnya “Boh Jambe Kleng“.

Tiba di Tebing Lamreh, Anda bisa memakirkan kendaraan dekat kios-kios kecil pedagang. Bila Anda datang bukan pada hari minggu, Anda patut membawa persediaan air dan makanan sendiri. Selain bukan hari libur, disini tidak ada yang berjualan karena hari-hari biasa sepi dari wisatawan.

Selain itu, jangan berharap ada kamar kecil, sekedar berganti pakaian, atau sekedar buang air kecil, karena disini belum tersedia fasilitas itu.

Selain Tebing Lamreh, disini juga ada tanjungnya, namanya adalah Ujung Kelindu yang begitu indah dan mempesona. “Disini pemandangannya sangat indah. Selain menikmati hamparan laut biru, tak lengkap bila tidak membawa peralatan kamera untuk mengabadikan momen-momen indah. Tebing Lamreh yang begitu memukau kecantikannya banyak menarik fotografer untuk memotret, baik untuk foto biasa, foto model sampai foto prewedding.

Selain itu, setelah sampai di Puncak Tebing Lamreh apa lagi yang bisa dinikmati? Di sebelah kiri, di depan situs sejarah Lamuri, nampak sebuah pulau kecil yang bernama Amat Ramanyang, dan juga bisa melihat Pulau Weh Sabang dari kejauhan. Tak ketinggalan Gunung Seulawah Agam sebelah matahari terbit yang begitu elok.

Turun dari bukit ini, Anda bisa bercengkrama atau berjingkrak-jingkrak di lembutnya pasir putih dan merasakan deburan ombak menyentuh matakaki.

Nah, bila di pagi buta Anda bisa menikmati matahari terbit, dan matahari tenggelam di sore hari. Tak jarang juga banyak kapal-kapal dan perahu-perahu nelayan yang lewat. Semua ini seakan menambah keindahan Tebing Lamreh dan membuat Anda takjub dan puas dengan apa yang di sajikan disini.

Sedikit informasi, selain membayar 10 ribu rupiah di pintu masuk utama, pada hari libur di Puncak Tebing Lamreh juga masih ada kutipan lainnya, seperti uang parkir yang berkisar 5 ribu rupiah. Seharusnya pemerintah Aceh Besar lebih peduli pengelolaannya, seperti Pantai Pasir Putih Lhok Mee yang sudah ada tiket masuknya.

Padahal, jika dikelola dengan baik, Bukit Lamreh akan menjadi salah satu destinasi wisata bahari terindah yang dimiliki Aceh Besar selain Permandian Air Panas Ie Suum, Pantai Lampuuk, Pantai Lhoknga, dan lainnya.

Bukit Lamreh mulai terkenal sejak akhir tahun 2014. Saat itu Putri Indonesia 2005 Nadine Chandrawinata yang membawakan program petualangan My Trip My Adventure yang menjelajahi Bukit Lamreh ini.

Hingga saat ini banyak wisatawan lokal maupun luar daerah yang berwisata kemari. Banyaknya foto-foto yang di unggah ke sosial media dengan spot-spot yang indah, membuat Bukit Lamreh ini semakin terkenal.

Bagi Anda yang ingin bermalam atau camping disini, jangan lupa mengurus perizinan sama Kepala Pemuda Desa Lamreh ini, supaya Anda lebih aman bermalam disini, dan tanpa perlu takut lagi bila di datangi pemuda Desa Lamreh ini.

Bila Anda hendak kesini, jangan buang sampah sembarangan. Buang lah sampah pada tempat yang telah disediakan. Mari melestarikannya agar kelak generasi akan datang dapat menikmati juga betapa moleknya Puncak Tebing Lamreh ini yang begitu indah.

 

MENIKMATI INDAHNYA PUNCAK GUNUNG SEULAWAH AGAM

Gunung Seulawah Agam yang terletak di Kabupaten Aceh dan Kabupaten Pidie, Aceh, ini memiliki keindahan alami. Penat akan hilang begitu kita tiba di puncaknya di ketinggian 1.800 meter di atas permukaan laut (m dpl), meski harus menempuh sembilan jam perjalanan.

Semua sangat alami. Udara bersih tanpa polusi, pepohonan rimbun, kicauan merdu berbagai jenis burung, dan pastinya tiada sampah plastik di gunung yang memiliki sebutan lain: solawa agam, solawaik agam, selawadjanten, dan goldberb ini.

Seulawah Agam terbentuk diperkirakan akibat pertemuan lempeng Indo-Australia yang bergerak ke utara dan menghujam lempeng kerak Eurasia. Akibat kejadian tersebut, terjadilah peleburan kerak Samudera Indo-Australia menjadi magma yang kemudian membentuk gunung ini.

Menggapai puncak Seulawah Agam tidak sesulit gunung lain yang ada di Aceh seperti Burni Telong, Peut Sagoe, atau Puncak Leuser. Di area ini, kemiringan paling ekstrim hanya 70 derajat, itu juga tidak sampai 500 meter. Bagi pendaki gunung di Aceh, khususnya mahasiswa, mereka belum dianggap pendaki jika belum menapakkan kaki di puncak Seulawah Agam.

Mendaki Seulawah, bisa dimulai dari perkampungan penduduk Saree, Aceh Besar. Bagi wisatawan yang belum pernah mendaki, disarankan memulainya pukul 07.00 WIB, tujuannya, agar banyak waktu istirahat dan tidak kemalaman di hutan. Suhu minimum wilayah ini adalah 19 derajat Celcius dan maksimal 25 derajat Celcius.

Memasuki daerah Pintu Rimba, pendaki akan melewati jalur pepohonan lurus dan besar. Di sini tanahnya basah dan berlumut, yang sekitar tiga jam harus dilalui. Pintu Angin, adalah wilayah jelajah berikutnya yang telah menanti dengan pemandangan hutan hijau dan barisan pohon bertajuk unik.

 

Dari sini, pendakian dengan kemiringan 70 derajat dimulai yang menandakan kita telah memasuki daerah Beringin Tujuh. Ada tujuh pohon beringin besar usia ratusan tahun di sini. Selanjutnya ada daerah bernama Batu Gajah, karena ada pohon yang dibalut lumut, bentuknya persis belalai gajah. Dari sini, puncak Gunung Seulawah sudah dekat dan suhunya semakin dingin.

Sebuah tugu bertuliskan P.137 Gunung Seulawah Agam menandakan kita telah mencapai puncaknya. Di puncak gunung ini, wisatawan akan merasakan nuansa alam yang jauh dari hiruk-pikuk peradaban manusia. “Saya sudah lebih 30 kali bermalam di puncak gunung ini. Tiada pernah bosan, setiap saat saya ingin kembali,” ungkap Syahrol Rizal.

Pria yang kerap disapa Yahwa ini tidak hanya berpergian untuk menghilangkan lelah, tapi juga menemani wisatawan yang ingin menikmati indahnya Seulawah Agam. “Jangankan menemani wisatawan yang ingin liburan, teman yang foto prewedding juga pernah saya bawa,” ujar lelaki pencinta fotografi ini.

