OBJEK WISATA LHOK SEUDU LAYEUN DI LEUPUNG

Mata Lhoong | Objek wisata merupakan salah satu tempat yang gemar dikunjungi orang. Namun bila tempatnya tidak aman dan nyaman menjadi hambatan bagi pengunjung hingga membuat mereka kurang menyenangkan untuk mengunjungi tempat tersebut. Seperti halnya yang dapat kita ketahui bahwa, semenarik mungkin objek wisata bahkan tempatnya yang indah, bila kenyamanan dan keamanan bagi pengunjung tidak terjaga akan menjadi hambatan bagi pengusaha bisnis objek wisata serta untuk mengembangkannya.

Apakah anda termasuk kategori penggemar objek wisata? Nah, tempat yang satu ini patut anda kunjungi. Selain tempatnya yang indah, bersih, dan juga aman serta kenyamanan anda terjaga. Tidak hanya yang berpasangan yang mengunjungi objek wisata pantai lhok seudu yang ber lokasi di desa Layeun Kecamatan Leupung kabupaten Aceh Besar. Bahkan yang sudah berkeluargapun ikut mengunjungi tempat yang satu ini. Kenapa tidak, jelas tempatnya yang indah, nyaman dan aman. Bukan kah itu yang kita cari?Objek Wisata Alam di Lhoong

Keamanan dan kenyamanan menjadi pilihan pengunjung bagi objek wisata pantai. Pada objek wisata lhok seudu di desa Layeun ini, anda dapat menikmati keindahan pantai, pandangan laun yang indah, serta dihiyasi dengan dua pulau yang unik. Tempat wisata pantai ini hanya di pinggiran jalan raya, wah menarik bukan.

Bagi anda yang sudah berkeluarga juga tidak salah memilih tempat wisata yang satu ini, selain anda dapat menikmati keindahan pantai, anaknya pun juga dapat bermain di pinggiran pantai sambil bermain air dan dapat anda awasi, karena tidak jauh dengan tempat yang anda singgah.

Mungkin bagi yang sudah pernah ke tempat wisata ini, sudah tahu bagaimana keindahan disini. Namun bagi anda yang belum pernah mengunjungi tempat ini, dan hanya sebatas dengar dari orang, mulai sekarang sudah dapat anda kunjungi untuk melihat keindahan pantai objek wisata lhok seudu Layeun kecamatan Leupung.

Sumber : http://www.matalhoong.com/2015/10/objek-wisata-lhokseudo-pulet-di-leupung.html

PUCOK KRUENG, SURGA TERSEMBUNYI DI ACEH BESAR

Jalan tanah dan berbatu ini memang membuat kondisi tubuh tak nyaman. Untung saja ini musim kemarau, tak terbayang jika musim penghujan, sepeti apa bentuk jalanan yang sedang kami lalui ini. Setengah jam berlalu dengan guncangan-guncangan, sontak mata kami langsung disuguhi pemandangan indah plus udara yang segar luar biasa. Nuansa hijau dari aneka pepohonan dan air kolam asli pegunungan melenyapkan semua letih dan pegal yang tadi menjalari tubuh.

“Assalamualaikum, selamat datang, jika ingin menikmati pemandangan air dan goa, silakan naik ke atas sebelah kiri, di sana ada pemandangan indah,” sambut seorang pemuda tanggung, saat kami masih terbengong-bengong dengan suasana yang ada.

Tanpa menunggu lama, kami pun langsung menyusuri jalur yang ditunjukkan sang pemuda tanggung tadi. Ternyata dia adalah satu di antara beberapa pemuda yang bertugas mengawasi lokasi kolam pemandian yang bernama Pucok Krueng tersebut. Pucok Krueng adalah lokasi wisata pemandian kolam pegunungan yang terletak di Lhoknga, Kabupaten Aceh Besar.

Secara umum, Lhoknga dikenal sebagai kawasan wisata pantai dengan pasir putih yang indah dan kuliner yang mengasyikkan. Tapi, di balik semua itu, ternyata Lhoknga menyimpan satu pesona yang mulai memancarkan sinarnya ke permukaan. Yakni sinar pesona pegunungan Pucok Krueng. Disebut Pucok Krueng dalam bahasa Aceh, karena lokasi ini benar-benar terletak di sudut gunung di kawasan ketinggian di atas pemukiman penduduk. Lokasi ini baru saja dikenal sejak tiga tahun lalu.

Awalnya tak banyak yang tahu keberadaan tempat ini selain warga kampung setempat, yang datang berkebun dan bersawah di kawasan Pucok Krueng. Lama kelamaan kawasan ini mulai dikenal di kalangan anak-anak muda pencinta alam dan backpacker, yang akhirnya berkembang dari mulut ke mulut. “Karena sudah mulai banyak datang orang, makanya kami memutuskan untuk mengawasi lokasi ini, agar lokasi tetap terjaga keasriannya dan kebersihannya, serta mengawasi pula agar lokasi ini tidak digunakan untuk hal-hal yang maksiat,” jelas Agam, pengawas kolam Pucok Krueng.

Sesaat menjajaki kaki di kawasan ini, mata kita akan langsung dimanjakan dengan hijaunya kolam air yang mata airnya langsung bersumber dari gunung. “Di sebelah sini kolam dengan goa yang kalau ditelusuri maka ujung goa ini akan berakhir di sebuah sungai pegunungan di Lamno, Aceh Jaya,” jelas sang pemuda tanggung yang menyambut kedatangan kami tadi.

Sumber : http://nationalgeographic.co.id/berita/2015/03/pucok-krueng-surga-tersembunyi-di-aceh-besar

WISATA SEJARAH BENTENG INDRA PATRA KRUENG RAYA

Sebuah benteng peninggalan kerajaan Hindu pertama di Aceh masih dapat Anda lihat hingga saat ini dekat pantai Ujong Batee, Desa Ladong, Kecamatan Masjid Raya, Kabupaten Aceh Besar. Benteng ini berada di Teluk Krueng Raya dan berhadapan dengan Benteng Inong Balee yang berada di kawasan perbukitan di seberangnya. Uniknya untuk mencapai bagian dalam benteng ini maka Anda perlu memanjat terlebih dahulu atau dengan tangga yang telah disediakan. Benteng Indra Patra merupakan bagian dari 3 benteng dalam Trail Aceh lhee Sagoe. Trail Aceh Lhee Sagoe adalah wilayah yang menghubungkan tiga peninggalan zaman Hindu-Budha di Aceh.

Jika ketiganya dihubungkan (Indrapatra, Indrapuri dan Indrapurwa) maka akan membentuk sebuah segitiga dan disebut juga Trail Aceh lhee Sagoe. Benteng Indra Patra dibangun pada abad ke-7 Masehi oleh Putra Raja Harsa dari Kerajaan Lamuri, yaitu kerajaan Hindu pertama di Aceh (Indra Patra) sebelum kedatangan pengaruh Islam. Posisi benteng ini cukup strategis karena berhadapan langsung dengan Selat Malaka sehingga berfungsi sebagai benteng pertahanan dari serangan armada Portugis.

