Berbagai Keuntungan Saat Melakukan Tour Tsunami Aceh yang Menyenangkan

Tour tsunami Aceh menjadi sebuah wisata yang unik dan menarik untuk dilakukan. bisa dikategorkan dalam wisata pendidikan, geografi, maupun sejarah. Hal itu dikarenakan bencana tsunami yang menyerang Aceh pada tahun 2004 silam menjadi sejarah terkelam bangsa Indonesia di abad ini. ratusa ribu nyawa warga Aceh dan sekitarnya hilang dalam hitungan menit saja. Berbagai infrastruktur bangunan hancur tanpa ada bekasnya tersapu oleh gelombang tsunami yang dahyat. Tiap tahun selalu diperingati bencana tsunami tersebut, bukan hanya di Indonesia tetapi di seluruh dunia. Untuk lebih mendekatkan dan mengetahui secara detail mengenai bencana tsunami di Aceh, beberapa pihak menyelenggarakan tour tsunami Aceh untuk para wisatawan, baik domestik maupun mancanegara.

Mesjid Lampuuk 2 bulan setelah Tsunami
Mesjid Lampuuk 2 bulan setelah Tsunami

Bertujuan untuk apa tour tsunami Aceh seperti itu?

Sebuah peristiwa bersejarah yang terkenang karena kebahagiaan atau kesedihan tentu saja perlu diperingati oleh seluruh orang. Selain diperingati, peristiwa bersejarah tersebut juga perlu disebarluaskan kepada masyarakat luas, seperti halnya bencana tsunami di Aceh. Oleh karena itu, tujuan diadakan tour tsunami, antara lain sebagai berikut.

Pertama, mengingat sejarah bencana tsunami. Bencana tsunami yang datang dengan begitu dahsyat seperti saat melanda di Aceh menjadi semacam peringatan bagi manusia bahwa kita semua ini tidak berdaya. Masih ada Tuhan yang Maha Segala-galanya yang bisa memberikan bencana dan kesedihan agar bisa selalu mengingatnya di setiap waktu. Oleh karena itu, sudah seharusnya Anda mengingat sejarah bencana tsunami di Aceh.

Kedua, untuk mempelajari peristiwa tsunami. Di bidang pendidikan khususnya yang mempelajari ilmu alam, seperti kajian ilmu geografi. Peristiwa tsunami sangat langka dan bisa dipelajari lebih mendalam. Begitu juga saat tsunami melanda Aceh, semua orang bisa mempelajari tentang penyebab, tanda-tanda, serta antisipasi jika peristiwa tersebut datang kembali sewaktu-waktu. Beberapa orang bahkan rela bertempat tinggal di Aceh untuk melakukan penelitian pasca tsunami di Aceh.

Ketiga, untuk lebih memperkenalkan wilayah Aceh. Secara langsung atau tidak, dengan diadakannya tour wisata seperti ini bisa memperkenalkan Aceh kepada masyarakat dunia. Dengan begitu, Aceh makin terkenal dan banyak dikunjungi oleh para wisatawan. Dampak positifnya, yaitu Aceh bisa menghimpun pendapatan asli daerah di bidang pariwisata, sehingga bisa membangun kembali di wilayah tersebut.

Tour wisata Aceh untuk seluruh keluarga

Tidak ada salahnya Anda bersama seluruh anggota keluarga untuk mengikuti tour wisata yang bertujuan untuk mengenang benana tsunami ini. Dijamin akan memberikan kesenangan dan berbagai pemandangan yang menakjubkan. Mulai dari berbagai fenomena yang terbilang aneh pasca bencana tsunami, berkunjung ke monumen atau museum tsunami, dan lain sebagainya. Anda pun akan bisa merasakan sendiri bagaimana dahsyatnya bencana tsunami yang melanda Aceh saat itu. Oleh karena itulah, silakan mencoba tour wisata Aceh.

Mesjid Lampuuk Setelah Tsunami
Mesjid Lampuuk Setelah Tsunami

Info Paket silahkan Email : glory.travel1@yahoo.com atau hubungi +62 852 60 230469 (whatssapp & Telegram). Join juga di FanPage Facebook kami disini

Mesjid Rahmatullah Lampuuk, Selamat Dari Tsunami
Mesjid Rahmatullah Lampuuk, Selamat Dari Tsunami

_

Permainan khas daerah Aceh yang telah pudar

Aceh bukan hanya tentang makanan dan wisata, tetapi aceh juga memiliki permainan tradisional sama halnya dengan daerah lain. Misal Jawa Barat dengan Ucing Sumput (petak umpet) permainan yang semua orang pernah memainkannya. Berikut merupakan daftar permainan khas Aceh yang dulu pernah ada :

Geulayang Tunang
Geulayang Tunang
  1. Geulayang Tunang

Geulayang tunang merupakan perlombaan layang – layang yang di mainkan saat musim panen raya dan disaat angin timur tiba. Sehingga warga masyarakat memanfaatkan kekuatan angin untuk menerbangkan layang-layang. Permainan ini oleh orang dewasa atau para petani saat waktu luang tiba. Cara memainkannya  berdasarkan tim, satu tim terdiri dari 4-5 orang utnuk mengadu layangannya, disinilah perlu adanya keahlian dan kekompakan dari tim masing-masing. Semakin besar layangan tersebut semakin sulit dibuat dan sulit juga untuk memainkannya.  Hadiah dari perlombaan ini ialah seekor kambing atau sapi yang nantinya akan disembelih dan dimasak untuk dimakan bersama-sama.

 

Peupok Leumo
Peupok Leumo
  1. Peupok Leumo

Permainan ini ialah permainan yang mengadu sapi satu sama lain, biasanya peserta terdiri dari para peternak sapi dalam satu kawasan mukim. Peupok leumo dulunya diselenggarakan pada sore hari. Sapi-sapi diadu sela namun para ulama menentang permainan ini dikarenakan bentuk penganiayaan terhadap hewan. Maka dari itu permainan ini tidak dibudidayakan lagi karena mengandung unsur kekerasan terhadap hewan.

 

Geudeu-geudeu
Geudeu-geudeu
  1. Geudeu – Geudeu

Geudeu-geudeu merupakan olah raga seni bela diri dari Pidie/Pidie Jaya. Hampir sama halnya dengan gulat, di mainkan oleh kaum lelaki. Permainan ini terdiri atas tim, satu tim berjumlah 3 orang, dan biasanya geudeu-geudeu dipertandingkan antar kampung setiap selesai panen padi.

Ini merupakan olah raga yang keras, para petarung haruslah memiliki ketahanan fisik serta mental yang kuat, tahan banting dan tahan pukulan. Namun disini perlu adanya kestabilan emosi, apabila petarung memiliki emosi yang tidak stabil makan akan berujung pada kematian. Sistem bertarungnya, para petarung dibagi menjadi 2 kelompk besar, petarung pertama tampil ke arena untuk menantang dua petarung yang lain dengan mengkacak-kacak sambil membunyikan jarinya. Penantang (Ureung Tueng) mengunakan gempalan dan pukulan untuk menjatuhkan lawan, sedangkan yang ditantang (Ureung Pok) hanya boleh membanting dan menghempaskan si penantang dengan kedua tangan yang berpegangan hingga salah satu dari mereka kalah. Permainan ini juga memiliki wasit dan terdiri dari beberapa ronde. Saat ronde kedua posisi tueng beralih ke pok, dan akan terus berlangsung dalam waktu yang tertentu.

  1. Makah – Makah

Tujuan dari permainan ini ialah siapa yang sampai duluan dia yang menang. Makah-makah permainan yang mengedepankan unsur kompetitif, analoginya makah ialah Kota Mekkah yang menjadi pusat kiblat seluruh umat muslim yang setiap orang nya berlomba-lomba untuk melaksanakan haji dan umroh.

Cara bermainnya sederhana permainan ini bersifat regu/tim. Satu tim terdiri dari 4 orang paling sedikit. Setiap tim akan saling berhadapan secara garis lurus atau sejajar, jarak antar kedua tim kurang lebih 2 meter dan letak makah terdapat di tengah antara kedua regu. Langkah selanjutnya setiap ketua regu memberikan batu ke salah satu anggotanya untuk ditebak oleh regu yg lain. Disinilah perlu keahlian untuk mengecoh regu lain, bagi ketua regu yang benar menebak anngota lawan yang memegang batu, maka satu langkah dapat mendekati makah. Begitu seterusnya hingga regu yang pertama sampai ke makah dan dinyatakan menang.

  1. King – Kingan

King-kingan berasal dari bahasa suku Kluet (Aceh Selatan) yang artinya kejar-kejaran di Air, permainan ini biasanya dilakukan oleh anak-anak dengan usia 9-11 tahun. Ini merupakan permainan tim, setiap tim terdiri dari 5 orang. Lawan akan ditentukan berdasarkan keterampilan dan besar badannya, selanjutnya pemain akan berenang dan menyelam untuk mengejar lawan. Apabila berhasil memegang atau mendapatkan lawan, maka lawan akan berbalik mengejar. Pegangaannya tidak boleh terlalu kuat dan memegang kepala karena akan sangat berbahaya.

 

Meuen Galah
Meuen Galah

6.  Meuen Galah

Permainan ini membutuhkan lapangan yang sangat luas, dengan lebar kira-kira 4 meter dan panjang 10 meter yang dibagi menjadi 6 kotak persegi. Dimainkan oleh 10 peserta yang dibagi menjadi 2 tim, awalnya 5 peserta masuk dalam persegi sisi awal kemudian berusaha melepaskan diri dari hdangan lawan yang menjadi penajaga. Jika pemain dapat lolos hingga diakhir sisi persegi dan tidak ada anggota kelompok yang tertangkap maka dapat dikatakan sebagai pemenang.

Setiap bentuk permainan sejatinya sama di setiap daerah, namun keragaman bahasa dan perilaku yang membuat beragam.