 

PESONA KEINDAHAN PAINTAI UJUNG BATEE

Pantai Ujong Batee ini memeiliki keindahahn tersendiri dan berbeda dari pantai-pantai lain. Di lokasi ini para pengunjung akan mendapati suasana yang begitu tenang dan penuh kesunyian. Lokasi ini sangat cocok bagi para pengunjung yang menginginkan suasana tenang dan bebas dari kebisingan.

Ketenangan alam asri dan ditambah dengan keindahan laut Selat Malaka menjadian lokasi ini tempat yang digemari para pengunjung untuk menghabiskan waktu berlibur dari penatnya rutinitas sehari-hari. Tak hanya itu, dari pantai ini pula para pengunjung dapat menyaksikan Pulau Weh yang akan nampak seperti sebuah bongkahan batu. Karena pantai ini memang berhadapan dengan pulau tersebut dimana Pulau Weh ini konon menurut sebuah legenda menyatu dengan daratan Sumatera. Terlepas dari mitos tersebut, keindahan yang diberikan untuk para pengunjung begitu luar biasa indah.

 

Ujong Batee ini juga memiliki garis pantai yang luas. Hembusan angin laut dan terdengar suara gemericik desir ombak membuat suasana di kawasan wisata alam satu ini perlu anda dan keluarga jadikan salah satu daftar liburan anda. Ditambah rindangnya pohon-pohon pinus yang berderet di sepanjang sisi pantai membuat suasana semakin sejuk dan tenang. Lokasi ini memang sangat cocok bagi yang ingin mendapati ketenangan alam.

Tak hanya itu saja, lokasi ini juga menawarkan keindahan unik tersendiri. Dimana di pantai-pantai biasanya akan ditemukan pasir halus yang berwarna putih, maka di lokasi ini akan tampak berbeda. Pantai ini berbalut dengan keindahan pasir yang berwarna kehitaman. Pasir berwarna hitam berpadu dengan tebing yang berdiri tegak dengan berbalut warna putih, menjadikan perpaduan yang luar biasa indah.  Di puncak bukit, kembali para pengunjung akan disajikan pemandangan yang luar biasa indah. Panorama unik saat perpaduan langit biru berbaur dengan gersangnya padan rumput yang menyelimuti punggung bukit, menjadikan keindahan yang takkan pernah terlupakan. Tepat di ujung bukit ini juga terdapat tiga makam kuno dan berbatu nisan dari bongkahan batu yang konon salah satu makan tersebut merupakan makan Teungku di Ujong, namun tafsir riwayat belum ditemukan

Menurut warga sekitar pasir hitam ini memiliki khasiat medis dan dipercaya dapat digunakan untuk terapi pengobatan berbagai jenis penyakit tulang serta kelumpuhan. Membenamkan diri dengan pasir hitam ini hingga sebatas leher juga dipercaya mampu membuat badan menjadi segar. Walaupun selama ini belum ada pembuktian medis yang mengatakan demikian, namun sebagian orang telah merasakan manfaat dari terapi ini.

Bagi para pengunjung yang gemar berlibur sambil berwisata kuliner, jangan khawatir. Di lokasi ini para pengunjung dapat memuaskan hasrat serta nafsu untuk menikmati berbagai jenis makanan yang ada di lokasi ini. Di kawasan ini kebanyakan menawarkan hidangan dengan tema seafood untuk lebih mendukung suasana liburan anda di pantai. Selain itu jika dilihat dari lokasi pantai yang berada dalam wilayah Kreung Aceh maka wajar saja jika banyak makanan yang disajikan bertemakan seafood. Karena lokasi Kreung Aceh ini cukup terkenal dengan seafood hasil tangkapan nelayan lokal.

 

Jika berkunjung ke pantai ini, anda dapat mencicipi berbagai jenis makanan laut seperti kepiting besar, udang windu, tiram, dan masih banyak lagi jenis makanan laut lainnya yang wajib anda cicipi dan tentunya akan memanjakan lidah anda. Menurut warga sekitar juga terdapat menu makanan andalan yang wajib dicicipi, yaitu ikan kerapu goreng atau dimasak asam keueung serta ditemani dengan kuah pilek. Dapat dipastikan liburan anda da keluarga akan semakin sempurna.

 

MESEUM ACEH

Ketika berada di Banda Aceh, maka tak lengkap rasanya jika tidak menyempatkan diri untuk singgah di situs-situs sejarah yang ada dikota ini. Kota yang menjadi pusat pemerintahan provinsi Aceh ini, menawarkan beberapa tempat wisata sejarah yang seolah memiliki daya tarik sehingga tak pernah sepi dikunjungi oleh wisatawan yang salah satunya adalah Museum Negeri Aceh.

Museum Negeri Aceh merupakan sebuah museum yang memiliki berbagai macam koleksi dari peradaban Aceh masa lampau. Disini bisa ditemukan banyak sekali koleksi antik mulai dari benda zaman prasejarah, masa kerajaan, hingga benda-benda yang identik dengan masa kolonial Belanda. Selain itu, wisatawan juga bisa melihat berbagai koleksi etnografi yang berkaitan dengan kebudayaan Aceh.

Pesona Museum Negeri Aceh

Pembangunan Museum Negeri Aceh sendiri dilakukan pada masa pemerintahan Hindia Belanda dan diresmikan oleh Gubernur Sipil dan Militer Aceh kala itu yang dijabat oleh Jenderal H.N.A Swart sekitar tahun 1915. Sedangkan untuk Kepala Museum sekaligus Kurator, ditunjuklah Friedrich Wilhelm Stammeshaus yang menjabat hingga tahun 1931.

Sebenernya Stammeshaus merupakan seorang pekerja di bidang kesehatan yang bertugas untuk angkatan darat. Namun karena kecintaannya pada etnografi, serta benda bersejarah maka beliau setuju ketika ditunjuk sebagai kepala museum sekaligus merangkap kurator. Koleksi dari Stammeshaus juga dikenal hingga ke berbagai pelosok negeri, banyak pula koleksi di museum ini adalah milik beliau pribadi.

 

Pada kala itu, Museum Negeri Aceh ini masih berupa Rumoh Aceh yang berbentuk seperti rumah panggung dan konstruksinya bisa dibongkar pasang. Rumoh Aceh ini juga sempat mengikut sebuah Pameran Kolonial di Semarang. Dalam acara ini, sebagian koleksi dari Stammeshaus dipertontonkan serta ditambahkan beberapa koleksi yang merupakan peninggalan Kesultanan Aceh.

Dalam pameran tersebut, Rumoh Aceh berhasil memperoleh predikat sebagai pavilliun terbaik dan berhak membawa pulang hadiah berupa 4 medali emas, 11 perak, dan 3 medali perunggu dari berbagai kategori. Koleksi yang dimiliki Museum Negeri Aceh ini tergolong cukup lengkap. Wisatawan bisa melihat benda-benda bersejarah seperti mata uang kuno, keramik, guci, koleksi tentang geologi, dan masih banyak lagi.