Di masa Sultan Iskandar Muda, seorang laksamana wanita pertama di dunia yang terkenal dan disegani yaitu Laksamana Malahayati, menggunakan benteng ini untuk pertahanan Kerajaan Aceh Darussalam dari serangan Portugis yang datang dari Selat Malaka. Benteng Indra Patra berukuran besar dan terbuat dari susunan batu gunung setebal 2 meter. Perekat dinding benteng diperkirakan berupa campuran kapur, tanah liat, putih telur, dan tumbukan kulit kerang. Pada masa Kesultanan Aceh Darussalam, benteng ini digunakan sebagai pertahanan menghadapi armada Portugis.

Dimungkinkan benteng ini berperan dalam menghadang armada Portugis yang ingin memasuki Aceh melalui teluk krueng raya. Pada kawasan pantai teluk dimuara sungai krueng raya juga terdapat sebuah benteng lain yang bernama Benteng Iskandar Muda. Benteng paling besar berukuran 70 x 70 meter setinggi 3 meter. Ada ruangan besar yang kokoh berukuran 35 x 35 meter setinggi 4 meter. Di sebelah dalam benteng utama terdapat 2 buah sumur yang dinaungi oleh bangunan berbentuk kubah. Sekitar benteng masih banyak pondasi-pondasi lain yang tidak jelas bentuknya dan roboh disebabkan oleh kondisi alam. Pemugaran benteng ini pernah dilakukan setelah tsunami di Aceh tahun 2004. Kini Kantor Wilayah Departemen Pendidikan Nasional Aceh terus merenovasi benteng tersebut.

Kegiatan

Ada 4 (empat) buah benteng dapat Anda amati di sini tetapi hanya 2 buah saja yang masih bagus, 2 buah lainnya hanya berupa reruntuhan. 3 buah benteng membentuk rangkaian segitiga seakan melindungi Teluk Krueng Raya dari armada asing yang ingin memasuki wilayah Kerajaan Aceh dahulu kala. Rancangan bangunannya benteng ini terlihat istimewa dan canggih sesuai pada masanya karena untuk mencapai bagian dalam benteng maka Anda harus memanjat terlebih dahulu.

Di benteng utama, Anda dapat melihat 4 buah stufa yaitu bangunan dalam benteng utama yang menyerupai kubah dan terdapat sumur di dalamnya. Sumur tersebut dahulunya dimanfaatkan umat Hindu untuk penyucian diri dalam rangkaian peribadahan. Di benteng utama juga terdapat satu bangunan tempat peribadatan yang terletak persis di tengah benteng. Di benteng kedua, Anda dapat mengamati 3 bunker pertahanan. Bunker pertama yang terletak di tengah benteng berfungsi sebagai tempat penyimpanan peluru dan senjata.

Dua bunker lainnya di depan bangunan benteng merupakan tempat peletakan meriam. Di sekeliling temboknya juga terdapat 9 tempat meriam kecil. Anda dapat pula melihat 11 buah lubang kecil yang berfungsi sebagai lubang pengintai tetapi lubang intai tersebut telah ditutup dengan semen saat renovasi. Di sekeliling benteng masih dapat Anda temukan sungai kecil meski tidak terurus. Sungai kecil tersebut dulunya digunakan untuk melindungi benteng dari serangan musuh yang datang melalui darat.

Transportasi

Tidak ada angkutan khusus yang menuju ke lokasi benteng ini. Dari kota Banda Aceh jaraknya sekitar 19 km. Apabila Anda naik angkutan umum maka gunakanlah labi-labi jurusan Banda Aceh-Krueng Raya yang ditempuh dalam waktu 40 menit. Apabila ditempuh dengan kendaraan pribadi kurang lebih 35 menit.

Sumber : http://visitacehdarussalam.blogspot.co.id/2016/02/wisata-sejarah-benteng-indra-patra.html

MERIAM PENINGGALAN JEPANG DI BUKIT SOEHARTO, ACEH BESAR

PAWANG NANGGROE-Aceh Besar tak saja dikenal dengan sebutan “kerajaan”, tetapi juga dikenal dengan “Aceh Lhe Sagoe dan kabupaten 1001 Benteng”. Karena banyaknya benteng-benteng peninggalan tentara  yang tersebar di sepanjang bibir pantai.
Tentara Jepang mendarat di Aceh berkisaran tahun 1942. Para serdadu Negeri Sakura ini menggali terowongan bawah tanah di sepanjang pantai sebagai benteng pertahanan. Namun setelah tiga tahun lebih terlibat Perang Dunia II, mereka takluk dari Pasukan Sekutu dan meninggalkan semua wilayah jajahannnya.

Kini, nuansa zaman perang itu dapat dirasakan ketika berkunjung ke Aceh Besar, Provinsi Aceh. Salah satunya Meriam peninggalan jepang yang berada di Krung raya,Bukit Suharto.

Dalam perjalanan,team Pawang Nanggroe menjajahi suatu Jalan mengarah ke bukit di apit oleh dua kandang sapi, kotorannya pun berserakan, semak-semak tumbuh  dengan subur, tak ada yang percaya bahwa tempat tersebut akan menjadi suatu momen penting.


memasuki ke daerah tersebut,ternyata terdapat bangunan permanen yang telah di hancurkan,sehingga terdapat material batu bata yang berserakan.Meriam yang tertonggak gagah panjangnya mencapai 9 m tersebut tertembok rapi dengan keteranggan di bawahnya “Meriam tahun 1943 penimggalan jepang di gunung Momomg lampu’uk lhoknga”.

Menurut info warga setempat dulunya tempat tertata rapi dengan bangunan yang berbentuk sebuah kantor pemerintahan,dan kebradaan  meriam tersebut di bawa dari lampu’uk lhoknga ke bukit suharto.di namakan bukit suharto dulu suharto pernah berkunjung ke tempat tersebut bersama rekan menteri dan juga para pemrintahan lainya dalam rangka penghijauan menanam  pohon tutur warga yang juga kurang tau tentang bukit suharto.

Dalam perjalanan darat , Pawang nanggroe menyaksikan eksotisme Meriam peniggalan jepang 1943dan pemandngan  pelabuhan malahayati di bawah bukit serta  lainya. Keindahan yang akan Anda nikmati saat anda capai ke bukit suharto.

Sumber :http://wahyuikramullah.blogspot.co.id/2015/04/meriam-peninggalan-jepang-di-bukit.html

TUGU SEJARAH LOKASI GUGURNYA PAHLAWAN NASIONAL TEUKU UMAR

Monumen berbentuk kupiah meukutop ini dikenal dengan tugu teuku umar dibangun sebagai tugu peringatan lokasi tertembaknya Teuku Umar saat pertempuran dengan Belanda yang dipimpin oleh Van Der Dussen. Teuku umar tertembak pada tanggal 11 Februari 1899 di Gampong Ujong Kalak Meulaboh, Aceh Barat tepat dilokasi tugu tersebut didirikan.