Mengenal Ulama Syekh Abdurrauf Singkil (Syiah Kuala)

Teungku Syiah Kuala

Syekh Abdurrauf Singkil (Singkil, Aceh 1024 H/1615 M – Kuala Aceh, Aceh 1105 H/1693 M) ialah seorang ulama besar Aceh yang terkenal. Beliau memiliki pengaruh yang besar bagi agama Islam di Sumatera dan Nusantara pada umumnya. Sebutan gelarnya yang juga terkenal ialah Teungku Syiah Kuala (bahasa Aceh, artinya Syekh Ulama di Kuala). Nama universitas Syiah Kuala diambil dari nama beliau, didedikasikan atas jasa dan perjuangan beliau dalam menyebarkan agama islam di seluruh Indonesia khususnya Aceh. Dasar pembentukan Unsyiah dimulai pada tahun 1957, saat pembentukan kembali Provinsi Aceh. Semenjak itu pemimpin pemerintahan di Aceh, antara lain Gubernur Ali Hasjmy, Penguasa Perang Daerah Letnan Kolonel H. Syamaun Gaharu dan Mayor Teungku Hamzah Bendahara, serta didukung para penguasa, cendikiawan, ulama, politisi, dan pemuka-pemuka masyarakat lainnya meletakkan dasar-dasar bagi pembangunan pendidikan daerah Aceh dalam upaya mengatasi keterbelakangan di berbagai bidang.

Masa muda Syekh Abdurrauf Singkil

Nama lengkapnya ialah Aminuddin Abdul Rauf bin Ali Al-Jawi Tsumal Fansuri As-Singkili. Menurut riwayat masyarakat, keluarganya berasal dari Persia atau Arabia, yang datang dan menetap di Singkil, Aceh, pada akhir abad ke-13. Pada masa mudanya, ia mula-mula belajar pada ayahnya sendiri. Ia kemudian juga belajar pada ulama-ulama di Fansur dan Banda Aceh. Selanjutnya, ia pergi menunaikan ibadah haji, dan dalam proses pelawatannya ia belajar pada berbagai ulama di Timur Tengah untuk mendalami agama Islam.

Tarekat Syattariyah

Menurut Syed Muhammad Naquib al-Attas, syaikh untuk Tarekat Syattariyah Ahmad al-Qusyasyi adalah salah satu gurunya. Nama Abdurrauf muncul dalam silsilah tarekat dan ia menjadi orang pertama yang memperkenalkan Syattariyah di Indonesia. Namanya juga dihubungkan dengan terjemahan dan tafsir Al-Qur’an bahasa Melayu atas karya Al-Baidhawi berjudul Anwar at-Tanzil Wa Asrar at-Ta’wil, yang pertama kali diterbitkan di Istanbul tahun 1884.

Pengajaran dan karya

Ia diperkirakan kembali ke Aceh sekitar tahun 1083 H/1662 M dan mengajarkan serta mengembangkan tarekat Syattariah yang diperolehnya. Murid yang berguru kepadanya banyak dan berasal dari Aceh serta wilayah Nusantara lainnya. Beberapa yang menjadi ulama terkenal ialah Syekh Burhanuddin Ulakan (dari Pariaman, Sumatera Barat) dan Syekh Abdul Muhyi Pamijahan (dari Tasikmalaya, Jawa Barat).

Berikut ini merupakan karya-karya Abdurrauf Singkil yang sempat dipublikasikan melalui murid-muridnya. Di antaranya adalah:

  1. Mir’at al-Thullab fî Tasyil Mawa’iz al-Badî’rifat al-Ahkâm al-Syar’iyyah li Malik al-Wahhab, karya di bidang fiqh atau hukum Islam, yang ditulis atas permintaan Sultanah Safiyatuddin.
  2. Tarjuman al-Mustafid, merupakan naskah pertama Tafsir Al Qur’an yang lengkap berbahasa Melayu.
  3. Terjemahan Hadits Arba’in karya Imam Al-Nawawi, ditulis atas permintaan Sultanah Zakiyyatuddin.
  4. Mawa’iz al-Badî’, berisi sejumlah nasihat penting dalam pembinaan akhlak.
  5. Tanbih al-Masyi, merupakan naskah tasawuf yang memuat pengajaran tentang martabat tujuh.
  6. Kifayat al-Muhtajin ilâ Masyrah al-Muwahhidin al-Qâilin bi Wahdatil Wujud, memuat penjelasan tentang konsep wahdatul wujud.
  7. Daqâiq al-Hurf, pengajaran mengenai tasawuf dan teologi.

 

Wafat

Beliau meninggal dunia pada tahun 1693, dengan berusia 73 tahun. Ia dimakamkan di samping masjid yang dibangunnya di Kuala Aceh, desa Deyah Raya Kecamatan Kuala, sekitar 15 Km dari Banda Aceh. Makam Syekh Abdurrauf Singkil (Teungku Syiah Kuala) kini menjadi tempat objek wisata spiritual bagi para wisatawan, baik itu domestik maupun internasional. Namun ada beberapa aturan jika kita hendak kesana, yaitu :

  1. Bagi kaum wanita dilarang memakai celana
  2. Dilarang bergandengan tangan dengan yang bukan mahramnya, biar barokah gan… 😀

MAKAM-SYEH-ABDUL-RAUF-AL-SINGKILI-SYIAH-KUALA

Untuk menuju ke Komplek Makam Syiah Kuala di desa Dayah raya Kecamatan Syiah Kuala sangat mudah. Kita bisa melewati jalur dari jalan utama Jambo Tape menuju arah jalan Lamdingin. Jalan yang ditempuh tidak banyak makan waktu lama, hanya sekitar 10-15 menit bila dari arah Sp. Surabaya.

plang makam

 

*bagi para peziarah diharapkan tidak meminta hajat di makam Syiah Kuala, karena sesungguhnya hanya kepada Allah SWT kita meminta, dan yang patut kita sembah. wallahualam

Destinasi Paling Favorit di Aceh

Lhok Mata Ie
Lhok Mata Ie

1.Lhok Mata Ie

Lhok Mata Ie berlokasi di daerah ujung pancu Banda Aceh. Keindahan alam dan deburan ombaknya akan selalu teringat, laut yang masih biru dan tempat yang pas untuk melihat matahari terbenam alias sunset….untuk mencapai tujuan kita harus mendaki lagi sekitar 1 km gan, terasaa capeknyaa…bangett!. Dengan rute perjalanan yang sedikit ekstrim semuanya akan terbayarkan saat kita sampai disana. Lokasi ini biasa digunakan untuk berkemah, jarang ada orang yang langsung pulang saat sampai gan.

Tipsnya nih, klau mau k pantai lhok mata ie ini pastikan agan sediain alat snorkeling, terumbu karangnya masih alami gan dijamin cakeep. Ohh, iya untuk para sista gak dijinin masuk kemari sama penduduk setempat, itu sudah menjadi peraturan di desa tersebut.

Yakinkan kalian berkemah di pantai ini gan,

Lhok Keutapang
Lhok Keutapang

2.Lhok Keutapang

Lhok Keutapang ini, jarak perjalanannya 2 kali dari jarak ke Lhok Mata ie,,bayangin aja gimana capeknya gan..!saat pendakian kalian akan banyak melihat kawanan monyet yang lompat dari satu dahan ke dahan lainnya. Saat akan sampai kita akan menemui padang ilalang yang luasnya hampir setengah lapangan bola.

Tampak jelas dari kejauhan Pasir putih terhampar bersama ribuan patahan-patahan koral mati dan kulit kerang. Ombak yang menjilatinya mengeluarkan bunyi kerisik halus hingga kita tiba di ujung perjalanan.

Pantai yang masih perawan, dengan keindahan yang memukau gemersik pasir dan deburan ombak yang terdengar membuat suasana semakin nyaman dan tenang.

Bukit Jalin, Jantho (Aceh Besar)
Bukit Jalin, Jantho (Aceh Besar)

3.Bukit Jalin (Jantho)

Kalau bukit ini, jujur ane belum sampe kesana gan. Tapi banyak yang bilang pemandangannya ajiip bener, saat sampai di puncak kita akan dihadapkan pada aliran anak sungai yang panjang gan. Mungkin suatu hari nanti ane pasti bakal kesana.

Lokasinya tidak terlalu jauh, untuk sampai ke daerah Janthonya hanya memakan waktu 1jam50menit dari banda aceh.

Air Terjun Kutamalaka (Samahani/Aceh Besar)
Air Terjun Kutamalaka (Samahani/Aceh Besar)

4.Bukit dan Air Terjun Kuta Malaka

Bukit dan Air terjun Kutamalaka sekarang menjadi tempat rekreasi baru bagi para kawula muda serta juga bagi para photographer. Waktu tempuh perjalanan dari Banda Aceh sekitar kurang lebih 2 jam dengan sepeda motor dengan rute yang sangat ekstrim. Saat perjalanan kalian harus menyebrangi 5 anak sungai dan tanjakan berbatu yang sedikit curam. Untuk sampai ke air terjunnya kalian harus menuruni anak tangga lagi, yaa sekitar 100-150 anak tangga. Bisa jadi….!  Air Terjun Kuta malaka memiliki 7 tingkatan gan.

Bukit Kutamalaka
Bukit Kutamalaka

 

Kalau ke bukitnya setelah sampai di parkiran liat aja disebelah kanan ente langsung tampak tu bukit, untuk mendapatkan view yang bagus yaa cukup mendaki saja gan. Pasti seru dan cakeeep tuh pemandangan.

Pantai Lange (Lamlhom, Aceh Besar)
Pantai Lange (Lamlhom, Aceh Besar)

5.Pantai Lange, Lamlhom

Mungkin sebagian orang pernah mendengar nama pantai Lange Aceh Besar ini. Berlokasi di desa Lamlhom, Aceh Besar. Saat sesampai disana para wisatawan akan dihadapkan pada padang rumput yang hijau, pepohonan yang rindang, bahkan kalau mau lihat ke arah pantai, ada padang rumput laut yang kuning kecokelatan, ditambah lagi… ada semburan air laut yang terbang ke arah langit.