Di Museum Negeri Aceh ini juga terdapat beberapa maket dari Masjid Raya Baiturrahman dari masa kemasa. Selain itu, di dalam museum wisatawan juga bisa melihat foto-foto dari para pahlawan Aceh serta foto tentang perjuangan masyarakat Aceh mengusir Belanda. Benda-benda seperti pistol kuno, rencong, meriam serta senjata tradisional Aceh menjadi pelengkap museum.

Dari sekian banyak koleksi, yang mampu menarik perhatian wisatawan adalah adanya lonceng kuno yang diperkirakan usianya telah mencapai 1.400 tahun. Lonceng tersebut dikenal dengan nama “Lonceng Cakra Donya” yang merupakan hadiah Kaisar Cina dari Dinasti Ming ke Kesultanan Pasai pada abad ke 15. Lonceng tersebut dibawa oleh Laksamana Ceng Ho saat perjalanannya ke nusantara.

Tak hanya itu, di dekat Museum Negeri Aceh ini juga terdapat kompleks makam dari Sultan Iskandar Muda. Museum ini juga memiliki naskah-naskah kuno atau manuskrip, peninggalan berupa arkeologi dari sejarah dan masa prasejarah hingga koleksi fauna yang diawetkan. Dibangunnya museum ini juga memiliki fungsi sebagai media edukasi bagi generasi penerus bangsa.

Fasilitas Museum Negeri Aceh

Fasilitas yang terdapat di Museum Negeri Aceh ini juga sangat lengkap yang bisa memberikan kenyamanan wisatawan ketika berkunjung. Terdapat tempat parkir yang cukup luas, toilet pria dan wanita, mushola untuk beribadah serta dilengkapi pula dengan perpustakaan yang berisi ribuan buku tentang berbagai ilmu pengetahuan.

Selain itu, wisatawan bisa juga meminta pemandu untuk mengantarkan berkeliling museum. Sudah disediakan pemandu bagi wisatawan, pemandu akan dengan sabar menjelaskan kisah sejarah tentang koleksi-koleksi yang ada di Museum Negeri Aceh ini. Disekitar museum juga terdapat taman yang dihiasi dengan tumbuhan hijau serta bunga sehingga menimbulkan suasana asri dan nyaman.

Wisatawan juga tak usah cemas jika merasa lapar, karena disekitar museum biasanya terdapat banyak sekali pedagang kaki lima yang menjajakan berbagai kuliner. Selain itu, tak jauh dari museum wisatawan juga bisa menemukan warung dan rumah makan yang menawarkan kuliner khas Aceh. Museum juga memiliki toko souvenir untuk wisatawan yang ingin membeli oleh-oleh seperti pernak-pernik dan kaos Aceh.

Jika ingin menginap, tak jauh dari musem terdapat hotel dan penginapan yang bisa dipilih untuk bermalam. Berkunjung ke museum, memang menjadi sebuah pengalaman yang menarik serta menyajikan pengetahuan tentang sejarah Aceh. Berikut beberapa kegiatan yang bisa dilakukan wisatawan ketika berada di Museum Negeri Aceh.

Melihat Koleksi Museum

Jika kamu seorang yang mencintai sejarah, maka tempat wisata di Banda Aceh ini sangat layak untuk kamu kunjungi. Di museum ini kamu bisa melihat berbagai koleksi langka dari masa pra sejarah, hingga masuknya pemerintahan kolonial Belanda. Terdapat banyak koleksi unik mulai dari benda pra sejarah, peninggalan kerajaan, mata uang kuno, hingga koleksi etnografi tentang kebudayaan Aceh.

Kamu juga bisa menikmati keindahan dari bangunan Rumoh Aceh yang merupakan rumah tradisional Aceh bergaya rumah panggung. Selain itu, kamu bisa melihat lonceng yang berusia 1.400 tahun hadiah Kaisar Cina dari Dinasti Ming. Tempat ini memang sangat cocok, sebagai media pembelajaran tentang sejarah Aceh.

Hunting Foto

Kebanyakan dari wisatawan yang berkunjung ke Museum Negeri Aceh ini juga menyempatkan diri untuk berfoto bersama. Banyak sekali objek menarik yang bisa kamu gunakan berfoto seperti lonceng dihalaman luar museum, serta berbagai koleksi benda peninggalan sejarah didalam museum. Jika kamu hobi memotret, kamu juga bisa berkunjung ke museum ini untuk mencari objek memotret.

Hobi memotretmu akan terpuaskan dengan keanekaragaman spot menarik, seperti Rumoh Aceh, Lonceng, serta koleksi museum lainnya. Di museum ini kamu juga bisa memotret senjata-senjata ketika masa peperangan melawan Belanda seperti meriam, pistol kuno, rencong dan masih banyak lagi.

Jam Buka dan Harga Tiket Museum Negeri Aceh

Museum Negeri Aceh dibuka untuk umum pada hari Selasa hingga Minggu pukul 08.30 – 12.00 WIB dan 14.00 – 16.15 WIB. Museum tutup pada hari Senin dan hari libur nasional. Untuk harga tiket masuk museum, anak-anak harus membayar Rp. 2.000 sedangkan untuk wisatawan dewasa Rp. 3.000. Untuk wisatawan asing harga tiket masuk sebesar Rp. 5.000.

 

 

Hadiri Peringatan Tsunami Aceh, Ustadz Abdul Somad Disambut Bahagia Ribuan Santri

Kehadiran Ustadz Abdul Somad bersama Habib Novel Alaydrus disambut bahagia ribuan santri di Dayah Markaz Al Aziziyah, Lhung Banda Aceh, Selasa (26/12/2017).

Gemuruh salawat dan takbir mengiringi keduanya saat turun dari mobil. Sebab, kedatangan mereka memang sudah dinanti ribuan santri.

 

Di perkarangan pesantren, tampak sebuah panggung dan pelaminan laiknya untuk sepasang pengantin. Panggung tersebut dipersiapkan untuk kedua ulama tersebut yang hendak ditepung tawari yang menjadi ciri khas masyarakat Aceh saat menyambut tamu.

Di depan panggung di pisah menjadi dua pembatas, sisi kiri untuk laki-laki dan kanan kaum wanita. Tidak hanya itu, kedatangan keduanya juga disematkan pakaian adat khas Aceh dan kopiah Meukeutop.

Habid Novel Alaydrus mengenakan baju hitam bervariasi dengan manik-manik warna putih. Sementara Ustadz Abdul Somad baju hitam dipadu dengan songket dan kopiah Meukeutop warna merah.

Sesaat setelah keduanya melangsungkan konferensi pers bersama sejumlah wartawan, dari arah luar ruangan suara takbir para santri menggema. Suara dentuman rebana mengiringi langkah mereka menuju ke atas pelaminan.