Teuku Umar lahir di Meulaboh, pada tahun 1854. Sejak kecil, ia dikenal memiliki kemauan keras dan pantang menyerah. Pada usia muda, ia sudah diangkat menjadi kepala kampung. Kakek Umar adalah keturunan Minangkabau, yaitu Datuk Makdum Sati. Saat terjadi Perang Aceh pada 1873, Umar masih berusia 19 tahun. Kendati masih cukup belia. ia turut dalam peperangan itu bersama pejuang pejuang Tanah Rencong lainnya. Pada 1880, beliau melamar Cut Nyak Dien. Setelah pernikahannya dengan Teuku Umar, Cut Nyak Dien mendampingi suaminya bertempur melawan Belanda.

Dikalangan belanda, teuku umar dikenal dengan taktik tipu dayanya yang cukup banyak merugikan pihak belanda, Belanda ingin segera menghabisi teuku umar dengan berbagai cara, berbagai informan dikirim ke setiap penjuru termasuk dari pihak aceh sendiri yang bermental korup. Atas informasi yang diberikan seorang aceh bernama teuku leubeh, belanda mengetahui rencana perang pasukan teuku umar, malam 10 Februari 1899, Letnan J.J. Verbrugh menempatkan detasemen marsosenya di bawah pohon-pohon dipantai Meulaboh. Detasemen marsose yang sudah kewalahan memburu teuku umar selama 6 bulan lamanya kedalam rimba belantara berkubang rawa-rawa dipesisir barat Aceh kini saatnya bagi mereka untuk mengakhirinya dengan memasang jebakan terhadap teuku umar hingga gugurnya teuku umar pahlawan nasional.

Sumber : http://acehplanet.com/tugu-sejarah-lokasi-gugurnya-pahlawan-nasional-teuku-umar/

WISATA SOCIAL ECOTOURISM DI KAMPUNG NUSA, ACEH BESAR

Bila ke Banda Aceh, sempatkanlah menjelajahi Kampung Nusa (gampong Nusa) yang terletak di jalan Banda Aceh – Meulaboh km 8,5. Tidak jauh, hanya 10 menit berkendara ke arah barat. Atau lebih mudahnya, ke arah pantai Lhoknga. Sehabis Penjara Lhoknga, belok kiri.

Sepintas, desa ini tidak berbeda dengan desa kebanyakan di kabupaten Aceh besar. jalanan yang lengang. Itik-itik yang melenggang manja menunjukkan bokongnya yang montok. Atau sesekali terlihat ayam yang sedang lari terbirit-birit sambil berteriak dengan bahasa ke-ayamannya karena di kejar oleh beberapa bocah laki-laki.

Dibalik itu semua, ternyata Gampong Nusa, sebenarnya menawarkan sesuatu yang unik kepada siapapun yang ingin mengenalnya lebih jauh.

lets go…

Saya beruntung, walaupun cuaca sedikit mendung, minggu lalu saya menyempatkan diri bertemu seorang teman lama. Sekaligus sebagai salah seorang Perempuan Inspiratif Nova 2013 lalu. Darinya, saya mendapatkan begitu banyak cerita dan ilmu mengenai hebatnya Gampong Nusa ini.

Percaya atau tidak, desa kecil ini menawarkan sebuah sensasi wisata baru yang mungkin jarang di temui di daerah lain. Di desa inilah pertama kali di perkenalkan Bank Sampah. Awal mulanya, mereka mendirikan bank Sampah atas inisiatif perorangan. Tujuannya, agar anak-anak bisa mengaji dan membiayai pengajian tersebut dengan mengelola sampah yang ada. Sayangnya, karena kurangnya akses media yang masuk, jadilah bank sampah itu hanya terkenal dalam komunitas desa tersebut saja.

Wisata Alam

Pemandangan hamparan sawah yang menghijau kala musim tanam, bentangan bukit-bukit dan gunung di sisi kiri desa, menciptakan sebuah wahana wisata yang berbeda. Keramah-tamahan penduduk desa membuat saya begitu nyaman menyambangi desa ini. Hampir semua orang yang saya temui, mereka tersenyum kepada saya. Sesekali, mereka menyapa hangat. Rupanya, di desa ini, masyarakatnya sudah terbiasa menerima tamu. Bukan saja dari sekitar desa, melainkan dari manca Negara. Mungkin, hal ini pula yang membuat desa ini menyediakan Home Stay atau dasa wisma yang tergolong murah. Bayangkan, hanya dengan 1,5 juta/minggu, kita sudah bisa menginap di sebuah kamar, lengkap dengan makan tiga kali sehari. Tidur dengan suasana desa yang begitu tenang, jauh dari hiruk pikuk kota. Desingan suara mesin berganti sesuara burung yang bernyanyi.

Alam pedesaan gampong Nusa, masih bisa dikatakan asri. Bersih. Hijau, dan sejuk. Sungai kecil yang mengalir antara persawahan dan perumahan penduduk, menciptakan sebuah oase tersendiri. Bahkan ketika musim penghujan tiba, air yang melimpah ruah ini akan menjadi santapan para bocah-bocah pemberani untuk menguji nyali mereka. Tenang saja, sungai ini jauh dari bau menyengat. Jauh dari sampah yang menimbulkan banjir. Buang jauh-jauh penggambaran sungai yang jorok, pesing, bau amis, dari pikiran anda. Karena itu semua tidak terbukti disini.

Letaknya yang dekat dengan Lhoknga, membuat kita bisa tidak perlu jauh-jauh bila ingin menikmati sunset di pantai yang berpasir putih. Pun, pesona Krueng Raba juga hanya terletak di seberang desa. Lengkap sudah.

Wisata Seni dan Budaya

Kampung ini, juga menawarkan wisata budaya. Beberapa kearifan local tetap di jaga dengan baik. Kala adzan magrib berkumandang, jangan harap anda akan mendengar orang-orang tertawa gaduh di sudut-sudut warung kopi. Bubar. Mereka semua bubar, ada yang menuju surau atau mushalla desa, ada juga yang pulang ke rumah. Lalu, mulailah setiap rumah terdengar lantunan-lantunan ayat-ayat suci yang di bacakan oleh manusia yang mendiami rumah tersebut. Ini suasana Aceh ketika masih di era 90an. Dan, di desa ini, semuanya masih terjaga dengan baik.

Beberapa permainan tradisional juga masih terjaga dengan baik. Sebut saja, main sandal batok. Sambar elang, atau mungkin, main sembunyi-sembunyian. Semuanya masih terjaga dengan baik. Menurut informasi, ternyata, setiap minggu, saya bisa menyaksikan anak-anak di hari kamis dan sabtu sore. Selain untuk menjaga kelangsungan kesenian asli Aceh, ternyata anak-anak itu juga berlatih untuk event-event internasional. Tahun lalu, mereka berhasil menjajaki Perancis selama dua minggu. Tahun ini, anak-anak tersebut akan ke jepang untuk menunjukkan kebolehan mereka dalam bernari tarian tradisional Aceh.

Nusa Festival

Ini dia yang unik dari semua yang unik. Event ini mulai tahun 2007 lalu, sebagai refleksi dua tahun setelah tsunami. Beberapa pemuda/I gampong Nusa bersama teman NGO yang peduli anak,, memberi kegiatan pada anak-anak untuk melupakan trauma akibat bencana. Salah satu rangkaian Nusa Festival ini adalah Nusa Award yang semua konsepnya digagas oleh anak-anak. Kegiatan yang diselenggarakan di bulan Desember setiap tahunnya adalah upaya bagaimana mengajak anak-anak berpartisipasi dalam kegiatan desa.