Untuk waktu perjalanan menuju ke pantai ini bisa memakan waktu sekitar 45 menit dari jalan raya. Ini adalah salah satu tempat wajib yang harus kalian kunjungi, dijamin gak bakalan nyesal…!!

Pucok Krueng, Aceh Besar
Pucok Krueng, Aceh Besar

6.Pucok Krueng

Pucok Krung Lhoknga di Aceh Besar merupakan ujung sungai yang bermuara ke Pantai Lhoknga. Tempat yang sangat indah, dengan air berwarna hijau muda yang jernih. Tebing-tebing batu kapur mengapit tempat ini, sangat eksotis dan cocok untuk rekreasi keluarga. Pocuk krueng merupakan tempat wisata yang sederhana. Jarak tempuh dari Banda Aceh hanya sekitar 1jam50menit.

Saat menuju ke sini, wisatawan harus melewati jalan berbatu dan berlumpur sekitar 3 Km dari jalan utama. Sebaiknya saat ingin kesini pastikan hari cerah agar pantulan air dari danau tersebut tampak hijau. Menyusuri kebun dan pesawahan sebelum tiba di Pucok Krung Lhoknga. Kolam alami ini biasa jadi tempat pemandian. Tebing-tebing tinggi bisa dipanjat untuk Anda yang ingin uji adrenalin dengan melompat dari ketinggian 10 meter. Suasana di sini masih sangat alami. Masih ada hewan-hewan seperti landak, ular, juga burung.

Taman Hutan Raya Saree, Aceh Besar
Taman Hutan Raya Saree, Aceh Besar

 

7.Taman Hutan Raya, Saree (Seulawah Agam)

Objek Wisata Taman Hutan Raya Pocut Meurah Intan mempunyai sejarah panjang sebelum ditetapkan menjadi Tahura. Pada tahun 1930 kawasan Seulawah Agam telah ditetapkan menjadi kawasan hutan. Pada tahun 1990 Pemda Daerah Istimewa Aceh, melalui SK Gubernur Kepala D.I. Aceh No. 522.51/442/1990 tanggal 4 September 1990 membentuk Tim Taman Hutan Raya Seulawah. Luas peruntukannya mencapai 25.000 hektar, dari luas tersebut akan dipilih 10.000 hektar yang dianggap layak dan dapat mewakili keanekaragaman potensi flora, fauna maupun potensi fisik lainnya yang ada. Ternyata dari luas yang diperkirakan awal 10.000 ha, hanya 6.300 ha yang ditetapkan sebagai luas areal Tahura, dan nama Tahura Seulawah kemudian ditetapkan menjadi Tahura Pocut Meurah Intan.

Tahura Pocut Meurah Intan kini menjadi salah satu tujuan favorit untuk berwisata, dengan suasana sejuk dan rindang yang dapat memanjakan mata dan dapat merelaksasikan tubuh, dikelillingi dengan hutan pinus yang lebat serta terdapat rumah pohon, dan air terjun. Tahura saree dapat kita tempuh 2 jam perjalanan dengan menggunakan sepeda motor dari Banda Aceh.

 

PART 2 : Wisata Banda Aceh Nan Indah (Tour Bersama Puan Mastura & Friend)

Debur Ombak terdengar sampai ke kamar tidur kami, suasana pagi yang sejuk dan alami membuat mata terus terbuai dalam tidur. Sabang memang selalu membuat pikiran dan badan itu tenang dan nyaman sekali. Rasanya ingin berlama lama tidur sambil mendengar deru ombak yang saling kejar kejaran. Namun apa daya, masih banyak jadwal yang harus diselesaikan.

Pantai kasih Guest House
Sesaat Setelah Check Out, Dibelakang lautan biru jelas terlihat dan abang supir kami yang sedang membersihkan mobil

 

Tepat Jam 7, setelah selesai sarapan dan check out kami berpamitan kepada Owner Guest House Pantai Kasih, Bang Ayi, Untuk kembali ke Banda Aceh. Jadwal Kembali ke Banda Aceh dengan Kapal Cepat yang berlayar dari Balohan pukul 08.00 WIB. Suasana kapal hari ini terasa lebih nyaman daripada kemaren yang penuh sesak sampai saya dan puan puan tidak mendapat kursi sehingga kami harus duduk di dek atas kapal cepat tersebut. Perjalanan kembali ke Banda Aceh terasa begitu singkat. Tiba di Banda Aceh kami langsung dijemput oleh Team Glory Travel yang sudah standby di Pelabuhan. Selepas itu langsung melakukan check in di Hotel. Berhubung hari jumat maka saya dan puan Mastura memutuskan bahwa perjalanan akan kita lanjutkan selepas Shalat Jumat.

Selepas Shalat Jumat, kami berburu kuliner “Kuah Pliek”, salah satu sajian yang selalu dibuat dihari Jumat. “Pliek” dibuat dari hasil pembusukan kelapa yang sudah dijemur dan dikeluarkan minyaknya. Pada saat dimasak dimasukkan beragam sayur mayur dan juga santan murni beserta aneka ragam rempah rempah yang membuat makanan ini luar biasa enaknya. Kami memakan dengan lahapnya, Puan Mastura pun tidak lupa melahap “Ulee Engkot Asam Keueng (Kuah Asam dengan Kepala Ikan)”. Kata Puan Mastura “ Sedap Sekali ikan ini, segar dan menggugah selera”.

Selesai makan siang kami berkunjung ke beberapa tempat wisata yaitu Kapal Diatas Rumah, yaitu kapal nelayan yang terhempas tsunami sekitar 5 Km dari tepi pantai. Kapal nelayan ini menyelamatkan 59 nyawa yang berhasil menggapai kedalam kapal. Kalau Anda ingin cerita lengkapnya, tanyakan saja dengan pak Saifun, beliau korban tsunami yang selamat dari musibah tsunami yang tinggal di sekitar tempat kapal itu.

Selesai melihat keajaiban Allah di Lampulo, kami menuju ke PLTD Apung, Kapal yang berat 2.600 Ton terhempas dari tepi Pantai kedalam Kota. Puan Masturan dan Puan Rugaiyyah tidak pernah terbayang kapal sebesar itu akan terhempas ke tengah kota. Tentu itu pengalaman yang luar biasa. Setelah itu puan mastura berkunjung ke Museum Tsunami dan Museum Aceh.  Menikmati keindahan budaya dan adat Aceh yang begitu banyaknya. Setelah puas berkeliling dan menikmati beberapa tempat wisata maka kami pun mengakhiri hari di Mesjid Raya Baiturrahman. Puan Mastura ingin sekali untuk menikmati sisi relijius Aceh di Mesjid kebanggaan masyarakat Aceh. Magrib penuh Syahdu, alam semula jadi membisik bahwa semua yang ada di bumi, di lautan, di udara dan di seluruh alam semesta adalah milik Tuhan sang pencipta.

Malam pun semakin beranjak, Perut pun sudah mulai melakukan protes karena hari ini banyak jalan jalan. Walaupun tadi setelah ashar di Mesjid Ulee Lhee sempat minum juice alpokat tapi wangi “Mie Razali” semakin menggugah selera. Maka malam itu kami tutup dengan menyantap mie kepiting khas Aceh. Puan Mastura dan Puan Rugaiyyah menyantap menu Mie Kepiting dan saya berhubung punya riwayat Alergi dengan mie kepiting jadi saya menyantap mie daging. Malam pun berlalu dengan gemerlap bintang.

Keesokan hari dengan cuaca yang sangat bersahabat kami menelusuri Perumahan Tiongkok atau yang lebih dikenal dengan sebutan “Perumahan Jackie Chan”, disebut demikian karena Jackie Chan termasuk donatur terbesar untuk pembangunan perumahan tersebut yang hampir 1.000 rumah dan dia juga hadir pada saat peresmian perumahan tersebut. Setelah puas kami pergi ke Rumah Cut Nyak Dhien yang terletak di lampisang. Selanjutnya menyusuri mesjid Rahmatullah, mesjid yang selamat dari amukan tsunami dan setelah itu menikmati Suasana Pantai Lampuuk yang Biru nan mempesona. Setelah itu baru kami akhiri dengan berkunjung ke Kubah Terapung yang berada di Kawasan Peukan Bada. Di sisa waktu yang ada kami berkeliling ke beberapa destinasi dan terakhir shopping di pasar Aceh.

Di Pantai Lampuuk
Di Pantai Lampuuk

Perjalanan yang padat namun memberikan kesan mendalam kepada Para Tamu yang datang. Mereka senang karena dapat melihat langsung bukti bukti kekuasaan Allah yang dinampakkan dalam peristiwa tsunami. Dan mereka juga sangat puas dengan pelayanan yang diberikan oleh team Glory Travel.

Testimoni tentang Pelayanan Glory Travel
Testimoni tentang Pelayanan Glory Travel

 

Akhirnya pada minggu pagi 22 Februari 2015 Puan Mastura dan Puan Rugaiyyah terbang meninggalkan Aceh dengan Pesawat Lion Air. Tertinggal segala Kisah serta kenangan tentang Aceh dan Sabang, kisah sabang dengan wisata bawah air yang indah dan kisah banda aceh sebagai saksi sejarah masa lampau dan juga saksi dari dahsyatnya amukan tsunami pada tahun 2004 (Tamat)

 

Ridha Sahputra (Tour Manager Glory Travel Aceh / 0811680469)

PART 1 : TOUR BANDA ACEH SABANG BERSAMA PUAN MASTURA (18 – 22 February 2015)

Satu Bulan yang lalu Glory Travel Aceh mendapat Email dari Puan Mastura, warga negara Singapore tentang keinginannya untuk berkunjung ke Aceh. Beliau penasaran dengan kejadian tsunami pada tahun 2004 yang menimpa Aceh, karena sebelum ke Aceh beliau pernah berkunjung ke Srilanka dimana disana juga terjadi bencana musibah tsunami. Namun tidak lengkap rasanya kalau belum berkunjung ke pusat tsunami yang menewaskan hampir 230.000 jiwa di 8 Negara dimana yang terbanyak itu berada di Aceh, Provinsi paling barat dari Negara Indonesia.

