KUAH PLIK U, MAKANAN KHAS ACEH

Makanan tradisional satu ini merupakan salah satu jenis makanan berkuah yang khas dari Aceh. Namanya adalah Kuah Pliek U.

Apakah Kuah Pliek U itu?

Kuah Pliek U adalah makanan tradisional sejenis masakan bersantan yang khas dari daerah Aceh. Makanan satu ini sekilas hampir mirip dengan Gulai hanya saja isinya berupa sayuran dan kuahnya terbuat dari bahan khusus. Kuah Pliek U merupakan salah satu makanan tradisional yang cukup terkenal di daerah Aceh, khususnya di daerah pesisir timur Aceh. Selain dikonsumsi sehari-hari, Kuah Pliek U juga sering disajikan pada acara-acara tertentu dan menjadi salah satu menu special yang digemari oleh warga di sana.

Asal Usul Kuah Pliek U

Konon Kuah Pliek U sudah menjadi makanan favorit masyarakat Aceh sejak jaman dahulu. Nama Kuah Pliek U diambil dari salah satu bumbu dasar dalam membuat makanan ini yaitu “Pliek U” atau yang lebih dikenal dengan Patarana. Pliek u sendiri merupakan sisa kelapa yang minyaknya sudah diperas. Di masyarakat pedesaan Aceh, minyak kelapa ini biasanya dijadikan minyak goreng yang disebut dengan “Minyeuk Reutik”. Sedangkan sisa atau ampasnya dijemur dan dijadikan pliek u. Pliek u ini kemudian gunakan masyarakat sebagai bumbu dasar dari Kuah Pliek U.

Keunikan Dan Keistimewaan Kuah Pliek U

Salah satu keunikan dari makanan ini adalah penggunaan pliek u pada bumbunya. Penggunaan pliek u ini akan memberikan aroma yang sedap serta memberikan cita rasa yang khas pada kuahnya. Selain itu bahan yang digunakan pada Kuah Pliek U ini juga merupakan aneka sayuran sangat bervariasi. Kandungan vitamin dan gizi pada bahan Kuah Pliek U ini dipercaya dapat meningkatkan gairah dan kekebalan tubuh, sehingga baik untuk kesehatan.

Pengolahan Dan Penyajian Kuah Pliek U

Kuah Pliek U ini terbuat dari bahan utama seperti buah nangka muda, papaya muda, daun melinjo, kacang panjang, kacang tanah, buah melinjo dan pliek u. Selain itu ada juga yang menambahkan beberapa bahan seperti rebung, daun papaya, daun singkong, udang kecildan lain-lain. Sedangkan untuk bumbu yang digunakan biasanya terdiri dari ketumbar, cabe,bawang merah, bawang putih, dan bumbu rempah lainnya.

Dalam proses pengolahannya, bumbu tersebut dihaluskan terlebih dahulu. Sedangkan bahan yang bertekstur keras seperti buah melinjo dan kacang tanah harus direbus terlebih dahulu hingga empuk. Setelah semuanya siap, bumbu serta sayuran dicampur dan diaduk-aduk hingga merata. Kemudian bahan yang sudah dicampur dengan bumbu tadi dimasukan ke dalam belangga (wajan), lalu diberi air santan dan direbus hingga matang.Kuah Pliek U ini biasanya disajikan bersama dengan nasi hangat. Untuk menu tambahan biasanya juga disantap bersama dengan ikan asin.

Cita Rasa Kuah Pliek U

Kuah Pliek U ini memiliki cita rasa yang khas. Kuahnya yang gurih dipadukan aneka sayuran yang segar membuat makanan satu ini semakin terasa nikmat. Selain itu aromanya yang sedap tentu sangat menggugah selera dan membuat kita ingin tambah.

Kuliner Kuah Pliek U

Kuah Pliek U merupakan salah satu makanan tradisional yang cukup terkenal di Aceh, terutama di daerah pesisir timur Aceh. Makanan ini tidak hanya menjadi makanan sehari-hari masyarakat di sana, namun juga sering disajikan pada acara-acara tertentu. Selain itu banyak juga warung makan atau restoran yang menyediakan menu Kuah Pliek U ini, sehingga bagi anda yang berkunjung atau berwisata ke sana bisa dengan mudah menemukannya.

Sekian pengenalan tentang “Kuah Pliek U Makanan Tradisional Dari Aceh”. Semoga bermanfaat dan menambah pengetahuan anda tentang kuliner tradisional di Indonesia.

YUK CINTAI DAN LESTARIKAN KULINER TRADISIONAL DI INDONESIA !

Sumber : http://www.negerikuindonesia.com/2015/11/kuah-pliek-u-makanan-tradisional-dari.html

 

MENIKMATI NIKMATNYA MIE ACEH

Aceh memang memiliki banyak hal yang menarik. Selain budayanya yang kental dengan nuansa yang Islamic, Aceh juga memiliki kuliner yang patut untuk di coba. Salah satu kuliner yang terkenal adalah Mie Aceh.

Apakah Mie Aceh itu? Yuk kita cari tahu di sini !

Mie Aceh adalah masakan mie pedas dengan irisan daging sapi, daging kambing atau makanan laut seperti udang dan cumi. Pada dasarnya Mie Aceh biasa di sajikan dalan sup kari yang gurih dan pedas. Nama Mie Aceh di ambil dari daerah asalnya yaitu Aceh, karena cita rasanya yang khas berbeda dengan masakan mie yang ada di Indonesia.