“Belum pernah saya memakai pakaian seperti ini, apalagi duduk di sana (pelaminan),” ujar Habib Novel, membuat seluruh santri dan warga tertawa saat menyaksikannya.

Dalam rangka memperingati 13 tahun tsunami Aceh, di depan hadapan para santri dan warga Habib mengajak seluruhnya untuk berdoa kepada para syuhada yang telah meninggal dunia.

“Syuhada terbesar itu ada di Aceh,” katanya.

Sementara itu, dalam ceramah singkatnya , Habib juga mengajak seluruh masyarakat untuk mencintai ulama. “Ulama itu harus dicintai. Nah, yang repot akhir zaman ini kurang mendidik anak kita untuk mencintai ulama,” katanya.

Di samping itu, penceramah kondang asal Pekan Baru, Riau, Ustadz Abdul Somad mengaku sangat bahagia bisa kembali hadir di Tanoh Rencong. Saat dirinya merasa di usir ketika berada di Hong Kong hikmah di balik itu, dirinya diizinkan kembali ke negeri Serambi Makkah

“Ketika hanya 30 menit berada di Hong Kong, lalu saya kembali ke Indonesia, Allah membalas dengan mendatangkan saya kemari. Belum pernah saya sebahagia ini. Dingin hati saya ketika tiba di Aceh apalagi setelah di tepung tawari (peusijuk) dingin hati saya,” sontak seluruh jamaah yang hadir tertawa.

Ustadz Abdul Somad menyampaikan, peringatan 13 tahun tsunami Aceh merupakan kegiatan yang sangat bermanfaat. Musibah yang terjadi 13 tahun lalu mengingatkan manusia untuk kembali kepada Allah.

“Musibah itu adalah peringatan bagi kita semua, dan acara ini sangat bermanfaat bagi kita semua jika tidak, maka akan menjadi butiran debu yang sia-sia,” ujarnya.

 

PANTAI LANGE SI CANTIK YANG MASIH PERAWAN

Pantai Lange berada di Desa Lam Lhom, Aceh Besar. Dari pantai ini pula, Anda dapat menikmati satu spot menarik yang dikenal dengan Pantai Ie Rah, dua air mancur yang meluncur dari balik batu karang.

Eksotisme Pantai Lange yang masih “perawan” membuat banyak traveler atau backpacker lokal penasaran untuk menyusuri keindahannya di balik pegunungan.

Pertengahan Maret 2014, Tim Aceh Tourism menelusuri Lange. Perjalanan dimulai dari Kota Banda Aceh menuju Kawasan Wisata Lampuuk. Memakan waktu sekitar 30 menit dengan jarak tempuh sekitar 20 Kilometer. Atau jika melewati jalan raya Banda Aceh-Lhok Nga sekitar 15 menit.

Kami melewati gerbang masuk Pantai Lampuuk, singgah sejenak di Masjid Rahmatullah, masjid yang selamat dari amukan tsunami pada 2004 silam, meski berada di bibir laut. Dari sini, kami mengakses jalan desa hingga berhadapan dengan sebuah persimpangan di jalan Gampong Meunasah Lamgirek.

Ada papan informasi Joel’s Bungalow ditancapkan di situ sebagai panduan. Kami belok kanan hingga menemui famplet menuju Pantai Lange dan Pegunungan Lampuuk.

Belok kiri untuk melanjutkan trip. Menjamah hutan yang sepi. Memasuki jalanan setapak, bebatuan, dan menanjak. Kami dipandu Rahmad Taufik yang sudah dua kali ke Lange. Kami parkir motor di sebuah saung karena telah menyusun rencana bermalam di sana.

Harus mendaki Gunung Lampuuk sebelum menggapai Lange. Inilah fase tersulit. Pendakian dengan kemiringan 45 derajat memakan waktu satu jam. Namun setelah turun gunung, ada saung bambu yang bisa kami gunakan sebagai tempat menghimpun energi.

Selanjutnya kami menyusuri jalur datar berliku. Jalan selebar badan mobil jeep ini kelihatan seperti bekas aliran sungai. Kami menyusurinya dengan batu-batu kecil yang tertata rapi sebagai pijakan. Hutan tropis bak kanopi memayungi treking kami. Pun, cahaya matahari sore memancarkan sinar melalui celah-celah pepohonan berakar besar.

“Seperti dalam film Jurassic Park,” sebut Taufik mengibaratkan kondisi hutan seperti dalam adegan sebuah film Hollywood mengenai Dinosaurus. Setengah jam berlalu, kami akhirnya mencapai bukit yang mengakhiri perjalanan. Beberapa pohon pandan besar mempercantik panorama alam. Samudra Hindia membentang sejauh mata memandang. Matahari tenggelam dengan bulatnya. Garis pantai tampak bersih di bawahnya dengan warna kuning tua. Pantai Lange ibarat kanvas panjang yang siap dilumuri gurat senja.

Rahmad Taufik membawa kami ke Pantai Ie Rah, sekitar 500 meter ke kanan Pantai Lange. Menuruni bukit, menyusuri pasir pantai yang bersisik. Kami benar-benar seperti berjalan di gurun pasir andai saja tidak terdengar debur ombak. Matahari mengeluarkan rona merah jambu di detik-detik sirnanya. Sementara kami harus segera melewati sebuah tebing besar dengan ketinggian 4 meter untuk mencapai Ie Rah. Ada dua pilihan. Memanjatnya dengan hati-hati. Atau mengambil sisi laut untuk menyeberangi lewat celah batu.

Setelah itu, kami jalan kaki menempuh tebing-tebing, bagai koloni semut berjalan di batu-batu kecil halaman rumah.

“Itulah Ie Rah Beach,” kata Rahmad Taufik sembari menunjuk dua titik yang menyemburkan air mancur di kejauhan.

Dua titik air meluncur dari batu karang di bibir pantai. Bagai pompa air. Ketinggian pancuran bisa mencapai 5 meter. Pemandangan yang hampir melenakan. Hari akan gelap. Kami segera memasang tenda untuk bermalam dengan tenang. Ada banyak kayu bakar di sekitar itu, memudahkan persiapan kami.

Gemintang berkerlap-kerlip di langit. Debur ombak menghempas karang berirama. Tim Aceh Tourism bersama lima pemuda lainnya, kala itu, mengisi malam dengan sebuah kreativitas.

Ikbal Fanika, fotografer Aceh Tourism, mempraktikkan satu teknik fotografi yang disebut light trail photography. Teknik membuat jejak cahaya dalam kegelapan. Kami pun menuliskan “We love Lange” dengan sinar lampu telepon genggam.

Sesudah itu, kami saling berbagi cerita sambil ngopi. Gemuruh laut dan suara binatang bertalu-talu dari belantara di belakang tenda. Api unggun yang menari-nari cukup membuat kami asik menikmati Ie Rah. Jauh dari kebisingan kota, penduduk, dan hormon-hormon beban lenyap di kepala.