Team Glory Travel langsung merespons keinginan Puan Mastura dengan mengirimkan rancangan keberangkatan dan juga details kegiatan yang akan dilakukan selama berada di Aceh. Akhirnya setelah deal dan proses Down Payment (DP) hari yang ditunggu pun tiba.

Bertolak dari Singapore dengan pesawat Lion Air Pukul 11.40 Waktu Singapore akhirnya Puan Mastura tiba di Cengkareng Jakarta Pada Pukul 14.00 WIB. Dan drama akhirnya dimulai, dimana pada 18 Februari 2015 terjadi delay massal maskapai Lion Air yang menyebabkan Puan Mastura mengalami delay selama hampir 5 jam. Pertama dijadwalkan tiba pukul 21.30 WIB namun pesawat baru mendarat di Bandara Sultan Iskandar Muda pukul 02.00 WIB. Langsung menuju Hotel untuk beristirahat karena besok pagi harus berangkat menuju Pulau Weh dengan Kapal Cepat selama 45 Menit.

Pagi hari langsung check out dan menuju pelabuhan Ulee Lhee dan Perjalanan pun dimulai, Puan Mastura begitu senang ketika melihat lautan luas. Hampir setahun sudah tidak berjumpa dengan Pantai dan Lautan sehingga dia sudah tidak sabar untuk snorkeling di Pulau Rubiah. Sampai di Sabang kemudian menuju Anoi Itam Resort, menikmati keindahan Panorama Sabang yang luar biasa. Kemudian setelah itu menuju Benteng Jepang, dimana pada perang dunia kedua Jepang menjadikan Sabang sebagai benteng pertahanan dari serangan Sekutu di Asia Pasifik. Setelah puas berfoto foto di Benteng Jepang kami menuju Hotel untuk Beristirahat sejenak. Istirahat yang lengkap dengan deburan ombak yang membuat suasana liburan semakin menyenangkan. Istirahat sejenak ini sambil menunggu waktu dhuhur tiba supaya bisa dilakukan “Jamak Taqdim (Yaitu menggabungkan 2 waktu shalat dalam waktu yang lebih awal)”.

benteng Jepang Sabang
benteng Jepang Sabang

Setelah itu langsung menuju ke Kilometer Nol Indonesia. Disana Hamparan Samudera Hindia terlihat jelas dimana luasnya laut tak berbatas. Namun di Kilometer Nol ini hanya berfoto sejenak saja karena kawasan Kilometer Nol ini masih dalam tahap renovasi. Setelah itu bergerak menuju Iboih dimana snorkeling akan dilakukan. Berhubung Liburan Imlek ramai wisatawan yang snorkeling. Kami Pun snorkeling selama hampir kurang 3 Jam di Kawasan Pulau Rubiah. Puan Mastura sangat ingin tinggal di Pulau Rubiah untuk waktu yang lama karena keindahan pantai dan suasana yang sangat damai membuat pikiran menjadi tenang dan rileks.

Snorkeling di Pulau Rubiah
Snorkeling di Pulau Rubiah

Kemudian kami kembali ke Hotel untuk Magrib dan setelah itu Makan Malam dilakukan di Kawasan Kota Sabang. Makan Ikan Bakar meeennnn…. Ikan bakar yang baru diturunkan oleh Nelayan. Rasanya seuuuugarrr banget mennn. Malam itupun ditutup dengan sangat menyenangkan. Sebelum kembali ke Hotel kami menyempatkan untuk berkunjung ke Toko Souvenir “Piyoh” yang berada di Kawasan Kota.

Sekedar Informasi untuk Anda yang belum pernah ke Sabang (Pulau Weh), Orang Sabang itu dari jam 2 siang sampai pukul 5 sore itu akan menutup toko dan menghentikan aktivitas berjualan. Karena mereka sudah menjadi tradisi di waktu tersebut untuk TIDUR SIANG. So jangan belanja siang hari di Sabang ya. Karena banyak toko dan kedai yang tutup di Siang Hari. Heheheheheh (To Be Continued)

ACEH & MALAYSIA : Antara Keudah Aceh dan Kedah Malaysia

TEMPO.CO, Banda Aceh – Sekitar 30 turis dari Kedah, Malaysia, mengunjungi Banda Aceh. Salah satu daerah yang mereka datangi adalah Gampong (desa) Keudah, Banda Aceh. Mereka bersilaturahmi dengan penduduk setempat, Ahad malam, 18 Januari 2015. Kedah di Malaysia dan Keudah di Banda Aceh bernama sama dan masih “bersaudara”.

Tetua Gampong Keudah Sulaiman menyambut baik kedatangan masyarakat Kedah, Malaysia, ke desanya. “Ini adalah sebuah hikmah, di mana saudara kami dari jauh sudah datang ke sini,” ujarnya.

Menurut Sulaiman, warga Keudah juga sangat ingin bersilaturahmi ke Kedah agar ikatan persaudaraan yang sudah terbina sejak dulu bisa terus terjalin erat.

Ketua Rombongan Jalinan Kasih dari Kedah, Malaysia, Fazilah Ismail, menyatakan kekagumannya atas penyambutan masyarakat Banda Aceh. Sudah lama mereka ingin bersilaturahmi dengan warga Keudah, tapi baru terwujud sekarang. “Pada malam ini, Allah telah mempertemukan dua hati antara kami dan saudara kami di sini,” ujarnya.

Menurut Fazilah, rombongan sangat menyukai wisata di Banda Aceh, yang kaya dengan tempat religi dan tsunami heritage. Mereka sangat menyukai Masjid Raya Baiturrahman. “Hampir semua orang Malaysia tertarik dengan masjid ini yang sangat megah. Sejarahnya juga,” tutur Fazilah.

Sekretaris Kota Banda Aceh Bahagia mengatakan kedatangan rombongan dari Malaysia itu dapat meningkatkan kerja sama kedua daerah. “Kedatangan tuan dan puan sekalian ke kota kami ini hendaknya menjadi motivasi dan inspirasi bagi kita semua dalam menggali berbagai potensi yang kita miliki,” ujarnya.

Menurut Bahagia, Aceh dan Malaysia telah punya hubungan kekerabatan sejak lama. Kedua daerah mempunyai banyak kesamaan, baik dalam keagamaan, budaya, serta intelektual, bukan hanya serumpun. Banyak bukti-bukti sejarah yang menguatkan hal itu.

 

Hubungan Kedah dan Keudah telah terjalin sejak masa Kesultanan Iskandar Muda. Gampong Keudah dihadiahkan Sultan Aceh kepada masyarakat Kedah yang berkunjung ke Aceh pada masa itu, abad ke-17. Tujuannya adalah membangun perekonomian dan kerja sama perdagangan lada dan rempah-rempah.

 

ADI WARSIDI

Salah Satu Group Tour Malaysia Bersama Glory Travel
Salah Satu Group Tour Malaysia Bersama Glory Travel

SEJARAH ACEH BIKIN KAGUM TURIS MALAYSIA

Banda aceh – Enam wisatawan malaysia ikut menghadiri haul mengenang 859 tahun mangkatnya Tuan Di Kandang, di Gampong Pande, Banda Aceh. Mereka mengaku kagum dengan sejarah Aceh yang ternyata di luar dugaan mereka.

“Rupanya lebih dari pengetahuan yang kami peroleh di Malaysia,” kata Fatihah (20 tahun) turis Malaysia yang juga pegiat Group Penjejak Tamaddun Dunia (GPTD), komunitas pecinta sejarah di negeri seberang, sabtu 14 februari 2015.

Menurutnya mayoritas masyarakat Malaysia hanya mengenal beberapa sultan dari Aceh diantaranya Iskandar Muda. Padahal jauh sebelumnya peradaban Aceh sudah gemilang dan ada ikatan batin dengan Malaysia.

Fatihah tercengang saat bertandang ke Gampong Pande melihat nisan-nisan kuno dengan ukiran-ukiran unik, bukti betapa majunya negeri ini pada masa lalu. Sejarah singkat sosok tuan di kandang juga membuat mereka tertarik.

Setelah mendapat informasi sedikit tentang kerajaan Lamuri yang berjaya jauh sebelum lahirnya Aceh Darussalam, perempuan itu pun ingin ke Lamreh, bekas kota Lamuri. “Nak pigi lihat ke sana, Insya Allah.”

Fatihah mengungkapkan ini kali pertama bertandang ke Aceh, untuk melihat secara langsung sekaligus menyurve awal sejarah kepemimpinan Sultan Iskandar Muda. Bersama beberapa rekan di GPTD, ia tertarik ingin meneliti sejarah Iskandar Muda yang tersohor.

Paduka perkasa alam itu dinilai sebagai sosok yang menyatukan bangsa melayu dan membudayakan bahasa melayu, berperan besar dalam meningkatkan sejarah islam dunia melayu serta mempopulerkan penulisan jawi. “Dengan penelitian kami di sini nanti akan semakin bertambah pengatuan bagi masyarakat di Malaysia, bahwa Aceh tu tak hanya tsunami saja tapi sejarah-sejarah jua,” tuturnya dalam logat melayu yang kental.

Fatihah mengatakan hasil penelitiannya nanti akan ditawarkan ke stasiun televisi di malaysia, untuk dibuat film dokumenter. [sm]

Sumber : Disbudpar Kota Banda Aceh

TRADISI MAULID ALA SERAMBI MEKKAH

Suasana Peringatan Maulid Di Bumi Serambi Mekkah
Suasana Peringatan Maulid Di Bumi Serambi Mekkah

Djohan Ali terlihat sibuk mengarahkan di masjid arrahman, gampong pante riek, Kecamatan Lueng Bata, kota Banda Aceh. “Silakan, silakan, duduk aja di mana ada yang kosong,” kata tuha peut alias tetua gampong Panti Riek itu dengan senyum ramah.