Dalam proses pembuatannya, Mie Aceh menggunakan mie yang khas dengan bentuk yang tebal dan pipih. Tidak seperti mie yang lainnya, warna Mie Aceh cenderung berwarna kuning cerah, sehingga menambah keindahan pada hidangan tersebut. Bumbu yang di gunakan adalah bumbu semacam kari yang merupakan bumbu khas yang memberikan cita rasa khas pula dalam sajian kuliner satu ini.

Dalam penyajiannya, Mie Aceh di sajikan dalam tiga macam yaitu mie goreng ( kering ), mie kuah dan mie goreng basah. Untuk daging yang di gunakan bisa di sesuaikan dengan selera kita, karena tidak mengurangi cita rasa dan kelezatan mie tersebut. Menu pelengkap dalam penyajian Mie Aceh biasanya bisa ditambahkan bawang goreng, kerupuk, mentimun, dan juga jeruk nipis.

Yang menjadi keunikan dalam masakan ini adalah bahan tambahan yang digunakan yaitu daging sapi, daging kambing atau masakan laut. Pada umumnya masakan mie yang ada Indonesia banyak menggunakan daging ayam sebagai bahan tambahan dalam penyajian mie nya. Selain itu kuah yang di gunakan adalah kuah sejenis kari yang kental dan gurih. Pada umumnya masakan mie di Indonesia cenderung menggunakan kuah yang bening dan lembut. Keunikan tersebut memberikan cita rasa yang khas yang ada di di dalamnya.

Dalam perkembangannya, Mie Aceh telah menjadi salah satu kuliner yang sangat populer. Sehingga masakan satu ini dapat kita temukan di warung – warung pinggir jalan yang ada di Aceh. Kuliner satu ini sangat di rekomendasikan apa bila anda berkunjung ke Aceh. Banyak yang mengatakan, kurang lengkap rasanya bila berkunjung ke Aceh tanpa mencicipi masakan khas satu ini.

Nah, cukup sekian pengenalan tentang Kuliner  Tradisional Mie Aceh. Semoga dapat bermanfaat dan menambah referensi anda tentang kuliner khas di Indonesia.

CINTAI DAN LESTARIKAN CITA RASA KULINER KHAS INDONESIA!

Sumber : http://www.negerikuindonesia.com/2015/03/mie-aceh-kuliner-khas-aceh.html

PULAU REUSAM, ACEH JAYA

Pulau Reusam merupakan sebuah pulau kecil nan indah di seberang pesisir Pantai Barat Aceh. Pulau ini memiliki pantai dengan pasir putih yang bersih dan birunya laut yang jernih. Selain itu, Pulau Reusam juga memiliki keindahan bawah laut yang siapun tak akan menyangka keindahannya dan lokasi ini bahkan digadang-gadang akan menjadi tujuan wisata bahari alternatif di Aceh setelah Pulau Sabang. Selain pantai dengan pasir putih, sebagian lainnya dari Pulau Reusam dikelilingi oleh bukit bebatuan. Bebatuan ini menampilkan keindahan tersendiri untuk melengkap ikeindahan lainnya yang dimiliki oleh pulau ini. Susunan karang-karang  yang indah pada sisi lain pulau ini juga makin menambah daya tarik untuk tak melewatkan Pulau Reusam sebagai salah satu destinasi wisata akhir pekan

Secara administratif, Pulau Reusam masuk dalam Kabupaten Aceh Jaya, Provinsi Aceh. Jika Anda ingin mengunjungi pulau ini, Anda dapat menumpang kapal nelayan yang berangkat dari Tempat Pelelangan Ikan (TPI). Jika anda membawa kendaraan, anda dapat memarkirkannya di dalam area TPI. Tempat Pelelangan Ikan berada di kawasan rest area Rigaih Kabupaten Aceh Jaya. Waktu yang dibutuhkan untuk menyeberang ke Pulau Reusam dengan kapal nelayan hanya sekitar 15 menit. Jika anda melakukan perjalanan dari Kota Banda Aceh, memakan waktu kurang lebih 2,5 jam perjalanan darat untuk mencapai rest area ini, baru kemudian melanjutkan perjalanan menggunakan kapal nelayan.

Berwisata ke Pulau Reusam masih terhitung sangat murah, saat terakhir Rahjaroe mengunjungi pulau ini, biaya yang dikeluarkan hanya sekitar 30 ribu rupiah per orang dan dibayarkan kepada pemilik kapal. Biaya tersebut sudah termasuk biaya antar jemput. Fasilitas yang ada di Pulau Reusam memang masih belum memadai untuk dijadikan sebagai tempat wisata. Hanya terdapat satu sumur yang disekat dan digunakan sebagai tempat membilas setelah berenang di laut, dan juga satu buah gazebo yang digunakan sebagai mushalla. Namun seiring waktu, Pemerintah Daerah Kabupaten Aceh Jaya berniat untuk mengembangkan potensi wisata yang ada di Pulau Reusam. Hal tersebut terbukti dengan telah dibukanya penyeberangan 24 jam dari dan ke Pulau Reusam. Hal ini memungkinkan wisatawan apabila hendak bermalam dengan berkemah di Pulau Reusam. Perlahan fasilitas penunjang sebagai tempat wisata akan terus dibangun demi meningkatkan kunjungan wisatawan ke Pulau Reusam.