“Api unggun tak boleh mati kalau tidur di hutan, sebab dapat mengundang binatang buas,” kata Fahrijal, teman lainnya. Kami menyiapkan kayu bakar besar. Ia masih menyala saat kami terbangun jam 5 pagi.

Namun matahari terbit tak terlihat dari Ie Rah. Pun begitu, nuansa pagi tetap damai. Air mancur dari terumbu karang. Berjalan di pasir yang belum berjejak. Memasak untuk sarapan bersama sebelum pulang.

Sebelum meninggalkan lokasi, Taufik yang juga pecinta alam, meminta kami tidak meninggalkan jejak. Merapikan bekas tenda. Mengutip sampah plastik, mengisinya dalam kantung besar. Dia lantas mengikatnya di pinggang, dibawanya pulang sebagai wujud menjaga lingkungan.

Menikmati wisata alam di Lange dan Ie Rah tak dipungut biaya. Jika Anda ingin ke sana, jangan lupa membawa bekal logistik dan perlengkapan bermalam sesuai jadwal perjalanan. Setidaknya butuh dua botol besar air mineral per orang untuk semalam di sana. Minta izinlah pada warga di desa terakhir sebelum ke Lange, alangkah baiknya jika mereka ikut menemani. (Makmur Dimila)

Sumber : http://www.acehtourism.info/id/pantai-lange-si-cantik-yang-masih-perawan/

Guha Tujoh Tempat Bersemayamnya 7 Orang Aulia di Aceh

Guha Tujoh, gua di Aceh ini diyakini tembus sampai ke Arab

Aceh sepertinya memang sesuai dijuluki negeri Serambi Mekah karena kota ini memiliki salah satu peninggalan unik yang diyakini tembus hingga ke Arab. Namanya Guha Tujoh, atau Gua Tujuh, atau masyarakat di sana juga menyebutnya Gua Tujuh Laweung Aceh, karena terletak di daerah Laweung, Aceh. Gua ini tepatnya terletak di Jl Banda Aceh KM 100, Desa Laweung, Kecamatan Muara Tiga, Kabupaten Pidie Aceh.

Di Gua ini terdapat tujuh pintu utama untuk masuk ke dalam gua yang dianggap oleh masyarakat sebagai gua peninggalan sejarah. Setiap pintu yang berada di gua tersebut mempunyai sebuah sisi yang berbeda-beda. Tetapi pintu gua itu kini tinggal 4 saja, karena pintu lainnya tak bisa dimasuki lagi. Konon, banyak pengunjung yang mencoba mengukur seberapa panjang gua ini namun tetap saja gagal, karena gua ini tak diketahui sampai dimana ujungnya, dan diyakini sampai ke Arab.

Gua ini, dikelilingi dengan gunung yang tak berhutan. Atau sering disebut dengan pegunungan bebatuan. Panorama keindahan hamparan pengunungan bebatuan di selah-selah bukit tinggi begitu terlihat sangat menawan. Tempat ini berbatasan dengan daerah laweung, siapapun yang pergi ke daerah tesebut dapat melepaskan pandangan luas ke pesisir pantai laut selatan. Hal ini tentu saja memiliki keindahan tersendiri jika Anda berada di atas puncak gua tersebut.

Sebuah gua yang dijadikan tempat bertapa para aulia atau ulama tersebut diyakini memiliki nilai spiritual yang tinggi yang konon tak bisa dicerna dengan akal sehat. Memasuki kawasan Gua Tujuh Anda tentu harus berhati-hati karena jalan masih banyak yang mengalami kerusakan. Anda dapat menyaksikan isi gua melalui salah satu pintu masuk yang berdiameter 0,6 m dan lebar 15 m, dengan dibantu oleh seorang pemandu, tentunya. Biasanya pemandu adalah warga sekitar yang juga menjadi penjaja makanan di luar gua.

Selain dikenal dapat mencapai Mekah melalui salah satu terowongannya, disebutkan juga bahwa terdapat gua-gua kecil di seputar Gua Tujuh, yakni Guha Uleu (Gua Ular), Guha Mie (Gua Kucing) dan Guha Rimueng (Gua Harimau). Konon gua-gua kecil tersebut pernah didiami oleh sejumlah satwa liar, maka setiap gua diberi nama sesuai satwa yang menghuninya itu. Namun gua-gua kecil ini tidak dapat diakses masuk oleh pengunjung.

Selain kisah misteri, juga terdapat keunikan Gua Tujuh itu sendiri. Terdapat batu yang merupai lembu di luar pintu masuk gua. Di dalam gua juga terdapat batu yang menyerupai calon pengantin wanita, onggok hidangan ketan dan cadas yang menyerupai tempat tidur pengantin. Hal inilah yang menarik perhatian pengujung. Selain itu, terdapat sebongkah karang yang menyerupai sebuah batu besar, letaknya seakan-akan tergantung mengasing dari tanah tanpa ada ikatan. Batu yang anti gravitasi ini disebut Bate Meugantung (batu bergantung).

Sebagai sebuah gua yang sangat dikeramatkan dan sering sekali dijadikan sebagai tempat pertapaan, dalam tingkatan pertapaan tertentu orang yang sedang melakukan tapa tersebut dapat berpindah tempat ke Mekah dengan sebuah cara yang tidak dapat dijelaskan oleh pikir manusia. Kondisi seperti itulah yang selanjutnya menyebar dan menjadi sebuah rumor jika gua tersebut mempunyai sebuah jalan masuk menuju Mekah. Terlepas dari mitos yang telah menjadi bumbu gua tersebut, keindahan gua ini pun begitu sangat eksotis dan menawan.

Sumber : https://ksmtour.com/informasi/tempat-wisata/aceh/guha-tujoh-tempat-bersemayamnya-orang-aulia-di-aceh.html

6 KULINER KHAS ACEH YANG TERKENAL ENAK DAN BIKIN KAMU KETAGIHAN

Kuliner Aceh adalah salah satu kuliner Indonesia yang terenak dan punya cita rasa yang sangat khas. Bumbu-bumbu rempahnya begitu kuat dan beragam. Sehingga membuat penikmatnya ketagihan dan tak pernah lupa dengan aroma sekaligus rasa dari masakan khas Serambi Mekah ini.

Saking populernya kuliner dari Aceh ini, hampir di berbagai kota besar di Indonesia kita bisa menemukan rumah makan yang menjual masakan khas Aceh. Nah, sekarang kita bahas yuk, apa saja kuliner tradisional Aceh yang wajib kamu tahu dan wajib untuk kamu masukkan daftar menu makanan wajib santap?

  1. Gulai Kambing

Ciri khas utama dari kuliner dari Pulau Sumatera adalah bumbu rempah yang berpadu dengan kuah santannya. Sama seperti menu yang satu ini nih, gulai kambing. Gulai kambing Aceh ini bumbunya benar-benar memanjakan lidah semua orang yang menyantapnya.