Warga dari berbagai desa dan instansi itu kemudian duduk melingkari idang-idang (bungkusan nasi kulah dan lauk) yang sudah ditata panitia. Selanjutnya mereka menyantap hidangan tersebut dengan tertib, tak saling berebut. Tua muda, kaya miskin berbaur penuh persaudaraan.

Beginilah suasana maulid di masjid komplek buddha tzu chi itu, senin 26 januari 2015. Tradisi merayakan kelahiran nabi muhammad ini, dilakoni warga secara turun-temurun tiap rabiul awal tahun hijriah, sebagai bentuk kecintaan kepada rasul.

Hari itu kaum pria desa hampir semua berkumpul di masjid. Djohan dan tokoh pimpinan gampong lainnya, bahu-membahu membantu panitia menyukseskan ritual tahunan ini.

Sedari pagi mereka menyiapkan berbagai kebutuhan untuk tamu yang diundang. Tempat cuci tangan dan air minum sudah tersedia. Kuah beulongong, kuliner khas aceh rayuek (aceh besar) berupa daging dan bumbu rempah-rempah yang dimasak dalam kuali besar, ikut disiapkan.“ada sembilan kampung tetangga yang kita undang,” ujar djohan.

Maulid di sini berlangsung meriah. Jelang hari h, kaum laki-laki bergotong royong membersihkan masjid dan pekarangannya. Panitia juga menggelar cerdas cermat untuk anak-anak.

Di rumah-rumah, kaum perempuan suka rela menyiapkan berbagai menu dan lauk dari daging, ikan dan telur yang dimasak dengan bumbu rempah-rempah khas dan menggungah selera. Juga bu kulah atau nasi dibungkus mengerucut layaknya piramida dengan daun pisang yang sudah dipanaskan di atas api sehingga aromanya terjaga.

Aneka menu dan bu kulah itu kemudian dikemas jadi idang; ditata rapi dalam tabak (baki) atau keranjang rotan, selanjutnya ditutup dengan sange dan dibungkus dengan kain penuh motif, sehingga terlihat unik.

Idang itu selanjutnya di bawa ke masjid. Jelang siang puluhan idang sudah terkumpul di sana. Suasana makin semarak dengan penampilan zikir barzanji dan shalawat, sebagai identitas maulid di aceh.

Selepas zuhur, undangan dari berbagai desa dan instansi berbondong-bondong datang ke masjid ini, untuk menyantap khanduri atau sajian. Diantaranya terlihat kepala dinas kebudayaan dan pariwisata kota banda aceh, fadhil, s.sos, kabid promosi dan pemasaran disbudpar banda aceh, hasnanda putra dan staf lainnya.

Warga desa yang punya hajatan berbagi peran melayani, ada yang bertugas mengarahkan undangan. Sebagian lagi sibuk menyiapkan air cuci tangan, air minum dan kebutuhan lain untuk memuliakan tamu. Para undangan duduk melingkar menyantap isi idang. Isi hidangan harus dihabiskan, agar tak mubazir. Jika ada yang tersisa diperbolehkan membawa pulang. Panitia menyediakan kantong kresek. Sehabis undangan pulang, pemuda kampung selanjutnya membersihkan lagi masjid dari sisa-sisa makanan dan minuman yang berceceran di lantai.

Acara tak berhenti di sini. Pada malam hari, rangkaian maulid diisi dengan dakwah disampaikan oleh teungku wahed dari tualang cut. Warga dari berbagai tempat kembali berdatangan memenuhi area masjid, mendengar ceramah agama. Memberi berkah bagi pedagang kecil mengais rezeki di lokasi acara.

Maulid merupakan tradisi sakral di aceh. Tiap tahun sepanjang rabiul awal, hampir semua kampung di serambi mekkah merayakan maulid. Agar tak berbenturan dengan kampung tetangga, warga menggelar musyawarah adat menentukan hari dan tanggal mainnya, berikut teknis acaranya. Warga sendiri ikut menyiapkan berbagai keperluan, mulai dari beras, bumbu masakan, hingga itik dan ayam.

Dalam tradisi aceh maulid biasanya dirayakan dengan kenduri, zikir barzanji dan menyantuni anak yatim di tiap-tiap meunasah atau masjid. Pada malam hari digelar dakwah sebagai bagian dari syiar islam.

Tiap daerah memiliki keunikan tersendiri dalam merayakan maulid. Di pidie dan pidie jaya misalnya, menu maulid rasanya belum lengkap kalau tak ada sie puteh, masakan daging berkuah kental yang dimasak dengan bumbu rempah-rempah. Sebagian meunasah atau masjid, warga juga menyiapkan kari kambing.

Di aceh utara dalam idang selalu disisipkan pulot dan pisang sebagai pencuci mulud. Sementara di aceh besar dan banda aceh, kuah beulangong jadi andalan sebagai menu tambahan diantara kuliner lain yang disajikan. Di dalam idang biasanya juga disertai buah-buahan.

Kepala disbupdar banda aceh, fadhil menyatakan, maulid di aceh merupakan bentuk ekspresi keikhlasan dan kecintaan terhadap nabi muhammad. Itu terlihat dari makanan-makanan lezat dan berkualitas yang disiapkan warga secara ikhlas tanpa paksaan. “ada gak dia bilang waktu bawa, ini untuk kepala dinas, ini untuk pak camat, ini untuk raja? Ngak kan. Yang penting jangan ada yang tinggal. Ikhlas tanpa rekayasa,” ujarnya.

Maulid, menurutnya, bagian dari pertunjukan tradisi orang aceh sebagai masyarakat berperadapan tinggi dan menjunjung filosofi persaudaraan “peumulia jamee adat geutanyoe (memuliakan tamu adat kita).”

Ketua majelis adat aceh, badruzzaman ismail mengatakan, maulid dalam tradisi aceh bukanlah sekadar makan-makan. Ada wujud syukur kepada allah atas rezeki yang sudah dilimpahkan dengan cara saling berbagi, kemudian bentuk kecintaan kepada nabi muhammad serta memperkuat ukhuwah islamiyah atau silaturrahmi. “tamu-tamu dari kampung lain datang saling berinteraksi saat maulid, saudara-saudara yang jauh datang waktu maulid. Silaturrahmi semakin kuat,” ujarnya.

Selain itu, lanjut badruzzaman, tradisi maulid juga meningkatkan perekonomian rakyat, dimana transaksi jual beli kebutuhan pokok dan bumbu pada bulan maulid naik. “buah, daging, bawang segala macam laku keras,” sebutnya.

Esensi utama dari memperingati maulid, kata dia, agar umat mengenang dan meneladani nabi muhammad, serta meningkatkan ketaqwaannya kepada allah. [Salman Mardira]

Hidangan Maulid yang beraneka Ragam sebagai kesyukuran terhadap hari lahirnya Nabi Muhammad SAW
Hidangan Maulid yang beraneka Ragam sebagai kesyukuran terhadap hari lahirnya Nabi Muhammad SAW

Sumber : Disbudpar Kota Banda Aceh

KEAJAIBAN TSUNAMI DI HAMPARAN SAWAH

Tsunami menyisakan berbagai keajaiban yang patut dikenang sebagai kekuasan Tuhan. Salah satunya kubah Masjid Lamteungoh yang terdampar di tengah persawahan Gurah, Kecamatan Peukan Bada, Aceh Besar. Bangunan berbobot sekira 20 ton ini terseret gelombang sejauh 2,5 kilometer dari tempat semula.

Menatap kubah ini, pikiran Darmawan (43 tahun), seketika terkenang peristiwa 10 tahun silam; tsunami yang menggulung Gurah dan kawasan pesisir Aceh. Ibu, ayah dan 27 anggota keluarganya hilang dalam bencana 26 Desember 2004. “Tidak satu pun jenazahnya yang saya temukan.”

Tak mau terus bermurung duka, Darmawan bangkit menata hidupnya kembali, mengambil hikmah dengan cara mengais rezeki dari pengunjung yang datang menyaksikan saksi bisu keajaiban tsunami di Gurah. Ia mendirikan kios jajanan makanan, minuman ringan dan beberapa souvenir khas Aceh di lokasi kubah. “Cukuplah untuk makan,” ujarnya medio Desember 2014.

Darmawan adalah mantan pengurus kubah ini. Awalnya, kata dia, kubah ini tertancap di atas Masjid Lamteungoh, desa tetangga Gurah. Tsunami datang, masjid itu pun hancur diterjang. Kubahnya diseret gelombang sejauh 2,5 km ke kaki perbukitan Gurah. “Ketika air surut, kubah ini ditarik lagi hingga tertahan di sini,” ceritanya.

Saat kubah dibawa arus, lanjut Darmawan, ada tiga orang dari Lamteungoh bergantungan di sini. Seorang diantaranya perempuan. “Mereka selamat sampai sekarang.”

Ketika baru-baru tsunami, hamparan sawah sekeliling kubah penuh sampah dan pohon yang roboh disapu ombak. Mayat-mayat juga berserekan di situ. Warga sekitar kemudian bergotong royong membersihkan dan merawatnya. Lembaran-lembaran Al quran yang berserak, dipungut dijadikan koleksi dalam sebuah lemari kaca di komplek kubah.

Mereka juga membangun jalan darurat dari kayu-kayu bekas tsunami, agar pengunjung tak repot melintasi pematang sawah untuk ke sini. Beberapa tahun kemudian, jalan kayu ini ditimbun dan kini sedang menanti diaspal.

Menurutnya kubah ini sengaja dirawat warga sebagai peninggalan sejarah bagi generasi mendatang, agar kelak mereka tahu bahwa kawasan ini pernah dilanda tsunami. “Ketika kita meninggal nanti tidak ada yang bisa mengingatkan mereka. Hanya peninggalan beginilah yang bisa mengingatkan mereka.”