Bagaimana, apakah sahabat Aceh explore tertarik untuk mengunjungi Pulau Reusam? Hal terpenting yang harus diingat ketika berwisata ke alam terbuka adalah nikmatilah keindahan alam tanpa merusak kelestariannya. Salah satunya adalah dengan tidak membuang sampah sembarangan, karena itu gak asik!

Mari piknik biar asik!

Sumber : http://rejelingge.blogspot.co.id/2016/01/pulau-reusam.html

SISI LAIN KEINDAHAN PULAU BUNTA ACEH BESAR

BANYAK sekali pilihan berwisata bila Anda pergi ke Aceh, lebih tepatnya di Kabupaten Aceh Besar. Pilihan wisata alam di Aceh Besar sangat beragam, Anda bisa melihat monyet yang bergantungan di pohon di Pemandian Air Mata Ie, menikmati keindahan Pantai Lampuuk atau Anda bisa memancing ikan di Lhok Mata Ie.

Bila Anda bosan berwisata di darat melulu, Anda bisa datang ke Pulau Bunta yang berada di Kecamatan Pekan Bada, Aceh Besar. Bunta begitulah orang menyebutnya, kalau dilihat Google Maps pulau ini mirip seperti unta yang merayap.

Untuk mencapai ke pulau ini memakan waktu sekitar 40 menit dari Desa Lamteungoh Peukan Bada. Transportasinya pun menggunakan boat nelayan penangkap ikan berukuran panjangnya 7 x 1,5 meter. Berangkat naik boat pada sore harinya, kita bisa menikmati sunset berpendaran di Samudera Hindia.

Panorama laut disertai ombak bergelora memecah butiran pasir di sepanjang pantai. Pasir putih bercampur butiran coral berwarna merah, air lautnya sangat jernih, matahari menyinari laut menambah keindahan gradasi warna laut. Sebelah timur akan terlihat Pulau Batee dan ketika malam harinya kita bisa melihat lampu berkelip-kelip dari perumahan Tiongkok, hibah dari Jacky Chan ketika tsunami 2004 silam. Masyarakat yang menetap di desa Pulo Bunta ini tidak lebih dari 10 jiwa untuk sekarang ini, bermata pencaharian sebagai nelayan dan berkebun.

Ekosistem hutan pulau Bunta keadaannya masih sangat alami belum terjamah manusia dan juga unik. Terlihat ada banyak pohon kelapa yang tumbuh di lereng-lereng bukit dari pada pepohonan yang biasa di hutan, banyak hewan ternak seperti lembu. Tapi jarang terlihat adanya tupai, monyet, anjing dan nyamuk. Namun, pasca tsunami ada babi hutan yang muncul, padahal sebelumnya di pulau itu penduduk belum pernah melihat babi.

Sebelah barat ujung pulau ada jalan setapak, menuju lampu mercusuar jaraknya sekitar 2 kilometer. Dari puncak menara lampu suar setinggi 35 meter ini, kita akan menikmati suguhan dari maha karya pencipta semesta alam, gradasi warna laut, samudera Hindia, hamparan rumput, batu karang, Pulau Nasi, Pulau Breueh dan tampak dari jauh dermaga pantai Lhoknga seberang pulau.

Pulau ini sangat sesuai untuk ecotourism (ekowisata), dimana kita berwisata tetap menjaga kelestarian lingkungan dan meningkatkan kesejahteraan penduduk setempat. Seperti yang dilakukan oleh tim Aceh Adventure beberapa waktu lalu. Tertarik menikmati keindahan Pulau Bunta? jangan lewatkan sebagai destinasi untuk mengisi waktu libur Anda di Aceh Besar.

Sumber : http://abulyatama.ac.id/?p=6413

 

 

PULO ACEH, DESTINASI DI ACEH YANG CANTIK BANGET

Aceh Besar – Ada satu destinasi baru yang patut dilirik wisatawan yang ingin melancong ke Aceh. Namanya Pulo Aceh, letaknya di Kabupaten Aceh Besar. Masalah keindahan alam, tak kalah deh!

Saat melancong ke Aceh, biasanya wisatawan langsung menuju Banda Aceh atau Sabang. Kini bisa menambah daftar itinerary karena baru diperkenalkan Pulo Aceh di Kabupaten Aceh Besar.

Badan Pengembangan Kawasan Sabang (BPKS) memperkenalkan destinasi kepada 23 jurnalis dari media nasional dan lokal. Diharapkan dengan acara ini, traveler dari dalam dan luar negeri bisa mengetahui potensi wisata yang baru ini.

Ketua Pelaksana even Explore Destinasi Pulo Aceh, Ir Fauzi Daud mengatakan, Kecamatan Pulo Aceh menyimpan keindahan bawah laut dan terumbu karang yang masih bagus. Sehingga, destinasi ini cocok dikembangkan sebagai kawasan wisata diving bagi para diver dari dalam maupun luar negeri.

“Titik spot diving di kawasan Pulo Aceh terbilang banyak. Namun belum didata secara detil titik-titik yang berpotensi untuk dijadikan daya tarik wisata di kawasan pulau terdepan Indonesia,” kata Fauzi Daud.

Pulo Aceh adalah sebuah nama kecamatan di Kabupaten Aceh Besar, Provinsi Aceh. Merupakan daerah kepulauan yang di kawasan ini terdapat dua pulo besar (pulo dalam bahasa Indonesia diartikan pulau) yaitu Pulo Nasi dan Pulo Breuh (breuh artinya dalam bahasa Indonesia beras). Selain itu Kecamatan Pulo Aceh terdapat tiga kemukiman (mukim) dan 17 gampong (desa).