Ternyata, ide mereka kreatif. Ada beberapa kategori yang mereka lombakan, yaitu orang yang paling disegani anak, orang yang paling lucu, rumah paling bersih, dan anak kreatif. Untuk pemilihan pemenang, anak-anak sendiri yang jadi juri.

Tidak hanya berhenti sampai disitu saja, Gampong Nusa juga menjadi salah satu Gampong yang pertama kali melakukan kegiatan recycle sampah menjadi sebuah handicraft. Mulai dari sandal plastic, sampai tas. Mulai dari bunga sampai kotak tissue. Mereka kreatif, mereka inovatif. Dan mereka Ramah. Oh ya! Kegiatan ini bisa kita temui pada hari rabu di setiap minggunya.

Wisata Kuliner

Sebut saja makanan atau masakan asli Aceh, Mie Aceh, Ayam tangkap, Gulai Pliek U, Gulai Ikan Sawah, Asam Udang, dan Ikan Kayu. Semuanya tersedia disini. Tapi, tunggu dulu, semua ini bisa menjadi satu paket di home stay desa tersebut. Jadi, siapapun tamunya, semuanya bisa request. Tentunya untuk beberapa masakan tertentu, kita masih harus nego harga.

Kopi Aceh juga tersedia. Tenang, lagi-lagi anda tidak perlu repot-repot ke warung. Adat dan budaya Aceh yang selalu memuliakan tamunya, ini akan menjadi sebuah poin lebih sekaligus ajang berhemat. Kita akan disajikan kopi saban sore hari. Di seduh dengan air mendidih, di masak diatas tungku. Semuanya serba manual dan tradisional. Lalu, timphan, dan pulot pun akan duduk manis tersaji bersama segelas kopi Aceh di sore hari.

Sumber : http://www.hikayatbanda.com/2015/04/wisata-social-ecotourism-di-kampung-nusa.html

PANTAI PULAU SIMEULUE, WISATA DI ACEH PALING DICARI PESELANCAR DUNIA

Indonesia memiliki beragam pantai dengan ombak yang mengagumkan. Tidak heran jika Pantai di Indonesia menjadi salah satu yang paling dicari wisatawan domestik maupun mancanegara untuk berselancar, salah satunya Pantai Matanurung di Pulau Simeulue.

Pantai Matanurung terletak di Pulau Simeulue, Nangro Aceh Darusalam dan berselancar (surfing) merupakan jenis wisata bahari unggulan untuk pariwisata di pulau terluar itu.

Pantai Matanurung di Pulau Simeulue menjadi salah satu tempat wisata di Aceh karena karakter ombaknya di laut yang berbatasan langsung dengan samudra lepas hingga menghasilkan ombak bergulung panjang (Long Tube Barrels) yang sangat dicari para peselancar dunia.

Selain Pantai Matanurung, Pulau Simeulue juga memiliki lokasi strategis lain untuk berselancar yakni pantai Nancala, Busung, Alus-alus, Salur, La’ayon, Pulau Batu Berlayar, Pulau Mincau, dan Pulau Teupah.

Bagi pengunjung yang tidak bisa berselancar jangan bersedih, karena Anda bisa menikmati keindahan laut dengan snorkling. Selain ombak dan keindahan laut, para peselancar dan pengunjung lainnya akan dimanjakan dengan panorama alam yang luar biasa di Pulau Simeulue.

Pulau Simeulue sendiri bukanlah pulau besar melainkan pulau berukuran mungil. Meski begitu, akomodasi di Pulau Simeulue cukup lengkap, hampir di semua lokasi selancar terdapat penginapan atau bahkan resort.

Sementara untuk kuliner di Pulau Simeulue, Anda bisa menikmati lezatnya anake tangkapan laut yang dijajakan di warung-warung pinggir jalan dengan harga yang terjangkau.

Untuk menuju ke Pulau Simeulue Anda bisa menempuh menggunakan jalur darat, laut dan udara. Jika menggunakan pesat terbang, Anda bisa menuju ke Medan lalu ke Sinabang, ibu kota Simeulue selama 1 jam dan 10 menit.

Sedangkan melalui jalur darat dan laut Anda bisa menggunakan kapal feri melewati Tapak Tuan dengan jarak tempuh sekitar 12 jam dari Medan. Lalu dilanjutkan dengan ke Simeulue selama 8 jam.

Sumber : https://merahputih.com/post/read/pantai-pulau-simeulue-wisata-di-aceh-paling-dicari-peselancar-dunia

 

KEINDAHAN PULAU BANYAK DI ACEH SINGKIL YANG BELUM TERJAMAH

Pulau Banyak di Aceh Singkil masih belum diketahui banyak orang. Kepulauan ini terdiri dari gugusan 70 pulau-pulau kecil yang indah. Sebagian besar dari pulau-pulau itu tak berpenghuni dan sisanya adalah resort-resort sederhana yang langsung menghadap pantai. Saat berkunjung, saya memang tidak banyak mengeksplorasi kepulauan tersebut, hanya beberapa yang bagus menurut orang-orang.

Mengunjungi Pulau Tailana, salah satu bagian dari Pulau Banyak. Pulau ini sangat asyik untuk snorkeling. Di sini ada beberapa gubuk ato resort sederhana milik penduduk lokal. Kita juga bisa trekking berkeliling pulau dan menikmati hamparan pasir putih yang memesona. Saya membawa drone untuk mengambil foto dari ketinggian, dan tampak jelas bahwa ada begitu banyak karang di sekitar pulau. Sayangnya, karena dulu sempat tidak terurus, sebagian karang di sini rusak karena ulah nelayan dan masyarakat setempat.

Pulau Banyak merupakan salah satu destinasi wisata bahari di Pulau Sumatera yang sangat indah dan masih belum begitu terjamah. Bentuknya yang menyebar membuatnya memiliki pantai-pantai yang panjang dan indah. Pasir putihnya begitu lembut, sehingga memanjakan wisatawan agar betah berlama-lama menghabiskan liburannya. Lambaian daun-daun kelapa yang rindang dengan pemandangan alam pantai tropis semakin memperindah suasana tamasya. Keseruan akan semakin bertambah jika pergi ke sini dengan teman dekat atau sahabat, karena panjangnya perjalanan ke sini akan membuat pegal dan bosan.

Untuk mengunjungi Pulau Banyak, silakan menggunakan jalur penerbangan Jakarta – Medan untuk mendapatkan akses  tercepat. Selanjutnya, gunakan jalur darat dari Medan ke Aceh Singkil. Perjalanan ini memakan waktu sekitar 8 – 10 jam. Bulan Januari sampai Mei adalah saat yang tepat untuk mengunjungi Kepulauan Banyak karena cuaca sedang tenang dan cerah. Walaupun Pulau Banyak begitu cantik, sayangnya tempat ini belum dilengkapi dengan sarana, prasarana, serta transportasi antarpulau yang memadai sehingga menyebabkan transportasi laut jadi mahal. Meskipun begitu, mahal juga punya sisi positif. Kepulauan ini masih terjaga dari turis tidak bertanggung jawab yang membuang sampah sembarangan. Dengan keindahannya, Kepulauan ini menjadi destinasi wilayah Indonesia Barat yang wajib didatangi.