Gulai kambing Aceh punya kuah yang cukup kental. Rasa kuahnya cukup tajam terasa rempah-rempah khas Aceh yang dicampur dengan bumbu cabe rawit tumbuk dan jeruk nipis. Sedangkan isinya adalah daging kambing cincang yang telah direbus hingga halus.\

  1. Sate Matang

Kalau kamu sedang berkunjung ke Aceh, kamu akan dengan mudahnya menemukan menu kuliner yang satu ini. Sate Matang adalah hidangan yang cukup populer di Aceh, dan hampir di setiap sudut jalan kamu akan menemukan para penjual sate matang.

Sate ini dinamakan sate matang karena berasal dari daerah Matang di Kabupaten Bireuen Aceh. Sate Matang ini tidak seperti sate pada umumnya yang dibakar lalu diberi bumbu kecap dan saus kacang, lho. Sate matang justru disajikan dengan cara disiram dengan kuah soto yang gurih.

  1. Ayam Tangkap

Ayam tangkap ini merupakan hidangan khas spesial dari daerah Aceh Besar. Seperti namanya, Ayam Tangkap adalah masakan dengan bahan utama ayam yang telah dipotong-potong lalu dimasak bersama cabe hijau, daun pandan, dan daun kari/daun teumuru.

Jenis ayam yang digunakan untuk memasak Ayam Tangkap adalah ayam kampung. Aromanya begitu gurih dan wangi yang dihasilkan dari daun teumuru, cabe hijau dan daun pandan. Tak heran kalau aroma dari ayam Tangkap ini sangat menggiurkan.

  1. Bu Sie Itek

Kalau kamu suka makan bebek, maka wajib hukumnya untuk mencoba menu khas Aceh yang satu ini. Ya, Bu Sie Itek ini jika diterjemahkan berarti nasi gulai bebek, dan sudah pasti bahan utamanya adalah bebek atau itik. Kuah karinya begitu gurih dan bumbunya penuh dengan rempah-rempah khas Aceh.

Bu Sie Itek ini tersedia dalam dua varian, yaitu Bu Sie Itek Puteh dan Bu Sie Itek meurah. Kalau masak meurah, kuahnya berwarna merah karena dimasak dengan bumbu cabe merah sehingga rasanya cukup pedas. Sedangkan yang masak outeh kuahnya berwarna putih dan sekilas seperti opor ayam dan tidak pedaas.

  1. Nasi Gurih

Nggak afdol banget kalau kamu ke Aceh tapi nggak menikmati kelezatan nasi gurih khas Aceh ini. Kenapa dinamakan nasi gurih? Karena rasa nasinya memang gurih. Nasi gurih ini rasanya tidak berbeda jauh dengan nasi uduk.

Nasi gurih ini dimasak/ ditanak menggunakan air santan kelapa yang juga dipadukan dengan rempah-rempah khas Aceh. Aromanya begitu wangi dan gurih, sehingga saat disantap tanpa lauk pun nasi gurih ini sudah enak lho! Namun akan lebih nikmat lagi kalau disantap bersama lauk-lauk seperti telur dadar, ikan goreng, ikan lado, sayur dan tak lupa sambalnya.

  1. Mie Aceh

Mie Aceh ini adalah salah satu kuliner primadona dari Aceh. Kepopuleran mie Aceh ini bahkan sudah sampai di kancah Internasional lho! Mie Aceh ini memang punya ciri khas dan cita rasa yang unik, enak dan tiada duanya. Hal ini dikarenakan bumbu yang digunakan untuk memasak ini penuh dengan rempah-rempah yang punya rasa nendang di lidah.

Mie Aceh ini tersedia dalam dua jenis, yakni bisa digreng dan kuah. Meski berbahan mie, namun menu ini sangat mengenyangkan lho! Tekstur mienya cukup tebal, dan bumbunya cenderung terasa seperti kari yang gurih dan pedas.

Itulah tadi ragam makanan khas Aceh yang populer dan sayang banget untuk kamu lewatkan. Kalau kamu ngaku pecinta kuliner, kuliner khas Aceh ini pasti akan masuk dalam daftar makanan favorit kamu deh!

Sumber : https://blog.kulina.id/6-kuliner-khas-aceh-yang-terkenal-enak-dan-bikin-kamu-ketagihan-742c534a383b

KUAH BEULANGONG DAN FILOSOFI SEJARAHNYA BAGI MASYARAKAT ACEH

Setiap masakan tradisional memiliki sejarah kuliner tersendiri, tak terkecuali di Aceh. Kuah beulangong misalnya. Selain memiliki daya tarik sendiri, juga memiliki cerita sejarah dibalik kelahiran kuliner tersebut. Dari dulu hingga sekarang kuah Beulangong selalu diminati oleh masyarakat Aceh khususnya kawasan Aceh Besar, selain lezat di lidah orang Aceh, adapun sekarang kebanyakan wisatawan luar Aceh sangat menyukai kuahBeulangong hingga turis manca negara pun sekalian.

Disebut kuah Beulangong karena proses memasaknya yang berlangsung dalam belanga atau sebuah kuali besar(Beulangong), hingga menampung lebih dari 200 porsi. Membutuhkan waktu sekitar dua jam untuk memasaknya. Dengan kuali yang berukuran cukup besar, kuah Beulangong tak cukup dimasak oleh satu orang. Butuh beberapa tenaga untuk memasaknya. Selain lezat, masakan kuah Beulangong juga mempunyai khas tersendiri dalam memasaknya. Jenis kuliner Aceh yang satu ini hanya boleh dimasak oleh kaum lelaki saja. Hal ini juga dipengaruhi oleh latar belakang dan juga filosofi kuliner tersebut yang selalu dilakukan turun temurun,bahkan dalam urusan masak sekalipun.

Masakan ini kerap ditemukan saat Maulid Nabi, hari pernikahan dan tahun baru Islam. Momen-momen yang demikian seperti menjadi sebuah kewajiban untuk mnyuguhkan masakan tersebut oleh penyelenggara karena memiliki nilai budaya tersendiri di Aceh.

Cara membuat kuah Beulangong khas Aceh terbilang mudah. Daging yang sudah dipotong kecil-kecil lalu dicuci bersih dan dimasukkan ke dalam kuali besar atau Beulangong. Aduk dengan bumbu di atas sampai merata, dan tidak lupa di taburkan garam yang sesuai. Selanjutnya siram dengan air secukupnya, lalu aduk lagi menggunakan tangan. Selanjutnya tunggu daging hingga setengah matang dan juga bumbunya khas rempah dari Aceh yang di racik khusus oleh orang Aceh meresap sempurna.

Selanjutnya masukan buah nangka muda atau orang aceh sebut  boh panah  atau bisa juga di tambah dengan buah pisang kapok yang telah di potong kecil-kecil. Lalu masukkan ke dalam kuali bersama bawang yang telah dikupas dan juga telah diiris. Tambahkan sedikit air lagi, dan biarkan masakan mendidih sempurna.