Tiga kemukiman tersebut yaitu Mukim Pulo Breuh Utara, Mukim Pulo Breuh Selatan, dan Mukim Pulo Nasi. Penduduk Kecamatan Pulo Aceh yaitu berjumlah 4.385 jiwa atau sekitar 1.344 Kepala Keluarga (KK), dengan mata pencarian sebagai nelayan dan petani.

Pulau yang termasuk ke dalam salah satu kawasan Sabang ini memiliki banyak potensi pariwisata, khususnya pariwisata bahari, wisata sejarah, dan wisata Alam. Adapun beberapa potensi wisata bahari yang terdapat di Pulo Aceh antara lain Pantai Nipah, Pantai Deumit, Pantai Deudap, Pantai Alue Reuyeng, Pantai Pasi Raya, Pantai Meulingge, Pantai Balu, Pantai Alue Raya, Pantai Pasi Lambaro, Pantai Pasi Raya, Pantai Mata-ie, Pantai Krisek, Pantai Lapeng, dan beberapa teluk yang sangat indah.

Kepala BPKS, Ir Fauzi Husein, pada kesempatan itu mengatakan, momen ini dijadikan sebagai momentum menghidupkan kawasan tujuan wisata untuk meningkatkan kegiatan perekonomian masyarakat setempat. Untuk pengembangan wisata maka perlu dibangun sarana dan prasarana agar menjadi sebuah tempat wisata yang menarik.

Bupati Aceh Besar dalam pidatonya menyampaikan terimakasih kepada BPKS yang telah membantu mengembangkan kawasan Pulo Aceh sehingga mudah untuk dikunjungi. Pulo Aceh tidak hanya memiliki keindahan alam saja, tetapi juga wisata sejarah, dan religi, sebut Bupati.

Mukhlis Basyah menambahkan, untuk potensi wisata sejarah, kawasan ini juga memiliki histori yang tidak kalah penting dengan daerah lain. Di ataranya, di sini terdapat mercusuar peningalan Belanda yaitu Mercusuar William Toren. Mercusuar ini berusia sekitar 139 tahun dengan ketinggian sekira 85 meter yang terdapat di Pulo Breuh. Juga, ada Makam Raja Kandang yang terdapat di Pulo Nasi.

Letak Pulo Aceh yang sangat strategis dan tidak jauh di tempuh dari Kota Banda Aceh yang merupakan Ibukota Provinsi Aceh, membuat pulau ini sangat berpotensi untuk dikembangkan sebagai salah satu daerah kunjugan wisata dibawah Badan Pengembangan Kawasan Sabang (BPKS). Kecamatan Pulo Aceh nantinya diwancanakan akan menjadi potensi unggulan baru bagi kemajuan pariwisata di kawasan BPKS.

Untuk mempromosikan potensi wisata Pulo Aceh, maka perlu diadakan even untuk meng-eksplor keindahan alam dan potensi pariwisata, sehingga melalui even yang dilaksanakan di kawasan ini, maka dengan sendirinya Pulo Aceh akan dikenal sebagai salah satu titik destinasi baru bagi wisatawan asing maupun nusantara yang datang ke kawasan Sabang.

Dalam rangka memperkenalkan dan mempromosikan berbagai potensi wisata yang ada di Kecamatan Pulo Aceh, maka dilaksanakan sebuah even yang diberi tema “Explore Destinasi Pulo Aceh”. Even ini akan mendatangkan beberapa komunitas pelaku wisata dengan beberapa agenda kegiatan yaitu: Media Field trip, Fundive, Jet Ski Attraction, dan Malam Seni Budaya Pulo Aceh.

Mengangkat dan mempromosikan berbagai potensi di kawasan Pulo Aceh, baik potensi wisata, ekonomi, dan seni budaya, dengan harapan akan menari investasi di kawasan Pulo Aceh. Sehingga kegiatan ini mempercepat pembangunan dan pengembangan kawasan Sabang yang dikelola secara terpadu oleh BPKS.

Sumber : https://travel.detik.com/travel-news/d-3071563/pulo-aceh-destinasi-baru-di-aceh-yang-cantik-banget

DESTINASI WISATA AIR TERJUN SUHOM

  1. Selayang Pandang

Lokasi wisata alam Air Terjun Suhom, saat ini terutama pada  setiap hari libur selalu ramai dipadati pengunjung yang berekreasi, baik warga  lokal maupun wisatawan asing. Berbeda halnya ketika kondisi Aceh masih terjadi  konflik, sedikit sekali orang yang berkunjung ke sana. Pengunjung yang berasal  dari luar kota atau turis mancanegara yang ingin mengetahui lebih mendalam tentang seluk beluk Air Terjun Suhom, di tempat ini terdapat pemandu wisata yang  berasal dari warga lokal.

  1. Keistimewaan

Posisi air terjun ini berada di tengah panorama alam yang  indah dan alami. Di sekitarnya terdapat banyak pohon durian, sehingga pada  musim durian banyak yang berjualan durian di sekitar air terjun. Di samping  itu, di sekitar air terjun juga terdapat lokasi yang dapat digunakan untuk  berkemah (camping).

Air terjun yang deras ini menjadi sumber energi listrik  bagi masyarakat di sekitar Desa Kreung Kala. Sebuah pembangkit listrik tenaga mikrohidro kini telah dibangun di dekat air terjun dan dioperasikan untuk mengaliri listrik kepada 200 KK (Kepala Keluarga) penduduk Desa Kreung Kala.