Sumber : https://blog.misteraladin.com/keindahan-pulau-banyak-di-aceh-singkil-yang-belum-terjamah/

PANTAI ALUE NAGA, WISATA PANTAI YANG BISA MENGUBAH SUASANA HATI

Banda Aceh memang dikenal memiliki berbagai tempat wisata menarik yang wajib untuk dikunjungi. Daerah yang juga berbatasan langsung dengan Samudra Hindia ini menawarkan deretan pantai-pantai eksotis. Salah satu dari deretan pantai tersebut adalah Pantai Alue Naga, yang menjadi tempat wisatapopuler bagi masyarakat setempat untuk melepas penat.

Pantai Alue Naga sendiri memang memiliki keindahan berbeda jika dibandingkan dengan pantai-pantai di Aceh lainnya. Jika biasanya pantai di Aceh berpasir putih bersih, pasir di pantai ini agak kecoklatan sehingga memberi kesan eksotis. Memiliki dua sisi keindahan berbeda yang bisa dinikmati wisatawan selepas menjalani aktitivtas sehari-hari yang melelahkan.

Secara geografis, Pantai Alue Naga terletak pada Kecamatan Syiah Kuala, Kota Banda Aceh, Provinsi Aceh. Untuk menikmati panorama keindahan pantai, wisatawan setidaknya harus menempuh jarak kurang lebih 10 kilometer dari pusat Kota Banda Aceh yang bisa ditempuh dengan perjalanan selama kurang dari 30 menit. Lokasi dari pantai ini juga hanya berjarak 3 kilometer dari Kampus Darussalam.

Terdapat dua jalur yang bisa digunakan wisatawan untuk menuju ke Pantai Alue Naga. Pertama jika berasal dari Darussalam, wisatawan akan menemukan jembatan Sungai Lamnyong lalu beloklah ke kiri. Setelah itu wisatawan bisa lurus saja mengikuti jalan sesuai Sungai Kecil atau Krueng Cut. Usai menyebrangi jalan besar, wisatawan pun sudah tiba di pantai. Jalur kedua yaitu dengan melewati jembatan Krueng Cut lalu bisa mengambil belok kiri, ikuti saja jalan lurus pantai pun akan terlihat.

Pesona Pantai Alue Naga

Ketika dalam perjalanan menuju ke Pantai Alue Naga, wisatawan bisa melihat adanya pohon-pohon cemara yang tumbuh disamping kiri dan kanan jalan. Kondisi jalan pun terbilang sangat baik dan sudah diaspal mulus. Perjalanan menuju ke pantai pun menjadi semakin nyaman karena semilir angin yang mulai dapat dirasakan wisatawan.

Ketika bencana tsunami 2004 lalu, pantai ini sempat porak-porandak dan mengalami kerusakan parah di berbagai sisi. Terjangan gelombang yang kuat membuat banyak sekali pepohonan disekitar Pantai Alue Naga tumbah dan rusak. Secara perlahan keindahan pantai pun kembali bisa dinikmati oleh wisatawan, hal ini terbukti dengan semakin ramainya pantai ketika sore hari.

Pantai Alue Naga merupakan pantai yang menjadi tempat bertemunya air sungai dan air laut. Sungai yang bermuara di pantai ini adalah Sungai Lamnyong. Nama Alue Naga sendiri konon dikarenakan muara sungainya yang berbentuk berkelok-kelok seperti tubuh naga. Tak hanya beberapa keunikan diatas, pantai ini juga dikenal masyarakat setempat memiliki panorama menawan yang aduhai.

Wisatawan bisa menikmati dua sisi berbeda dari Pantai Alue Naga. Pada sisi pertama, para pengunjung akan disajikan dengan hamparan pasir pantai yang lebih luas jika dibandingkan sisi pantai lainnya. Disini wisatawan bisa sepuasnya bermain pasir, berkejaran dengan ombak atau mandi dan berenang di air laut yang terkadang berombak cukup besar.

Pada sisi lainnya, pasir pantai cenderung sedikit ditemukan, namun disisi ini terdapat semacam tanggul yang dibuat dari tumpukan batu guna memecah gelombang ombak. Disini biasanya wisatawan memanfaatkan tanggul untuk memancing, serta mencari ikan dengan jala. Debur ombak juga semakin terasa disini, wisatawan pun akan dibuat terkagum-kagum dengan hamparan lautan yang membiru.

Pantai Alue Naga memang menjadi pantai primadona bagi masyarakat setempat. Kebanyakan warga sekitar berkunjung, sekedar untuk melepas penat serta menghilangkan stres dari berbagai masalah hidup. Pantai ini juga dikenal bisa merubah, ya bisa merubah penat dan lelah menjadi rasa semangat dan senang karena panorama indah yang disuguhkan pantai

Sumber : https://www.tempat.co.id/wisata/Pantai-Alue-Naga

MUSEUM ACEH : MENGENAL PENINGGALAN BERSEJARAH ACEH

Museum Aceh adalah tempat yang tidak boleh dilewatkan saat singgah di Banda Aceh. Terletak di Jalan Sultan Alaidin Mahmudsyah, Banda Aceh, museum ini menyimpan berbagai pernak-pernik peninggalan sejarah masyarakat Aceh sejak era prasejarah. Disini kita dapat menemukan berbagai jenis perkakas, peralatan pertanian, peralatan rumah tangga, senjata tradisional dan pakaian tradisional. Di museum ini kita juga dapat menemukan berbagai koleksi manuskrip kuno, dokumentasi foto sejarah dan maket dari perkembangan Masjid Agung Baiturrahman.

Museum ini didirikan pada masa pemerintahan Hindia Belanda. Peresmian dilakukan pada tanggal 31 Juli 1915, oleh Gubernur Sipil dan Militer Aceh Jenderal H.N.A Swart. Museum ini dikepalai oleh FW Stammeshaus yang menjabat sebagai Kepala Museum sekaligus Kurator hingga tahun 1931. Pada saat itu, museum ini hanya berbentuk sebuah rumah tradisional Aceh (Rumoh Aceh) yang keberadaannya masih tetap dipertahankan dalam area halaman museum hingga saat ini. Bangunan berbahan dasar kayu ini berbentuk rumah panggung dengan sistem konstruksi pasak yang dapat dibongkar pasang secara fleksibel.

Rumoh Aceh ini sebelumnya dipertunjukkan dalam Pameran Kolonial (De Koloniale Tentoonsteling) yang berlangsung di Semarang pada tahun sebelumnya. Dalam pameran tersebut, kebanyakan koleksi di Paviliun Aceh merupakan koleksi pribadi Stammeshaus ditambah berbagai koleksi benda pusaka peninggalan kesultanan Aceh. Dalam pameran ini, Rumoh Aceh memperoleh anugerah sebagai Paviliun terbaik dengan perolehan 4 medali emas, 11 perak serta 3 perunggu untuk berbagai kategori.