Ketika mendidih aromanya tercium sangat lezat hingga, ini menandakan dagingnya hampir matang. Biasanya ketika Maulid Nabi setiap masyarakat gampong berbondongan datang ke Masjid atau Suraunya masing untuk mengambil jatah kuah Beulangong yang dibagikan secara gratis. Kuah Beulangong juga menjadi bentuk perwujudan silahturahmi antara sesama muslim, dan juga menjaga kebersamaan di antara masyarakat Aceh itu sendiri.

Bukan hanya sekedar tradisi yang membedakan Aceh menjadi istimewa. Negeri syariat ini pun memiliki rahasia tersendiri dalam cara mengaduk memasakan saat berada di dapur. Ketika saat dimasak aduklah berlawanan dengan arah jarum jam. Seperti melakukan tawaf saat haji, itu yang membedakan Aceh dalam cara memasak. Dan jangan lupa bersalawat saat mengaduk. Terkadang kuah beulangong dimakan bersamaan dengan bu kulah(nasi yang dibungkus daun pisang berbentuk segitiga).

Daging yang digunakan dapat berupa daging sapi, kambing dan kerbau. Namun kebanyakan orang Aceh,khususnya penduduk Aceh Besar kebanyakan menggunakan leumo Aceh atau daging sapi lokal Aceh. Hal inidikarenakan ada ciri khas tersendiri pada leumo Aceh, selain dagingnya empuk saat dimakan, aroma kuahnyamameh (nikmat), begitulah orang Aceh menyebutnya. Sehingga tak heran bila ada acara-acara hari besar Islam seperti Maulid dan Idul Adha, sapi lokal ini sangat laris terjual.

Kuah beulangong itu sendiri banyak dijual di warung-warung makan khas Aceh. Selain lezat kuah Beulangong ini banyak peminatnya. Terutama orang Aceh sendiri, mereka tidak bosan untuk makan kuah Beulangong. Selainlezat, mungkin juga karena sejarahnya yang khas bagi orang Aceh.

Jika Anda ingin merasakan sensasi menikmati santapan kuliner khas Aceh kuah Beulangong, tak ada salahnya singga di kawasan Samahani,  Aceh Besar. Di sanalah terkenal sebagai tempat menikmati kuah Beulangong yang lezat. Selain itu di kawasan Cadek, Aceh Besar, ada juga yang menjual makanan khas Aceh tersebut, yaituWarung Hasan. Tidak kalah dengan cita rasa Samahani. Bagi Anda yang belum pernah menikmati kuah Beulong, cobalah menikmati kuliner ini. Karena pada kuliner tersebut, kita dapat mengenal rasa masakan khasAceh dan sambil mengenal sejarahnya. Karena beulangong sudah ada sejak lama dan tetap dipertahankan dan dilestarikan sebagai adat orang Aceh

Sumber : http://www.wasatha.com/2017/04/kuah-beulangong-dan-filosofi-sejarahnya.html

LHOK MATA IE, SERPIHAN SURGA DI ACEH BESAR

Menyebut Pantai Lampu’uk, orang-orang dari luar Banda Aceh dan Aceh Besar pasti akan langsung terbayangkan keindahan pasir putihnya. Tapi menyebut kata Lhok Mata Ie, mungkin masih sedikit yang tahu tempat apa itu. Bagaimana tidak, destinasi wisata bahari yang satu ini tersembunyi di balik rimbunnya hutan dan indahnya bukit-bukit asri Peukan Bada, Aceh Besar.

Destinasi Wisata Lhok Mata Ie terletak di Gampong Ujong Pancu, Kecamatan Peukan Bada kabupaten Aceh Besar. Waktu yang dibutuhkan untuk sampai ke Lhok Mata Ie dari kota Banda Aceh ± 15 Menit.

Perjalanannya bisa di tempuh dengan melewati kawasan Ule Lheu atau Peukan Bada. Namun itu belum sampai ke destinasi wisatanya, baru tahap jalan menuju ke sana. Jika anda ingin melihat keindahan Pantai Lhok Mata Ie, maka harus berjalan kaki lagi ± 30 menit.

Bagi anak muda Banda Aceh atau Aceh Besar, kawasan wisata yang satu ini mungkin sudah tidak begitu asing lagi kedengarannya. Semenjak tempat wisata ini booming beberapa tahun yang lalu banyak dari anak muda yang menghabiskan akhir pekannya di sini. Namun bagi yang belum pernah melangkahkan kakinya ke sini tentu masih penasaran mengenai keindahan pantainya.

Jika ingin ke sini kamu hanya perlu merogoh kocek senilai lima ribu rupiah saja. itu pun untuk biaya parkir di rumah warga yang letaknya persis di samping jalan masuk ke Lhok Mata ie. Jadi kendaraannya harus di titip di rumah warga. jangan lupa membawa bekal berupa makanan atau minuman, karena di sana kita tidak akan menemukan yang namanya penjual makanan atau minuman.

Bagi kamu yang suka Hiking Lhok Mata Ie menjadi pilihan yang tepat. Untuk sampai ke pantainya kamu harus melakukan pendakian lebih kurang setengah jam dengan medan yang tidak terlalu terjal. Bagi yang tidak terbiasa mendaki usahakan jangan terlalu banyak membawa bekal karena akan memberatkan dalam perjalanan.

Selama perjalanan kamu akan melewati hamparan Ilalang, kebun dan Hutan. Jadi, jangan pernah takut kepanasan. Satu kata pertama yang akan terucap jika melihat pantai Lhok Mata Ie untuk pertama kalinya adalah “Masya Allah”. Sungguh indah ciptaan-Nya. Tidak ada yang mustahil jika Allah sudah berkehendak.

Bagi Kamu Yang Suka Berkemah, Lhok Mata Ie juga menjadi pilihan yang tepat. Menghabiskan akhir pekan di sini dengan berkemah bersama teman menjadi sesuatu yang cukup berkesan. Pada hari sabtu atau minggu cukup banyak anak muda yang berkemah di Lhok Mata Ie. Jika kamu tipe orang yang tidak begitu suka keramaian, maka pergilah pada selain kedua hari tersebut.

Satu hal lagi yang jangan kamu lupakan adalah membawa pancingan. Bagi yang suka dengan kegiatan yang satu ini, pancingan menjadi salah satu peralatan yang wajib masuk dalam daftar bawaan mu. Karena ada begitu banyak jenis ikan di sini.

Sumber : http://helloacehku.com/lhok-mata-ie-serpihan-surga-di-aceh-besar/

PANTAI LHOKNGA, PANORAMA ALAM DARI UJUNG SUMATERA

Secara tata letak Pantai Lampuuk berada di kecamatan Lhoknga. sehingga sebenarnya hanya sedikit ambigu yang membedakan antara pantai Lampuuk dengan pantai Lhoknga. Namun pada umumnya orang-orang di sana memberikan nama pantai Lhoknga untuk daerah yang berada di belakang lapangan golf Lhoknga hingga ke taman tepi laut setelah kawasan pabrik semen Andalas.