Sepanjang perjalanan dari Banda Aceh menuju ke lokasi air terjun, terhampar pemandangan yang menakjubkan dengan keindahan yang luar biasa,  deburan ombak  dan pasir putih terlihat  dekat di sepanjang jalan, dan tampak pula barisan pegunungan yang tinggi dan  indah.

  1. Lokasi

Air terjun ini terletak di Desa Suhom dan Desa Kreung  Kala, Kecamatan Lhoong, Kabupaten Aceh Besar, Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam, Indonesia.

  1. Akses Menuju Lokasi

Untuk mencapai Air Terjun Suhom dari Banda Aceh, memerlukan waktu kurang lebih satu jam dengan menggunakan angkutan. Perjalanan ke sana  melalui rute Banda Aceh – Calang (Aceh Jaya), melewati Pantai Lampuuk, Pantai  Lhoknga dan Kecamatan Leupung.

  1. Harga Tiket Menuju Lokasi

Masih dalam proses pengumpulan data.

  1. Akomodasi

Tidak tersedia tempat penginapan di sekitar lokasi

Sumber : https://wisatasumatera.wordpress.com/wisata-nanggroe-aceh-darussalam/air-terjun-suhom/

SEMARAK 1 MUHARRAM, PELAJAR BANDA ACEH PAWAI JALAN KAKI

Banda Aceh – Pelajar di Banda Aceh mengikuti pawai dengan berjalan kaki mengitari jalan protokol untuk menyemarakkan tahun baru Islam 1 Muharam 1439 H. Peserta pawai dilepas Wali Kota Banda Aceh Aminullah Usman di Lapangan Blang Padang.

Pantauan detikcom, peserta pawai dibagi berdasarkan sekolah dan usia. Anak Paud dan Taman Kanak-kanak berjalan paling depan dan rute yang ditempuh tak terlalu jauh. Setelah itu, disusul pelajar Sekolah Dasar (SD), Sekolah Menengah Pertama (SMP) sederajat, dan Sekolah Menengah Atas (SMA) sederajat.

Para peserta pawai terlihat antusias berjalan kaki di bawah terik mentari. Mereka membawa berbagai alat peraga dan mengumandangkan syair-syair Islam serta salawat. Masyarakat ikut menyaksikan dengan berdiri di pinggir-pinggir jalan.

Untuk rutenya, siswa tingkat Paud dan TK berjalan mulai dari Lapangan Blang Padang melintasi Pendopo Gubernur Aceh dan berakhir di Museum Aceh.

Wali Kota Aminullah ikut berjalan kaki bersama peserta pawai hingga ke Meuligoe gubernur Aceh.

Sedangkan tingkat SD,SMP dan SMA jalan kaki dari lapangan Blang Padang melintasi Pendopo Gubernur Aceh, Masjid Raya Baiturrahman, kemudian ke Arah Jambo Tape dan jalan Pocut Baren. Rute selanjutnya yaitu Simpang 5 dan berakhir di Lapangan Blang Padang.

“Pawai dalam rangka memperingati tahun baru Islam ini merupakan salah satu bentuk manifestasi atas kesungguhan kita mengagungkan kebesaran islam, karena Islam adalah pedoman kehidupan (way of life),” kata Aminullah dalam sambutannya, Kamis (21/9/2017).

“Kami berharap pelaksanaan pawai ini, dapat mendorong semangat hijrah umat Islam, menuju perubahan dan kemajuan di Aceh umumnya dan khususnya Kota Banda Aceh,” jelasnya.

Aminullah mengajak masyarakat Kota Banda Aceh untuk menyambut tahun baru Islam dan mengisinya dengan hal-hal positif. Ia juga mengajak masyarakat untuk merenung kembali catatan-catatan amal selama setahun belakangan.

“Mari kita isi lembaran-lembaran kertas putih dengan tinta emas demi kesuksesan dimasa mendatang. Dan marilah kita tengok ke belakang sejenak dalam lembaran-lembaran yang penuh dengan catatan-catatan, jadikanlah hal itu pengalaman dan bahan instropeksi, yang baik dapat kita ambil dan mana yang buruk kita buang atau singkirkan,” ungkap Amin

Sumber : https://news.detik.com/berita/d-3652698/semarak-1-muharam-pelajar-di-banda-aceh-pawai-jalan-kaki

AIR TERJUN PRIA LAOT, KESEJUKAN DI TENGAH KOTA SABANG

sabang memang tidak ada habisnya. Pulau yang letaknya di ujung Indonesia ini selalu punya kejutan. Keindahan pantainya, keramahan masyarakatnya, belum lagi keragaman ekosistem bawah laut yang begitu menggoda para penyelam. Maka wajar saja, kalau Sabang menjadi salah satu destinasi unggulan provinsiAceh.

Saya pikir, Sabang adalah objek wisata yang lengkap. Karena di tempat ini kita bisa menikmati beragam pesona wisata. Baik itu wisata sejarah maupun pesona alamnya. Semua itu memberikan kesan tersendiri saat kita berada di Sabang.

Di sisi lain, alam sabang juga sangat menarik di eksplor. Karena Topografi Sabang berbukit dan masih diselimuti hutan yang lebat. Dengan bentuk alam yang demikian, maka Sabang menyajikan banyak kejutan. Tidak hanya unggul dengan keindahan lautnya, Sabang juga memiliki Gunung Berapi Aktif yaitu Gunung Api Jaboi dan air terjun yang cukup menawan yaitu Air Terjun Pria Laot adalah salah satunya.