10 tahun berlalu, lokasi kubah ini makin cantik. Begitu masuk ke sana kita akan dihadapkan dengan sebuah gapura bertulis ‘Monumen Kubah Masjid Al Tsunami’. Komplek yang sudah dikeliling pagar ini, juga dilengkapi sebuah balai yang dindingnya dipenuhi gambar-gambar kedahsyatan tsunami, termasuk foto kubah ini ketika baru-baru tsunami.

Pengunjung silih berganti datang, bukan hanya dari dalam negeri, tapi juga mancanegara. “Paling banyak dari Malaysia. Dalam dua hari ini saja bisa dibilang sudah ratusan. Mereka datangnya berombongan,” kata Darmawan. [Salman Mardira]

 

Sumber : Disbudpar Banda Aceh

Disbudpar Ajak Wisatawan Hadiri Peringatan Maulid

BANDA ACEH – Dinas Budaya dan Pariwisata (Disbudpar) Banda Aceh akan mengajak wisatawan luar negeri maupun nusantara untuk menghadiri peringatan maulid yang dilaksanakan di gampong-gampong. Hal ini dilakukan untuk melihat adat budaya, dan menikmati aneka makanan khas Aceh yang tersedia pada peringatan hari kelahiran Nabi Muhammad SAW.

Kadisbudpar Banda Aceh, Fadhil MM kepada Serambi, Senin (19/1) mengatakan, saat ini pihaknya sedang berkoordinasi dengan keuchik dan para camat. Menurutnya, sudah ada beberapa gampong yang mengirimkan jadwal maulid kepada pihaknya.

Selain dengan aparat desa dan kecamatan, pihaknya juga berkoordinasi dengan sejumlah hotel yang ada di Banda Aceh. “Jika ada wisatawan yang menginap di hotel tersebut, nanti pihak hotel dapat memberitahu ke kita, atau kita yang menghubungi hotel tersebut. Kita akan ajak wisatawan itu ke acara peringatan maulid,” kata Fadhil.

“Hal ini memang sederhana dengan mengajak tiga atau lima wisatawan ke peringatan maulid. Tapi di sana para wisatawan dapat melihat berbagai adat dan budaya Aceh secara natural. Ada zikir, santunan kepada anak yatim, dan berbagai makanan khas Aceh seperti kuah beulangong,” ujarnya.

Ia berharap melalui kegiatan ini dapat memberikan kesan yang baik kepada para wisatawan yang berkunjung ke Banda Aceh. “Karena itu kami berharap partisipasi dari keuchik, camat, dan masyarakat untuk menyukseskan program ini,” tutupnya.(una)

Masjid Raya Baiturrahman, Kebanggaan Aceh yang Melintas Sejarah

Mesjid Raya Baiturrahman di Malam Hari (foto diambil dari menara mesjid)
Mesjid Raya Baiturrahman di Malam Hari (foto diambil dari menara mesjid)

Mesjid Raya Baiturrahman merupakan sebuah ikon provinsi Aceh. Dimana Mesjid ini memiliki sejarah yang sangat panjang dan juga menjadi saksi sejarah terhadap beragam kejadian yang terjadi di Bumi Serambi Mekkah. Masa kesultanan Aceh yang terkenal sampai negeri ottoman (red. Turki), penjajahan Belanda dan Jepang dan juga sampai momen momen bersejarah dalam masa konflik TNI dan GAM dimana Mesjid Raya pada tahun 1999 juga pernah dijadikan tempat untuk berkumpulnya rakyat dari seluruh Aceh untuk meminta Referendum dari Republik Indonesia. Sejarah mencatat Mesjid Raya Baiturrahman telah melewati berbagai fase fase peristiwa yang luar biasa. Namun dibalik semua itu Mesjid Raya Baiturrahman masih tegak berdiri di tengah tengah Kuta Raja (red. Sekarang Banda Aceh).

Masjid Raya Baiturrahman terletak di jantung Kota Banda Aceh, tepatnya di Desa Kampung Baru, Kecamatan Baiturrahman, Banda Aceh. Dari menaranya dapat dilihat sepintas Kota Banda Aceh. Masjid inilah yang menjadi salah satu titik awal perkembangan sejarah islam di Aceh. Masjid ini pula lah yang menjadi saksi perjalanan Aceh mulai dari masa kesultanan, penjajahan, hingga pemerintahan Indonesia.

 

Terdapat dua kisah mengenai berdirinya masjid yang menjadi simbol dan kebanggaan masyarakat Aceh ini. Pertama, pendapat yang mengatakan bahwa masjid ini didirikan pada tahun 1292 oleh Sultan Alaudin Mahmud Syah I. Kedua, pendapat yang mengatakan bahwa masjid ini didirikan pada abad ke-17 di masa kejayaan Sultan Iskandar Muda. Dari kedua pendapat tersebut, dikatakan bahwa keaadan masjid pada saat itu masih sangat sederhana dengan konstruksi kayu dan atap rumbia.

 

Pada tahun 1873, Masjid Raya Baiturrahman pernah diduduki dan dibakar oleh Belanda dalam penyerbuan yang menewaskan banyak orang dan juga salah satu perwira tinggi Belanda, yakni Jenderal Kohler. Kemudian atas nasehat Snouck Horgronje, pada tanggal 9 Oktober 1879 Belanda memutuskan untuk kembali membangun masjid ini. Peletak batu pertama adalah Tengku Malikul Adil dan disaksikan oleh pembesar Belanda. Sejak saat inilah konstruksi masjid mulai berubah mengikuti perkembangan arsitektur Eropa dan  islam pada masa itu.

 

Seiring berjalannya waktu, perubahan dan perluasan semakin bertambah. Bermula dari satu kubah kemudian bertambah menjadi tiga kubah pada tahun 1935. Pada masa pemerintahan presiden Soekarno, yakni tahun 1957, dua kubah baru di bagian belakang kembali dibuat sehingga menjadi lima kubah. Lima kubah ini dianggap sebagai gambaran Pancasila. Kemudian pada kurun waktu 1992-1995, masjid kembali dipugar dan diperluas hingga memiliki tujuh buah kubah dan lima menara dengan daya tampung sekitar 13.000 jemaah. Semua pemugaran yang dilakukan tetap memperhatikan dan mempertahankan arsitektur lama pada masa Belanda, salah satunya kubah pertamanya.

 

Masjid Raya Baiturrahman memiliki denah persegi dengan pintu berupa relung-relung tanpa daun pintu.  Dihiasi menara-menara di bagian atasnya. Kaligrafi menghiasi dinding ruangan, sedangkan pada jendela dan pintu terdapat hiasan persegi, belah ketupat, sulur, dan bunga. Tiang-tiang dalam ruang utama juga dihiasi lengkungan, daun, dan garis-garis. Adapun di dalam ruangan utama terdapat mihrab dan mimbar dengan hiasan daun-daunan, bunga dan sulur-sulur. Menara sangat tinggi terletak di depan halaman, dilengkapi tangga beton berputar, tempat dimana pengunjung atau jemaah melihat Kota Banda Aceh dari ketinggian.

 

Masjid Raya Baiturrahman juga memiliki kedudukan penting pada saat konflik memanas di Aceh. Diantaranya adalah sebagai tempat masyarakat memanjatkan doa untuk perdamaian, tempat singgah pejabat pusat saat kondisi tak aman, dan sebagai saksi peristiwa tsunami yang memilukan. Begitupula pada saat delegesai Indonesia bertemu dengan wakil Gerakan Aceh Merdeka di Helsinki-Finlandia, masyarakat secara khusus menggelar doa bersama di masjid ini. Oleh karenanya, keberadaan dan fungsi masjid yang menjadi salah satu masjid terindah di Asia Tenggara ini harus tetap dijaga dan  dilangsungkan.

 

 

Sumber:

Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. (1999). Masjid Kuno Indonesia. Jakarta: Proyek Pembinaan Peninggalan Sejarah dan Kepurbakalaan Pusat.

Biografi Pahlawan Nasional Aceh : CUT NYAK DHIEN (Serial Pahlawan Indonesia)

Cut Nyak Dhien
Cut Nyak Dhien

Cut Nyak Dhien merupakan pahlawan wanita Aceh yang sangat ditakuti oleh pihak Belanda. Walaupun seorang perempuan Cut Nyak (Panggilan Akrabnya) sangat lihai memainkan strategi gerilya melawan penjajahan Belanda. Belanda menganggap Cut Nyak merupakan salah satu lawan yang paling berbahaya sepeninggalnya Teuku Umar, Suami Cut Nyak yang tewas setelah “Peluru Emas” menembus dada Teuku Umar di Pantai Ujong Kalak Meulaboh Aceh Barat.

 

Cut Nyak Dien lahir pada 1848 dari keluarga kalangan bangsawan yang taat beragama. Ayahnya bernama Teuku Nanta Seutia, seorang uleebalang. Beliau mendapatkan pendidikan agama dan rumah tangga yang baik dari kedua orang tua dan para guru agama. Semua ini membentuk kepribadian beliau yang memiliki sifat tabah, teguh pendirian, dan tawakal.

 

Seperti umumnya di masa itu, beliau menikah di usia sangat muda dengan Teuku Ibrahim Lamnga. Mereka dikaruniai seorang anak laki-laki. Ketika Perang Aceh meletus tahun 1873, Teuku Ibrahim turut aktif di garis depan. Cut Nyak Dien selalu memberikan dukungan dan dorongan semangat.

 

Semangat juang dan perlawanan Cut Nyak Dien bertambah kuat saat Belanda membakar Masjid Besar Aceh. Dengan semangat menyala, beliau mengajak seluruh rakyat Aceh untuk terus berjuang. Saat Teuku Ibrahim gugur, di tengah kesedihan, beliau bertekad meneruskan perjuangan. Dua tahun setelah kematian suami pertamanya tepatnya pada tahun 1880, Cut Nyak Dien menikah lagi dengan Teuku Umar. Seperti Teuku Ibrahim, Teuku Umar adalah pejuang kemerdekaan yang hebat.