Diantara koleksi yang cukup populer dari museum ini adalah sebuah lonceng yang usianya telah mencapai 1400 tahun. Lonceng ini bernama ‘Lonceng Cakra Donya’ yang merupakkan hadiah dari Kaisar Cina dari Dinasti Ming kepada Sultan Pasai pada Abad Ke-15, yang dihadiahkan saat perjalanan muhibah Laksamana Muhammad Cheng Ho. Lonceng ini dibawa ke Aceh saat Sultan Ali Mughayat Syah dari Kesultanan Aceh menaklukkan Pasai pada tahun 1524 M.

Setelah Indonesia Merdeka, Museum Aceh menjadi milik Pemerintah Daerah Aceh yang pengelolaannya diserahkan kepada Pemerintah Daerah Tk. II Banda Aceh. Pada tahun 1969 atas prakarsa T. Hamzah Bendahara, Museum Aceh dipindahkan dari tempatnya yang lama (Blang Padang) ke tempatnya yang sekarang ini, di Jalan Sultan Alaidin Mahmudsyah pada tanah seluas 10.800 m2. Setelah pemindahan ini pengelolaannya diserahkan kepada Badan Pembina Rumpun Iskandarmuda (BAPERIS) Pusat.

Sejalan dengan program Pemerintah tentang pengembangan kebudayaan, khususnya pengembangan permuseuman, sejak tahun 1974 Museum Aceh telah mendapat biaya Pelita melalui Proyek Rehabilitasi dan Perluasan Museum Daerah Istimewa Aceh. Melalui Proyek Pelita telah berhasil direhabilitasi bangunan lama dan sekaligus dengan pengadaan bangunan-bangunan baru. Bangunan baru yang telah didirikan itu gedung pameran tetap, gedung pertemuan, gedung pameran temporer dan perpustakaan, laboratorium dan rumah dinas.

Selain untuk pembangunan sarana/gedung Museum, dengan biaya Pelita telah pula diusahakan pengadaan koleksi, untuk menambah koleksi yang ada. Koleksi yang telah dapat dikumpulkan, secara berangsur-angsur diadakan penelitian dan hasilnya diterbitkan guna dipublikasikan secara luas

Sejalan dengan program Pelita dimaksud, Gubernur Kepala Daerah Istimewa Aceh dan Badan Pembina Rumpun Iskandar Muda (BAPERIS) Pusat telah mengeluarkan Surat Keputusan bersama pada tanggal 2 september 1975 nomor 538/1976 dan SKEP/IX/1976 yang isinya tentang persetujuan penyerahan Museum kepada Departemen Pendidikan dan Kebudayan untuk dijadikan sebagai Museum Negeri Provinsi, yang sekaligus berada di bawah tanggungjawab Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. Kehendak Pemerintah Daerah untuk menjadikan Museum Aceh sebagai Museum Negeri Provinsi baru dapat direalisir tiga tahun kemudian, yaitu dengan keluarnya Surat Keputusan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia, tanggal 28 Mei 1979, nomor 093/0/1979 terhitung mulai tanggal 28 Mei 1979 statusnya telah menjadi Museum Negeri Aceh. Peresmiannya baru dapat dilaksanakan setahun kemudian atau tepatnya pada tanggal 1 September 1980 oleh Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Dr. Daoed Yoesoef.

Sesuai peraturan pemerintah nomor 25 tahun 2000 tentang kewenangan pemerintah dan kewenangan provinsi sebagai Daerah Otonomi pasal 3 ayat 5 butir 10 f, maka kewenangan penyelenggaraan Museum Negeri Provinsi Daerah Istimewa Aceh  berada di bawah Pemerintah Daerah Tingkat I Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam (sekarang Provinsi Aceh).

Sumber : http://aceh.net/news/detail/meuseum-aceh-mengenal-peninggalan-bersejarah-aceh

KISAH TAPAK TUAN DARI ACEH SELATAN

Jika di Tanah Minang, Sumatera Barat, ada legenda Malin Kundang dengan jejak batu menyerupai orang sedang bersujud di kawasan Pantai Air Manis, di Aceh ada legenda Tuan Tapa dengan jejak tersohor berupa tapak kaki raksasa selebar 2,5 meter dan panjang 6 meter di Gunung Lampu, Tapak Tuan. Tapak tuan merupakan ibu kota Aceh Selatan. Kota ini terletak sekitar 500 kilometer dari ibu kota Aceh, Banda Aceh. Tapak Tuan berasal dari dua suku kata tapak dan tuan. Penamaan itu tidak terlepas dari legenda Tuan Tapa dan keberadaan tapak kaki raksasa di sana. Legenda ini menjadi cerita rakyat turun-temurun dan dipercayai hingga saat ini.

Dahulu hidup seorang petapa sakti bertubuh raksasa bernama Syech Tuan Tapa. Ia sering bertapa ataupun bersemedi untuk mendekatkan diri kepada Tuhan-nya di sebuah bukit yang kini disebut Gunung Tuan di Tapak Tuan. Suatu ketika, ada sepasang naga dari daratan Tiongkok menemukan bayi perempuan manusia dengan tanda tahi lalat di perut terapung sendirian di tengah lautan Samudra Hindia. Mereka menyelamatkan bayi itu dan merawatnya hingga tumbuh jadi anak perempuan di bukit yang kini disebut Gunung Alur Naga.

Beberapa tahun berlalu, keberadaan sepasang naga dan anak perempuan itu sampai ke telinga raja dan permaisuri Kerajaan Asralanoka, sebuah kerajaan di kawasan Samudra Hindia. Raja dan permaisuri itu kehilangan anak perempuannya ketika berlayar di Samudra Hindia beberapa tahun silam. Mereka curiga anak perempuan yang dirawat kedua naga adalah anak mereka. Setelah mengecek sendiri, raja dan permaisuri yakin bahwa anak perempuan itu adalah anaknya. Mereka memintanya kepada kedua naga, tetapi ditolak. Mereka pun membawa lari anak perempuan itu ke kapal dan pergi menyusuri lautan. Kedua naga marah dan mengejar mereka hingga terjadi pertempuran di atas lautan. Pertempuran itu mengusik persemedian Tuan Tapa. Ia ke luar dari gunung dan melangkahkan kaki kanan di karang untuk melontarkan tubuh ke laut tempat pertempuran.

Jejak kaki itu membekas di karang yang kini disebut di Gunung Lampu. Orang-orang menyebutnya Tapak Tuan dan menjadi cikal-bakal nama Tapak Tuan. Tuan Tapa berniat menyelamatkan anak perempuan itu agar tidak menjadi korban pertarungan tersebut. Ternyata, hal itu membuat marah kedua naga dan terjadi pertarungan antara Tuan Tapa dan kedua naga. Singkat cerita, pertarungan dimenangi Tuan Tapa dan kedua naga tewas. Adapun raja dan permaisuri kembali memiliki anaknya. Mereka bersama pengikutnya menetap di Aceh Selatan.