Nah, khusus air terjun yang satu ini, bisa menjadi pilihan destinasi kita jika berkunjung di Sabang. Air Terjun Pria Laot lokasinya berada di arah selatan Kota Sabang. Jaraknya 12 Km dari pusat kota atau tepatnya di Hulu Selatan Pulau Weh. Lebih mudahnya, jalannya searah jika kita hendak menuju tugu KM 0. Jalan menuju tempat ini juga sangat menyenangkan, karena sepanjang perjalanan tersaji pemandangan yang menenangkan dan udara yang sejuk.

Untuk menuju Air Terjun Pria Laot kita bisa menggunakan motor atau mobil. Meskipun jalan ke lokasi air terjun di Sabang ini tak besar, tapi jalannya telah beraspal mulus. Setelah kita tiba di Meunasah Pria Laot, selanjutnya adalah belok ke kiri. Di sini, kita bisa memarkirkan kendaraan di sekitar jembatan atau di depan perusahaan air minum.

Perjalanan belum usai. Karena selanjutnya, kita harus berjalan kaki sekitar 1 km atau sekitar 20 menit melintasi jalanan setapak. Hm… lumayan. Jalanan setapak ini memang melelahkan tapi sepanjang perjalanan kita akan disuguhi suasana alam yang sejuk. Suara kicau burung menjadi hiburan sendiri selama berjalan kaki menuju air terjun Pria Laot ini.

Semakin dekat ke lokasi air terjun di Sabang ini, kita sudah bisa mendengarkan suara deru air terjun Pria Laot. Lalu saat kita menyaksikan sendiri, sumber suara tersebut maka segala keletihan kita selama berjalan kaki akan terbayar lunas. Karena di hadapan kita, tersajilah Air Terjun Pria Laot yang mempesona.

Ketinggian Air Terjun Pria Laot sekitar 10 meter, meskipun tak terlalu tinggi. Tapi curahan air terjun di Sabang ini tertampung pada sebuah kolam sedalam 1 – 2 meter. Airnya yang sejuk, cukup mengobati kepenatan kita selama perjalanan.

Sumber air terjun Pria Laot ini berasal dari Gunung Sarung Keris dan Danau Anak Laot. Air tersebut mengalir di sepanjang aliran sungai Pria Laot, hingga akhirnya bermuara di air terjun ini. Air tersebut kemudian mengalir deras di antara batu-batu besar berwarna hitam. Bentuk  batuknya yang unik, menjadikan tempat ini begitu eksotis. Maka wajar saja, air terjun Pria Laot menyajikan air yang begitu segar dan pemandangan yang menawan. Sebuah kombinasi yang sempurna untuk kita yang ingin menenangkan diri.

Cobalah berenang ke dalam genangan air terjun Pria Laot ini. Semakin lama kita berendam, kita serasa mendapatkan terapi. Pasalnya, di dalam air terdapat ikan-ikan kecil yang serasa menggelitik tubuh kita. Ikan kecil ini sejatinya bernama Garra Rufa, tapi masyarakat setempat menyebutnya ikan bulan.

Selain itu, terkadang kita juga bisa menyaksikan aktraksi anak-anak penduduk setempat melakukan lompat salto di air terjun Pria Laot ini. Para pengunjung juga bisa menguji ketangkasan mereka dengan melempar koin ke dalam air, lalu dalam hitungan menit. Anak-anak akan menyelam dan menemukan kembali koin yang kita lempar.

Air terjun Pria Laot ini sebenarnya masih jarang dikunjungi orang. Mungkin karena akses perjalanannya yang menantang. Tapi bagi  pengunjung yang menyukai tantangan, jalan seperti inilah yang paling mereka minati. Maka air terjun Pria Laot bisa menjadi alternatif, jika kita ingin mengeksplore Sabang dengan cara yang berbeda.

Ya, begitulah. Sabang memang tidak ada matinya. Tempat ini selalu saja penuh kejutan.

Sumber : http://helloacehku.com/air-terjun-pria-laot-kesejukan-di-tengah-hutan-sabang/

IE SUUM, PEMANDIAN AIR PANAS DI KRUENG RAYA ACEH BESAR

Keindahan alam Aceh Besar tidak perlu diragukan lagi. Kabupaten yang terletak di Provinsi Aceh ini memiliki beragam tempat wisata yang menawarkan pesona yang menawan. Entah itu panorama baharinya yang memiliki pantai dengan pasir putih dan lautan biru, atau keelokan alam pegunungannya yang sangat menyejukkan mata.

Berbicara tentang wisata alam yang terdapat di Aceh Besar, maka Ie Suum, bisa menjadi pilihan Anda jika ingin bertandang ke daerah yang berbatasan langsung dengan Banda Aceh. Ie Suum adalah istilah dalam bahasa yang berarti air panas. Karena di kawasan Krueng Raya tersebut terdapat sumber air panas, maka daerahnya pun dinamakan dengan Desa Ie Suum.