 

Bersama Cut Nyak Dien, perlawanan yang dipimpin Teuku Umar bertambah hebat. Sebagai pemimpin yang cerdik, Teuku Umar pernah mengecoh Belanda dengan pura-pura bekerja sama pada tahun 1893, sebelum kemudian kembali memeranginya dengan membawa Iari senjata dan perlengkapan peranglain. Namun, dalam pertempuran di Meulaboh tanggal 11 Februari 1899 ,Teuku Umar gugur. Sejak meninggalnya Teuku Umar, selama 6 tahun Cut Nyak Dien mengatur serangan besar- besaran terhadap beberapa kedudukan Belanda. Seluruh barang berharga yang masih dimilikinya dikorbankan untuk biaya perang. Meski tanpa dukungan dari seorang suami, perjuangannya tidak pernah surut. Perlawanan yang dilakukan secara bergerilya itu dirasakan Belanda sangat mengganggu, bahkan membahayakan pendudukan mereka di tanah Aceh sehingga pasukan Belanda selalu berusaha menangkapnya.

 

 

Namun, kehidupan yang berat dihutan dan usia yang menua membuat kesehatan perempuan pemberani ini mulal menurun. Ditambah lagi, jumlah pasukannya terus berkurang akibat serangan Belanda. Meski demikian, ketika Pang Laot Ali, tangan kanan sekaligus panglimanya, menawarkan untuk menyerah, beliau sangat marah. Akhirnya, Pang Laot Ali yang tak sampai hati melihat penderitaan Cut Nyak Dien terpaksa berkhianat. la melaporkan persembunyian Cut Nyak Dien dengan beberapa syarat, di antaranya jangan melakukan kekerasan dan harus menghormatinya.

 

Begitu teguhnya pendirian Cut Nyak Dien, bahkan ketika sudah terkepung dan hendak ditangkap dalam kondisi rabun pun masih sempat mencabut rencong dan berusaha melawan pasukan Belanda. Pasukan Belanda yang begitu banyak akhirnya berhasil menangkap tangannya. Beliau marah luar biasa kepada Pang Laot Ali. Namun, walau pun di dalam tawanan, Cut Nyak Dien masih terus melakukan kontak dengan para pejuang yang belum tunduk. Tindakannya itu kembali membuat pihak Belanda berang sehingga beliau akhirnya dibuang ke Sumedang, Jawa Barat, pada 11 Desember 1906.

 

Cut Nyak Dien yang tiba dalam kondisi lusuh dengan tangan tak lepas memegang tasbih ini tidak dikenal sebagian besar penduduk Sumedang. Beliau dititipkan kepada Bupati Sumedang, Pangeran Aria Suriaatmaja, bersama dua tawanan lain, salah seorang bekas panglima perangnya yang berusia sekitar 50 tahun dan kemenakan beliau yang baru berusia 15 tahun. Belanda sama sekali tidak memberitahu siapa para tawanan itu. Melihat perempuan yang amat taat beragama itu, Pangeran Aria tidak menempatkannya di penjara, tetapi di rumah H. Ilyas, seorang tokoh agama, di belakang Masjid Besar Sumedang. Perilaku beliau yang taat beragama dan menolak semua pemberian Belanda menimbulkan rasa hormat dan simpati banyak orang yang kemudian datang mengunjungi membawakan pakaian atau makanan. Cut Nyak Dien, perempuan pejuang pemberani ini meninggal pada 6 November 1908.

 

Beliau dimakamkan secara hormat di Gunung Puyuh, sebuah komplek pemakaman para bangsawan Sumedang, tak jauh dari pusat kota. Sampai wafatnya, masyarakat Sumedang belum tahu siapa beliau, bahkan hingga Indonesia merdeka. Makam beliau dapat dikenali setelah dilakukan penelitian berdasarkan data dari pemerintah Belanda.

 

Tempat/Tgl. Lahir      :  Aceh, 1848 (tanggal dan bulan tidak diketahui)

Tempat/Tgl. Wafat     : Sumedang, 6 November 1908

SK Presiden              : Keppres No.106 Tahun 1964, Tgl. 2 Mei 1964

Gelar                         : Pahlawan Nasional

Rakyat Sumedang memanggil Cut Nyak Dien dengan nama Ibu Perbu karena kesalehannya dan sebagai tanda penghormatan. Hingga akhir hayatnya, beliau mengisi waktu dengan mengajarkan ilmu agama bagi masyarakat sekitar pengasinganya.

 

Nah, Perjuangan Cut Nyak Dien akhirnya di Filmkan pada tahun 1987, Christine Hakim yang berperan sebagai Cut Nyak Dien memainkan perannya dengan sangat luar biasa. Teuku Umar diperankan oleh Slamet Rahardjo. Film Cut Nyak Dien dinobatkan sebagai film terbaik dan Christine Hakim mendapatkan Piala Citra untuk Perannya sebagai Cut Nyak Dhien dan hamper seluruh piala citra pada tahun dimenangkan oleh Film Cut Nyak Dhien.

 

Film Cut Nyak Dien masih bisa dinikmati sampai sekarang dan sungguh sangat membakar rasa nasionalisme sebagai bangsa yang berdaulat yang tidak tunduk terhadap penjajahan Belanda.

 

 

Disarikan dari berbagai Sumber (RS)

Catatan Dahlan Iskan Untuk Aceh : Lokomotif Ketiga Yang Masih Perlu Keputusan

Museum Tsunami Aceh
Museum Tsunami Aceh

Setelah mengunjungi obyek yang satu ini, saya menarik kesimpulan: obyek ini bagus sekali. Bahkan saya menyesali diri. Kok tidak dulu-dulu berkunjung ke obyek ini: museum tsunami.

 

Museum ini dibangun dengan sangat professional. Desainnya modern dan penuh dengan filosofi yang terkait erat dengan peristiwa tsunami dan budaya Aceh. Saya tahu perancang bangunan ini, Ridwan Kamil, memang seorang arsitek handal yang dimiliki Indonesia.

 

Saya juga pernah sholat di masjid yang dia rancang di pinggiran kota Bandung. Juga sangat mengesankan. Pun penuh dengan filosofi. Hotel terbaru milik BUMN yang kini sedang dibangun di Nusa Dua, Bali, juga dirancang oleh arsitek hebat ini. Kini Ridwan Kamil menjadi walikota Bandung. Kita ingin tahu apa yang akan dia ciptakan di Bandung secara keseluruhan.

 

Museum tsunami di Banda Aceh ini jauh lebih hebat dari yang saya bayangkan. Begitu masuk, sudah sangat menggigit. Pengunjung sudah langsung mendapatkan experience. Yakni ketika pengunjung masuk ke museum melakui lorong gelap itu. Ada gemericik air di lorong itu. Bahkan benar-benar ada tetesan-tetesan air dari atas. Seperti hujan deras baru saja selesai tapi belum sepenuhnya berhenti. Titikan air itu tidak sampai membuat pengunjung basah kuyub, tapi cukup terasa menusuk.

 

Ketinggian lorong gelap ini pun dibuat tinggi: 22 meter. Untuk menggambarkan ketinggian gelombang tsunami yang terjadi di Aceh persis 10 tahun yang lalu. Dengan ketinggian lorong seperti itu pengunjung yang berada di dalamnya bisa membandingkan betapa dirinya tidak ada artinya dibanding dengan ketinggian air yang sedang menggulungnya. Betapa tidak berdayanya orang sekecil kita dengan dahsyatnya gelombang tsunami.

 

Begitu melewati lorong, kita mendapatkan obyek yang berupa cerobong besar. Itulah cerobong doa. Suasanya sangat magis. Pengunjung yang berada di ruang cerobong itu otomatis akan tersedot untuk mendongak. Mencari ujung cerobong di atas sana. Ujung cerobong itu ternyata sebuah atap kaca (sekaligus sumber pencahayaan) dengan tulisan Arab “Allah”. Langsung suasana religius tercipta.

 

Dinding cerobong yang melingkar itu didesain untuk ditulisi nama-nama korban yang meninggal/hilang dalam tsunami Aceh. Ribuan nama berjajar rapi di situ. Belum semua 280.000an nama tertulis, tapi sudah cukup massif untuk menciptakan suasana berkabung yang mendalam. Entah kapan semua nama akan tercetak di situ.

 

Lantai cerobong ini yang sukup besar, sekaligus dipergunakan untuk berdoa. Pengunjung, terutama keluarga, berdoa di sini sambil menengadah, ke tulisan Allah jauh di atas sana dan menatap nama-nama korban di dinding.

 

Sambil menuju ke lantai dua yang jalannya dibuat melingkar dan menanjak (dengan demikian tidak perlu ada anak-anak tangga), kita harus melewati jembatan kayu yang disebut jembatan perdamaian. Inilah symbol bahwa setelah terjadi tsunami tercapailah perdamaian di Aceh. Konflik besar yang sudah puluhan tahun berakhir. Di atas jembatan itu, di langit-langit yang tinggi, terlihat bendera banyak negara: itulah negara-negara yang membantu rehabilitasi Aceh. Di sebelah bendera itu ada tulisan yang menggunakan bahasa masing-masing yang artinya: damai!

 

Lantai 2 ini juga sangat menarik. Foto-foto tsunami, ilmu-ilmu mengenai tsunami dan geologi dipajang di situ. Ada pula teater kecil yang memutar video terjadinya tsunami. Ruangan dan layarnya menarik. Tapi videonya mungkin sudah perlu pembaharuan. Sudah harus ditambah sentuhan-sentuhan grafis. Agar lebih terasa modern. Video itu sudah kurang cocok untuk zaman multi media sekarang ini.

 

Sebetulnya ada “klimaks” yang luar biasa di meseum ini. Klimaks itu akan menjadi oleh-oleh paling berharga dari museum. Bahkan sepulang mereka dari Aceh klimaks itu akan jadi cerita yang tidak akan ada habisnya. Yakni di lantai paling atas. Di situ ada peragaan bangunan yang disebut tahan gempa dan bangunan yang tidak tahan gempa. Dengan guncangan tertentu, bangunan yang tidak tahan gempa akan runtuh. Lalu pengunjung bisa menyusun lagi bangunan itu untuk digoyang lagi. Dari situ akan terlihat bagaimana proses runtuhnya sebuah bangunan yang terkena gempa.