Adapun sebutan bagi Pantai Lampuuk yang dikhususkan untuk ruas pantai yang membentang dari Babah Satu hingga Babah Empat. Meski kedua posisi pantai ini saling berdekatan namun keduanya memiliki keunggulan masing-masing yang bisa dinikmati keduanya oleh para wisatawan.

Pantai Lampuuk lebih dikenal dengan fasilitas yang cukup lengkap mulai dari lapangan golf, aktivitas surfing hingga memancing. Khusus para pecinta wisata bahari dan peselancar yang ingin mencoba yang lebih bersifat uji andrenalin bisa melakukannya di daerah pantai Lhoknga yang memang memiliki ombak yang lebih besar dan garang. Bahkan pantai Lhoknga sudah dikenal hingga kalangan komunitas selancar internasional dengan pantai yang memiliki ombak besar dan garang.

Biasanya peselancar mengenal dua tipe ombak yang berbeda pada bulan tertentu di pantai Lhoknga, yang pertama adalah biasa disebut dengan Left Hander Point, yakni ombak dengan kiri yang memiliki jarak 300 meter dari bibir pantai yang sangat cocok bagi wisatawan yang baru mengenal selancar. Kedua adalah dengan sebutan Cemara Right Point, yaitu ombak kanan yang memiliki jarak 300 meter dari pantai, sehingga ini merupakan titik favorit bagi para peselancar dari negeri sakura jepang. Secara tingkatan ini merupakan tempat dimana bagi peselancar yang ingin menikmati permainan berselancar dengan cukup aman dan tidak berbahaya. Selanjutnya adalah dengan nama Peak Point yaitu ombak kanan dan kiri yang berjarak 300 meter dari pantai. Arusnya sangat kuat dan diharuskan para peselancar berhati-hati dititik ini. Namun sebaiknya bagi para wisatawan untuk tetap memilih tingkat kesulitannya dengan kemampuan berselancar yang dimiliki. Sebab belum terdapat pos-pos pengawasan yang cukup memadai di pantai Lhoknga.

Namun bagi anda yang tidak menyukai wisata adrenalin, anda bisa menikmati pemandangan laut Lhoknga yang sangat indah ketika sore hari dan malam hari, terdapat beberapa cottage dan losmen yang menghadap laut, cocok untuk anda yang ingin menghabiskan malam bersama teman-teman, keluarga atau melakukan liburan romantis bersama pasangan anda. Terlebih karena lokasi pantai Lhoknga lebih terasa lebih sunyi dan damai dengan dihiasi cahaya langit dan tiupan angin yang menambah suasana menjadi lebih romantis.

Di pagi hari anda juga bisa menikmati suasana pantai Lhoknga yang masih sepi dan bersih dihiasi dengan pemandangan yang luar biasa dipinggir pantai. Tersedia juga berbagai fasilitas pondok-pondok makanan laut yang bisa anda santap dipagi hari dengan latar belakang laut yang indah.

Sumber : http://alamwisata.com/wisata-aceh/pantai-lhoknga/

PULAU TSUNAMI DAN PULAU KELUANG, EKSOTISME WISATA BAHARI ACEH

Nanggroe Aceh Darussalam (NAD) punya banyak pulau eksotis. Dua di antaranya adalah Pulau Tsunami dan Pulau Kluang.

Kedua pulau berdampingan dan terletak di Kecamatan Jaya, Kabupaten Aceh Jaya. Pulau Keluang relatif telah dikenal penduduk lokal. Pulau Tsunami, sesuai namanya, terbentuk setelah bencana tsunami yang melanda sekujur Aceh tahun 2004.

Tidak sulit mencapai kedua pulau ini. Dari Banda Aceh, Anda harus menempuh 78 kilometer ke Lamno, dengan kondisi jalan luar biasa bagus. Jalan dibangun donatur asing, saat pembangunan Aceh pasca tsunami berlangsung.

Setiba di Gunung Geurutee, sempatkan naik ke Peunioh di Desa Glee Jong — kawasan tertinggi gunung batu itu. Dari ini Pulau Keluang dan Pulau Tsunami terlihat berdampingan dan sangat dekat.

Kedua pulau seolah berada di teluk, dengan Gunung Geurutee mengelilingi. Penduduk Banda Aceh, atau pengunjung dari berbagai kota di Indonesia yang beberapa hari berada di Serambi Mekkah, akan selalu menyempatkan diri ke gunung batu ini.

Pulau Kluang lebih kecil, sekitar 15 hektar, tapi dengan daratan lebih tinggi. Pulau Tsunami memiliki luas sekitar 20 hektar dan tidak berpenghuni. Keduanya terpisah kira-kira satu kilometer.

Jarak kedua pulau dari pantai Kabupaten Aceh Jaya hanya 2,3 kilometer, atau 20 menit perjalanan dengan perahu motor nelayan dari Babah Ie — titik terdekat ke kedua pulau itu.

Boat hanya bisa membawa empat penumpang, karena perairan Babah Ie yang dangkap. Tony, pengoperasi boat, ingin jalur keluar masuk boat ke Babah Ie dikeruk agar boat tidak terancam kandas.

Pulau Keluang telah lama ada, tapi Pulau Tsunami — masyarakat menyebutnya Pulau Sudhen — muncul sejak peristiwa tsunami melana Aceh.

Muhammad Ali (29), warga Gampong Ujong Seudeun, Kecamatan Aceh Jaya, mengatakan semula Pulau Tsunami adalah bagian Gampong Ujong Seudeun. Gelombang pasang tsunami memotong bagian ujung daratan dengan daratan Aceh.

Ratusan orang meninggal dan hilang saat tsunami melanda. Mereka yang selamat dan tinggal di sekeping daratan yang terpisah, kini bernama Pulau Tsunami, kehilangan rumah.

“Mereka meminta direlokasi ke daratan. Akibatnya, Pulau Seudeun tidak berpenghuni,” kata Ali.

Pulau Kluang lebih indah, dengan pasir putih di salah satu sisinya, tebing batu kokoh, perairan jernih, dan gua kelelawar yang menantang untuk dijelajahi. Gua harus dimasuki lewat laut. Perahu bisa masuk sampai ke bagian dalam gua.

Usai menjelajah gua, pengunjung bisa menikmati kelebatan hutan tropis, atau menghabiskan waktu dengan mandi di air laut yang jernih. Jangan takut tersapu ombak, karena perairan sekujur pulau cukup tenang.

Di Pulau Tsunami kita bisa merenung sejenak tentang betapa dasyat bencana alam saat itu, hingga daratan yang menjorok ke laut terpenggal dan garis pantai Aceh berubah. Di pulau ini, betapa terasa umat manusia sedemikian kecil di hadapan Tuhan.

Sumber : https://sportourism.id/tourism/pulau-tsunami-dan-pulau-keluang-eksotisme-wisata-bahari-aceh