Air panas yang terdapat di Desa Ie Suum ini berasal dari gunung vulkanis Seulawah. Dari lereng gunung tersebut mengalir sungai yang airnya panas, sehingga dijadikan sebagai tempat wisata oleh masyarakat setempat. Dari aliran sungai tersebut dibangun tempat pemandian dan sauna, yang bisa dimanfaatkan oleh pengunjung yang berasal dari mana saja

Sumber : http://www.viva.co.id/blog/entertainment/834249-ie-suum-pemandian-air-panas-di-krueng-raya-aceh-besar

PANTAI WISATA SUMUR TIGA SABANG

Objek wisata pantai Sumur Tiga merupakan pantai indah yang terletak di gampong Ie Meulee, Pulau Weh. Pantai yang berpasir putih ini dikenal dengan panorama alam yang begitu mempesona. Sebagai pantai yang ramai dikunjungi oleh wisatawan lokal dan mancanegara, pantai sumur tiga dilengkapi fasilitas pendukung  seperti diving dan snorkling, sehingga tak heran bila pantai ini banyak diminati oleh wisatawan lokal maupun wisatawan untuk memanjakan diri di pantai ini.

Pantai Sumur Tiga berlokasi di pantai timur Pulau Weh atau sekira 15 menit dari Kota Sabang, tepatnya di Kecamatan Ie Meule, Sukajaya, Sabang, Pulau Weh, Provinsi Aceh. Konon kaatnya, asal muasal nama Pantai Sumur Tiga ini dikarenakan memiliki tiga sumur air tawar disana. Sehingga oleh sebab iu tempat itu dinamai dengan nama Pantai Sumur Tiga. Pantai Sumur Tiga memiliki karakteristik yang berbeda dengan Pantai Iboih atau pun Pantai Gapang. Pasir di Pantai Sumur Tiga lebih putih berkilau bak kristal dan lembut meskipun airnya sedikit berombak. Panorama pantainya membentangkan laut biru dipadu angin sepoi yang menggerakkan nyiur di pinggir pantai.

Selain itu, Pantai yang jernih dengan air laut berwarna biru kehijauan adalah pemandangan yang sangat menenangkan jiwa. Pohon kelapa yang dihembuskan oleh angin laut pastinya akan membuai Anda saat rebahan di pasir pantai atau duduk di rerumputan dan bawah pohon kelapa. Sementara itu, dilokasi pantai ini juga terdapat situs sejarah peninggalan masa Jepang. Yaitu, banyaknya benteng sisa Pendudukan Jepang meski kurang terawat, namun benteng tersebut masih bisa kita temukan di wilayah pantai Sumur Tiga tersebut. Pantai Sumur Tiga bisa dikatakan sebagai surga untuk Anda yang suka melakukan aktivitas diving dan snorkling dan berselancar angin.

Sumber : http://disbudpar.acehprov.go.id/pantai-sumur-tiga/

10 MAKANAN KHAS ACEH YANG SANGAT TERKENAL

Pergi berwisata ke Aceh tak lengkap bila belum mencicipi kuliner dan makanan khas daerah Aceh. Berikut 10 makanan khas Aceh yang patut Anda cicipi.

  1. Manisan pala

Manisan pala merupakan salah satu jenis makanan khas aceh, dan juga merupakan makanan ringan yang tergolong dalam kelompok manisan buah-buahan. Usaha pembuatan manisan pala tidak memerlukan teknologi yang sulit dan pembuatannya cukup mudah, oleh karena itu usaha ini mudah dilakukan oleh para pengusaha baru.

Pembuatan manisan pala umumnya dilakukan oleh pengusaha kecil di daerah penghasil pala. Kabupaten Aceh Selatan adalah kabupaten penghasil komoditi pala terbesar di Aceh bahkan di Pulau Sumatera. Manisan buah pala ini termasuk industri rumah tangga yang banyak dijumpai di Kabupaten Aceh Selatan. Selain diolah menjadi manisan dan sirup, pala dapat dibuat juga menjadi minyak pala yang berkhasiat tinggi untuk mengobati luka. Bahkan kini kue dan kembang gula pun dapat dibuat dari buah pala.

Manisan pala selain menjadi makanan ringan yang disajikan pada saat perayaan hari-hari besar lebaran dan tahun baru bagi masyarakat setempat juga dapat dijadikan buah tangan bagi wisatawan yang berkunjung ke daerah ini.

  1. Sanger

Sanger adalah sejenis minuman yang hanya ada di Aceh. Sanger atau juga sering di sebut kopi sanger ini secara umum mirip dengan capucino, tapi menurut saya jauh lebih nikmat kopi sanger ini. Selain itu jika kita melihat sekilas maka sanger ini akan sangatlah tampak seperti kopi susu biasa, tetapi jika kita menilik dari rasanya, kopi sanger ini memiliki rasa yang sangat khas dan berbeda dari rasa kopi lainnya.

Memang dari dahulu Aceh ini terkenal dengan khas kopi saring/tarik-nya. Bagi para pecinta kopi sejati pasti akan segera dapat merasakan bedanya, apabila sudah merasakan kopi Aceh. Warung yang paling terkenal dalam menyajikan jenis minuman ini adalah warung solong di kawasan Ulee Kareng dan Chek Yuke di kawasan Mesjid Raya Baiturrahman, Banda Aceh. Selain itu, hampir di setiap ruas jalan di Banda Aceh pasti akan banyak kita temui warung-warung kopi, tempat nongkrong dari segala usia.

  1. Pisang Sale

Pisang adalah tanaman hortikultura yang cukup penting untuk kesehatan. Pisang yang sudah matang dapat diolah berbagai macam makanan salah satunya adalah disale alias pisang sale, pisang sale sudah lama dikenal sebagai makanan tradisional daerah, salah satunya pisang sale khas Aceh banyak dikawasan Kabupaten Aceh Timur yang merupakan sentra pisang sale untuk daerah Aceh.