Mereka tidak bisa kembali ke Kerajaan Asralanoka karena kapalnya rusak ketika pertempuran. Konon, mereka menjadi nenek moyang masyarakat Tapak Tuan saat ini. Cerita legenda itu diyakini masyarakat setempat hingga sekarang. Ada sejumlah bukti yang diyakini, antara lain tapak kaki raksasa Tuan Tapa di Gunung Lampu. Ada pula karang yang menyerupai topi dan kopiah Tuan Tapa yang terlepas ketika pertarungan yang terletak 50 meter dari tapak kaki raksasa. Ada karang berbentuk hati di Desa Batu Itam dan sisik naga di Desa Batu Merah yang letaknya sekitar 5 kilometer dari jejak kaki raksasa tersebut.

Konon itu bekas potongan tubuh naga jantan yang kalah bertarung. Selain itu, ada pula karang berbentuk layar kapal di Pantai Batu Berlayar, Desa Damar Tutong, Kecamatan Samadua, Aceh Selatan, yang terletak 20 kilometer dari tapak kaki raksasa. Konon itu sisa kapal raja dan permaisuri Kerajaan Asralanoka yang hancur ketika pertempuran. Ada pula makam raksasa dengan lebar 2 meter dan panjang 15 meter di Masjid Tuo, Kelurahan Padang, Tapak Tuan, yang letaknya sekitar 1 kilometer dari tapak kaki raksasa.

Konon makam ini tempat peristirahatan terakhir ataupun tempat menghilangnya Tuan Tapa seminggu setelah pertarungan. Legenda Tuan Tapa, terutama jejak tapak kaki raksasa itu, menjadi daya tarik pendatang ataupun wisatawan ke Aceh Selatan. Pengunjung obyek wisata itu sekitar 500 orang per hari pada Senin-Jumat dan sekitar 1.000 orang per hari pada Sabtu-Minggu. Sekitar 60 persen pengunjung merupakan dari Banda Aceh hingga Sumatera Utara.

Sumber : https://www.goodnewsfromindonesia.id/2015/03/02/kisah-tapak-tuan-daya-tarik-aceh-selatan

MENIKMATI KEDAMAIAN PANTAI UJUNG BATEE

Salah satu pantai yang layak menjadi tujuan wisata Anda jika sedang di Aceh adalah Pantai Ujong Batee. Pantai ini berada di tengah rute dari Banda Aceh menuju Pelabuhan Malahayati. Berjarak kurang lebih 17 kilometer ke arah timur dari Banda Aceh, pantai ini dapat dijangkau dalam waktu 20 menit perjalanan menggunakan kendaraan pribadi.

Pantai Ujong Batee berada di pesisir Aceh Besar bagian timur laut. Berkunjung ke pantai ini, Anda akan mendapatkan suasana penuh kesunyian yang menenangkan, ditemani keindahan laut Selat Malaka.

Dalam bahasa Aceh, “ujong batee” berarti ujung batu. Nama ini diberikan karena dari pantai ini pengunjung dapat melihat Pulau Weh seperti sebuah bongkahan batu yang berada di ujung lautan. Pantai Ujong Batee memang berhadapan dengan pulau yang menurut sebuah legenda menyatu dengan daratan Sumatera itu.

Ada banyak alasan untuk Anda agar singgah di pantai ini. Salah satunya adalah garis pantai yang lebar. Berkunjung ke pantai ini, meski saat musim liburan, Anda akan tetap merasa lapang dan tenang.

Angin laut yang berhembus sepoi mengiringi gemericik desir ombak. Pantai ini merupakan tempat yang ideal bagi pemburu ketenangan. Rimbunan pohon pinus di sepanjang sisi pantai membuat suasana menjadi tambah tenang.

 

Ada yang mengatakan pasir berwarna kehitaman di pantai ini memiliki khasiat medis. Pasir Pantai Ujong Batee dipercaya dapat digunakan untuk terapi pengobatan penyakit tulang dan kelumpuhan. Selain itu, merendam tubuh sebatas leher dengan pasirnya yang hangat dipercaya dapat membuat badan menjadi segar. Meskipun belum ada pembuktian medis yang mendukung semua itu, tetapi bagi sebagian orang manfaat dari terapi kesehatan tersebut telah mereka rasakan sendiri.

Selain menawarkan keindahan pantai dan suasana yang tenang, pantai ini juga menjadi tempat yang cocok bagi pemburu makanan lezat. Pantai Ujong Batee termasuk dalam wilayah Kreung Aceh yang terkenal dengan seafood hasil tangkapan nelayan lokal. Karenanya, berkunjung ke pantai ini, Anda dapat mencicipi kepiting besar, udang windu, tiram, dan berbagai jenis ikan karang yang lezat.

Salah satu menu yang patut Anda coba jika berkunjung ke pantai ini adalah ikan kerapu goreng atau dimasak asam keueung dengan ditemani kuah pilek. Dijamin, liburan Anda akan semakin sempurna. Apalagi, harga yang ditawarkan pun tidak akan membuat Anda merogoh kocek dalam-dalam.

Sumber : https://www.indonesiakaya.com/jelajah-indonesia/detail/menikmati-kedamaian-pantai-ujong-batee

DANAU MANINJAU, DANAU LEGENDARIS DI JANTUNG AGAM

Keindahan alam Sumatera Barat terangkum lengkap di tanah Minangkabau. Dari pantai-pantai yang menawan, bentangan ngarai serta lembah yang mengagumkan, hiasan kontur alam berupa gunung serta perbukitan dan tak ketinggalan, keindahan danau-danau yang memukau. Tidak diragukan lagi, salah satu danau di Sumatera Barat yang menyimpan panorama alam yang memikat adalah Danau Maninjau.

Danau Maninjau merupakan sebuah danau vulkanik yang berada tepat di jantung Kabupaten Agam, Sumatera Barat. Terletak di ketinggian kurang lebih 460 meter diatas permukaan laut, danau ini membentang seluas 100 km persegi dengan kedalaman rata-rata 105 meter. Dengan luasnya tersebut, Maninjau menjadi danau terluas kesebelas di Indonesia.

Menurut sejarahnya, danau ini terbentuk akibat erupsi vulkanik dari Gunung Sitinjau yang terjadi kurang lebih 52.000 tahun yang lalu. Kaldera yang terbentuk sedemikian luas kemudian berkembang menjadi sebuah danau. Hal ini sama seperti yang terjadi pada Danau Toba di Sumatera Utara dan Danau Batur di Bali.

Di luar kacamata keilmuan, terdapat sebuah legenda yang berkembang secara turun temurun di kalangan masyarakat setempat mengenai asal muasal dari danau ini. Legenda ini dikenal orang sebagai ‘Bujang Sembilan’, yang menceritakan kisah 10 bersaudara kakak beradik yang terdiri dari 9 orang bujang dan seorang gadis.

Alkisah sang gadis menjalin kasih dengan pemuda bernama Sigiran, tetapi kisah cinta berujung dengan munculnya fitnah dari kesembilan bujang. Para bujang ini menuduh hubungan yang terjadi antara keduanya telah melampaui batas norma masyarakat.