 

Tapi bukan itu klimaksnya. Melainkan ini: pengunjung bisa naik ke sebuah bilik, lalu bilik itu secara otomatis terguncang sesuai dengan keinginan. Besarnya guncangan itu menggambarkan dengan sebenarnya kekuatan gempa. Bisa distel di komputer.

 

Pengunjung bisa minta ingin merasakan guncangan gempa berskala berapa. Guncangan tertinggi berskala 9 Richter. Sama dengan gempa yang menyebabkan tsunami di Aceh. Pengunjung biasanya bergelimpangan di situ saat guncangan dibuat berskala 9 Richter. Bahkan banyak juga yang minta dihentikan atau minta turun.

 

Sayangnya, saat saya berkunjung ke museum itu Jumat lalu, peragaan yang penuh experience itu dalam keadaan rusak. Sudah lama. Lama sekali. Rupanya siapa yang harus mengelola museum ini perlu dibuat keputusan baru. Pemandu museumnya sudah sangat bagus, tapi brosur-brosurnya kurang menarik.

 

Rupanya siapa yang harus mengelola museum ini perlu dibicarakan ulang. Kementerian ESDM, yang mengelolanya selama ini, bisa mengkajinya.

 

Saya punya keyakinan kuat, meseum tsunami ini bisa menjadi lokomotip ketiga yang besar untuk daya tarik Aceh. Dengan demikian sudah tiga lokomotip bisa diandalkan. Tinggal mencari dua lagi. Pasti bisa ditemukan. Atau diadakan.(Selesai)

Catatan Dahlan Iskan Untuk Aceh : Lokomotif Kedua Juga Telah Tersedia

Nasi gurih Pak Rasyid, sarapan pagi yang cetarrr membahana

 

Marilah kita cari lokomotif kedua. Bulan lalu saya juga ke Banda Aceh. Untuk melantik pengurus daerah Barongsai Aceh. Sudah 12 tahun lebih menjadi ketua umum pusat organisasi barongsai. Sejak namanya masih Persobarin (Persatuan Seni dan Olahraga Barongsai Indonesia) sampai sekarang menjadi FOBI (Federasi Olahraga Barongsai Indonesia). Sejak barongsai masih dilarang tampil di depan umum, sampai sekarang ini FOBI sudah resmi menjadi anggota KONI.

Dari 12 tahun berpengalaman mengurus barongsai, baru bulan lalu saya menemukan keunikan yang satu ini. Dan kekhasan itu hanya terjadi di Aceh: acara barongsai di Aceh hari itu didahului dengan pembacaan ayat-ayat suci Al Quran. Acara juga dibuka dengan doa khusu’ secara Islam. Bahkan hanya di Aceh ini pertunjukan liong (tari naga), dikombinasikan dengan tari daerah Aceh yang sama-sama dinamisnya. Sangat menarik kolaborasi pertunjukan yang saya lihat malam itu.

“Saya memang lebih bangga menyebut diri sebagai orang Aceh,” ujar Kho Khie Siong, Ketua FOBI Aceh yang sehari-hari menjadi pengusaha asuransi itu. A-Khie, nama panggilannya,  adalah juga ketua organisasi suku Gek, salah satu suku dalam lingkungan masyarakat Tionghoa. “Bahasa mandarin pun saya sudah tidak bisa. Pak Dahlan malah lebih pandai,” katanya sambil mengarahkan jari ke saya. Kalau ada anak muda Aceh yang bertanya apakah dirinya Tionghoa, A-Khie sambil bergurau selalu balik bertanya: “kamu umur berapa? Saya lebih banyak kale pajoh asam sunti Aceh dari kamu,” guraunya.

Pun, penabuh genderang  barongsai di Aceh sudah campuran. Hanya beberapa yang anak Tionghoa. Lebih banyak pribuminya. Bahkan ada yang pakai jilbab. Ini sih memang sudah menjadi gejala di seluruh Indonesia. Di Jawa Timur, misalnya, banyak pemain barongsai dari suku Madura atau Jawa.

Mungkin masyarakat Tionghoa Aceh yang fanatik ke-Acehannya seperti A-Khie bisa ikut diminta membantu menciptakan salah satu dari lima lokomotif itu. Kelenteng, barongasai, dan kolaborasi dengan tari daerah, bisa dikemas yang jitu. Yang akan bisa ikut menarik gerbong wisata di Aceh. Terutama wisatawan suku Tionghoa dari Penang, Kuala Lumpur dan Malaka. Toh wisatawan Tionghoa dari daerah-daerah di Malaysia tersebut sudah sangat familiar dengan adat istiadat melayu dan kebiasaan dalam masyarakat Islam. Mereka tidak akan kaget menemukan Aceh yang sangat Islami. Kelak wisatawan Tionghoa dari Malaysia itu yang akan jadi corong Aceh untuk menarik wisatawan Tionghoa dari negara yang lebih jauh seperti Hongkong, Taiwan dan Tiongkok.

Itulah lokomotif kedua yang bisa disiapkan dengan semangat kebersamaan.

Lokomotif kedua itulah yang saya pikirkan menjelang tidur di rumah Cipta Makmur, di Jalan xxxxxx Banda Aceh, Kamis malam lalu. Minum kopi Solong dan makan durian Aceh tidak membuat saya sulit tidur. Mata memang sudah mengantuk. Maklum sudah jam 00.00.

Malam itu saya tidur 4 jam. Meski di Aceh waktu subuhnya setelah jam 05.00 tapi kebiasaan bangun jam 04.00 terbawa ke Aceh.

Begitu bangun kami langsung siap-siap ke Masjid Raya untuk sholat subuh. Ceramah ba’da subuh yang bertemakan aqidah yang disampaikan ustadz Drs H. Karim Syech MA, Ketua Majelis Permusyawaratan Ulama Kota Banda Aceh, sangat menarik. Saya mengikutinya sampai selesai. Terutama ketika beliau menguraikan perayaan tahun baru dan Natal. Dari masjid itu kami langsung berolahraga. Jalan cepat keliling pusat kota. “Kenapa jalannya begitu cepat pak Dahlan?,” tanya Mirza.

Lalu saya jelaskan, apa itu definisi olahraga. “Olahraga adalah gerak tubuh yang membuat jantung berdetak minimum 115 kali, selama 15 menit terus menerus”. Di situ ada unsur gerak tubuh, ada unsur detak jantung, ada unsur 15 menit, dan ada unsur terus menerus. Memang bisa saja ada orang yang jantungnya berdetak 115 kali tanpa tubuhnya bergerak. Tapi itu pasti bukan karena olahraga. Itu karena kaget, misalnya.

Jalan cepat yang benar itu juga tidak boleh sebentar-sebentar berhenti. Detak jantung yang sudah mencapai 115 kali bisa turun lagi. Maka berjalan itu harus cepat. Tidak usah lama. Cukup 15 menit. Asal jangan berhenti atau menurunkan kecepatan sama sekali.

Bagi aaya jalan santai itu bukan olahraga. Lalu, apakah jalan santai ramai-ramai itu jelek? Tidak. Itu bagus juga. Tapi kategorinya bukan olah raga, melainkan rekreasi. Pagi itu, saya, Mirza, Cipta dan Fuad benar-benar berjalan cepat, kira-kira 6 km/jam. Terus menerus. Selama 15 menit. Kok ya tepat, ujung akhir jalan cepat itu di lokasi yang sangat menyenangkan: warung nasi guri pak Rasyid. Makanan khas Aceh kembali menggoda saya: nasi guri daging, dendeng Aceh, bergedel dan rombongannya.

Setelah kenyang, kami pun kembali ke rumah Cipta: mandi. Lalu kami ke sebuah kantor yang belum pernah saya kunjungi: kantor harian Rakyat Aceh. Inilah untuk pertama kalinya saya ke kantor Rakyat Aceh. Alamatnya pun saya tidak tahu. Mirza sampai harus bertanya-tanya di mana lokasi kantor Rakyat Aceh. Saya pernah ke lokasi itu, hampir 10 tahun lalu, tapi ketika tanahnya masih milik orang lain. Saya ke situ untuk membelinya.

Sejak itu saya tidak pernah tahu apakah jadi dibeli atau tidak. Kalau jadi, apakah sudah dibangun atau belum. Ternyata di lokasi itu kini sudah bediri bangunan kantor dan percetakan harian Rakyat Aceh. Hanya pertamanannya yang masih belum disentuh. Saya sendiri tidak mengenali lagi lokasi itu. Dulu, rasanya jauh sekali dari pusat kota. Dan tersembunyi di jalan kecil. Sekarang, sudah ada jalan aspal dua arah di depannya. Persis berhadapan dengan gedung xxxxxxxx.

Selama menjabat Dirut PLN/menteri BUMN saya memang sering ke Aceh. Tapi  tidak mau ke kantor Rakyat Aceh. Kurang sopan. Kok masih ke kantor perusahaannya sendiri. Tapi karena kini sudah “merdeka” saya ingin bertemu teman-teman di Rakyat Aceh. Memang saya tidak memberi tahu kedatangan saya ini, tapi dengan cepat teman-teman Rakyat Aceh berkumpul. Saya mendapat info bahwa enam bulan terakhir ini Rakyat Aceh mengalami kemajuan yang pesat. Terutama setelah koran ini dicetak di Banda Aceh, dengan mendatangkan mesin cetak yang berwarna. Alhamdulillah.

Dari Rakyat Aceh inilah saya mengunjungi salah satu obyek yang mungkin bisa menjadi lokomotif ketiga dari lima lokomotip yang diperlukan Aceh untuk mensukseskan wisatanya. (Bersambung)

Sumber : Atjehpost.co