Dengan tuduhan yang dilontarkan oleh kesembilan saudaranya, sang gadis beserta kekasihnya kemudian bersumpah. Keduanya akan melompat ke kawah Gunung Tinjau (Sitinjau) untuk membuktikan kesucian diri mereka.

Sebelum melompat, mereka berkata dengan lantang, jika mereka bersalah maka gunung tersebut tidak akan meletus, tetapi jika mereka berdua tidak bersalah maka gunung tersebut akan meletus. Kisah ini pun berakhir dengan meletusnya Gunung Sitinjau sehingga membuktikan keduanya tidak bersalah.

Daya tarik Danau Maninjau terletak pada keindahan panorama alamnya yang bisa dilihat dari kejauhan. Karenanya, tidak lengkap jika membahas Danau Maninjau tanpa membahas spot ideal untuk menikmatinya. Terutama bagi para pecinta fotografi pastinya tidak ingin melewatkan keindahan tersebut tanpa mengabadikannya.

Spot terbaik untuk mengamati Danau Maninjau adalah dari tengah kawasan yang disebut kelok 44, yaitu dari sekitar kelok 23 hingga kelok 30. Di sekitar area inilah pemandangan bentangan danau yang dihiasi hamparan sawah nan subur terlihat sangat indah dan dapat memberikan ketenangan hati bagi mereka yang menyaksikannya.

Sumber : https://www.indonesiakaya.com/jelajah-indonesia/detail/danau-maninjau-danau-legendaris-di-jantung-agam

GUA SARANG, PETUALANGAN FAVORIT MUDA MUDI DI PULAU WEH

Pulau Weh Sabang yang merupakan gerbang wisata Indonesia kini semakin ramai dikunjungi para wisatawan, baik wisatawan lokal maupun mancanegara. Setiap akhir pekan Pulau Weh menjadi tujuan mereka yang ingin menikmati indahnya kehidupan bawah laut dan alam sekitarnya.

Selain menikmati keindahan bawah laut, di pulau wisata ini juga terdapat banyak objek-objek wisata alam yang tak kalah indah untuk dinikmati keindahannya, salah satunya Gua Sarang. Bagi Anda pecinta gua, adventure ke Gua Sarang diakhir pekan mungkin menjadi pilihan yang tepat. Bagaimana tidak, letak gua yang tidak terlalu jauh dan mudah dijangkau membuat para muda mudi yang hobi jelajah menjadikan gua ini sebagai tempat favorit untuk dijelajahi. Apalagi dengan pemandangan lautnya yang sangat indah, membuat pengunjung yang sudah pernah ke gua ini tidak bosan-bosan untuk kembali mengunjunginya.

Gua ini terletak di Gampong Iboih, Kecamatan Sukakarya, tepatnya di Balek Gunung atau antara Pantai Pasir Putih dan Lhong Angen. Kawasan ini merupakan kawasan hutan lindung yang mana udara disekitar gua ini masih sangat segar dan alami.

Untuk menuju ke Gua Sarang kita akan menempuh perjalanan sejauh kurang lebih 28 kilometer dari pusat Kota Sabang, atau sekitar satu jam perjalanan. Beberapa ratus meter dari pantai Gapang kita akan menjumpai persimpangan yang menuju ke The Pade Resort, dan kita akan melewati kawasan komplek TNI-AD (Kompi Balek Gunung). Setelah kita melewati komplek TNI berarti pertanda bahwa kita hampir sampai di lokasi dan terakhir kita berhenti di perkebunan warga, karena dari kebun itulah kita mulai berjalan kaki menuju ke lokasi Gua Sarang. Tapi sebelumnya sediakan uang Rp.5000/Orang ya untuk masuk, maklumi saja karena perkebunan itu bukan jalan umum.

Sebenarnya untuk menuju ke lokasi Gua Sarang ini kita bisa melalui dua jalur, jalur darat dan jalur laut. Jika memilih melewati jalur laut kita harus menyewa boat nelayan dan harus didampingi oleh pemandu dari penduduk sekitar Pasir Putih atau Iboih, karena lokasinya yang lumayan sulit dijangkau. Terlebih lagi antara bulan mei dan september yang mana pada bulan itu musim angin barat, jadi sangat menantang dan sedikit berbahaya jika melewati laut tanpa pemandu.

Memilih melawati jalur darat mungkin akan lebih seru dan menantang, terutama bagi Anda yang suka tracking. Karena kita harus melewati hutan dan tebing yang sedikit terjal. Tidak hanya melewati hutan, setelah kita turun melewati tebing curam dan hutan kita akan berjalan lagi menyusuri pinggiran pantai Balek Gunung dengan berjalan diatas batu-batu ditepi pantai sebelum sampai ke lokasi gua tersebut.

Beberapa meter sebelum sampai dimulut gua, terlihat tebing bebatuan yang kini semakin berjatuhan, dipadu dengan pepohonan yang rindang. Tak hanya itu, suara deburan ombak di bebatuan pinggiran gua dan hembusan angin laut membuat kita terasa damai dan membuat rasa lelah kita yang tadi semakin hilang. Jadi tunggu apa lagi, isi liburan akhir pekan Anda dengan menjelajahi Gua Sarang yang ada di Pulau Weh ini.

Sumber : http://www.pulauwehaceh.com/2015/11/gua-sarang-petualangan-favorit-muda.html

BUDAYA UNIK, PACUAN KUDA TRADISONAL GAYO

Pacu Kude’ Tradisional Gayo Menjalin Silahturahmi Antar Pecinta Kuda Dan Masyarakat

Takengon-Kabupaten Aceh Tengah, Aceh memiliki beragam budaya dan adat istiadat di dataran tinggi Gayo. Salah satu budaya yang diminati warga Takengon adalah lomba pacu kuda atau dengan bahasa setempat menyebutnya ‘Pacu Kude’.

Pacuan kuda ala Gayo ini memiliki keunikan tersendiri, mulai dari nama kuda hingga penunggangnya pun anak kecil dibawah umur 13 tahun, yang membuat menariknya lagi penungang atau joki cilik ini pun tanpa mengenakan plena, melainkan hanya memegang sebuah rotan di tangan.

Tradisi pacuan kuda Gayo di Takengon ini pun di selenggarakan di hari hari besar saja. Seperti memperingati hari 17 Agustus dan memperingati hari jadi kota Takengon.

Konon sejak dahulu penjajahan Belanda di Gayo, pacuan kuda ini adalah sebuah pesta rakyat Gayo, dan pacuan kuda ini pun sempat untuk memeriahkan ulang tahun Putri belanda yang bernama Putri Wilhelmina pada masa itu.

Kini, balap kuda itu pun di jadikan ajang silaturahmi antar pecinta kuda masyarakat di tiga Kabupaten Kota yakni, Aceh Tengah, Bener Meriah dan Gayo Lues.

Selain itu pacuan kuda tradisional Gayo ini pun sudah menjadi wisata halal di Aceh pada umumnya. Karena Aceh kini lagi gencar-gencarnya mempromosikan wisata halal melalui budaya dan adat istiadat yang ada di Aceh

Sumber : https://planet.merdeka.com/sejarah/unik-pacuan-kuda-tradisional-gayo.html