Pisang sale khas Aceh, proses pembuatannya adalah pisang yang sudah matang di kupas kulitnya lalu dijemur dipanas matahari , setelah itu dilakukan penyaleaan/pengasapan sehingga pisang sale lebih tahan lama, seterusnya dioleskan/dilumuri gula tebu (bukan gula pasir),pisang sale mempunyai aroma dan rasa yang khas. Warnanya kecoklat-coklatan, agak berkilat sedikit membuat kita ingin mencicipinya.

Pisang sale merupakan makanan ringan masyarakat Aceh sejak zaman indatu dulu, yang sudah menjadi buah tangan dari Aceh. Pisang sale bisa langsung dimakan atau digoreng dengan tepung terlebih dahulu.

  1. Kembang loyang

Kembang loyang ini terbuat dari tepung roti yang di campur dengan gula dan telur serta pati santan. Adonan ini diaduk hingga rata lalu cetakan kembang loyang dicelupkan ke dalam adonan kemudian digoreng ke dalam penggorengan.

Kue ini sering kita jumpai disaat ada acara hajatan, tidak ketinggalan juga dipelosok-pelosok desa di Aceh kue sangat setia untuk menemani pada hari-hari besar agama, seperti waktu lebaran, serta cocok dinikmati pada waktu-waktu santai bersama keluarga.

  1. Lepat

Lepat, makanan ini di buat dari tepung ketan yang diisi dengan gula merah hingga kalis, kemudian di bungkus dengan menggunakan daun pisang dan di bagian tengahnya di beri kelapa parut yang telah di gongseng dengan gula yang di namakan inti lalu di kukus hingga matang. Lepat khusus di sajikan pada hari-hari tertentu pada masyarakat Gayo terutama menjelang puasa (megang) dan lebaran, makanan ini tahan lama jika di asapi dapat bertahan sampai 2 minggu.

  1. Rujak Aceh Samalanga

Rujak Aceh Samalanga, disebut demikian karena rujak Aceh tentunya banyak ditemukan di Aceh sampai dipelosok-pelosok desa. Samalanga merupakan salah satu kecataman yang terdapat di kabupaten Bireuen.

Keunikan rujak Aceh pada umumnya memiliki keistimewaannya yang terletak pada cita rasanya yang asam, manis dan pedas. Bahan-bahan yang digunakan memang relatif sama seperti pembuatan rujak pada umumnya, yang terdiri dari buah mangga, pepaya, kedondong, bengkuang, jambu air, nenas, dan timun, namun bumbu-bumbu yang digunakan, memiliki ciri khas tersendiri seperti garam, cabe rawet, asam jawa, gula aren (merah) yang cair, kacang tanah dan pisang monyet (pisang batu) atau rumbia (salak Aceh).

Yang menarik dari rujak Aceh Samalanga ini, di atas tempat ulekan yang besar terbuat dari batu itu bisa menampung untuk 50 porsi rujak, ada juga ulekan yang digunakan biasanya yang terbuat dari kayu jati. Cara penyajiannya rujak biasanya memang ddilakukan dengan dua cara, yaitu pertama ditaruh di dalam piring dan yang kedua ditaruh di atas daun pisang. Pembeli yang makan di warung, biasanya disediakan di dalam piring, sedangkan yang akan dibawa pulang, biasanya dibungkus dengan daun pisang yang tentu menjadi ciri khas tersendiri.

  1. Keumamah

Keumamah atau sering disebut dengan Ikan kayu merupakan makanan tradisional Aceh dan makanan khas Aceh yang paling banyak diminati oleh masyarakat Aceh. Selain memiliki rasa yang lezat dan unik, ikan ini terbuat dari ikan tuna yang telah direbus, kemudian dikeringkan dan diiris-iris kecil.

Biasa dimasak dengan menggunakan santan kelapa, kentang, cabai hijau dan rempah lainnya. Ikan kayu ini tahan lama untuk dibawa perjalanan jauh, sehingga dapat dijadikan bekal dalam perjalanan. Selama perang Aceh melawan Belanda di hutan, jenis makanan ini sangat terkenal karena sangat mudah dibawa dan dimasak. Nama lainnya adalah katshiobushi.

 

  1. Kue Bhoi

Kue Bhoi adalah maknan khas Aceh Besar yang dikenal luas oleh masyarakat Aceh. Bentuk kue ini sangat bervariasi, seperti : bentuk ikan, bintang, bunga, dan lain-lain. Kue Bhoi ini dapat menjadikan salah satu buah tangan ketika akan berkunjung ke sanak saudara atau tetangga yang mengadakan hajatan atau pesta, seperti sunatan dan kelahiran.

Kue Bhoi ini mempunyai harga yang sangat relatif murah, satu kemasan berkisar dengan harga Rp. 5.000,- ,10.000,- bahkan ada yang ratusan ribu.

Kue Bhoi juga dijadikan sebagai salah satu isi dari bingkisan seserahan yang dibawa oleh calon pengantin pria untuk calon pengantin perempuan pada saat acara pernikahan.

Kue Bhoi sendiri biasanya diperoleh di pasar-pasar tradisional ataupun dipesan langsung pada pembuatnya. Proses pembuatan kue Bhoi ini pun tergolong sedikit rumit. Pasalnya, tidak semua orang bisa membuat kuliner ini dan dibutuhkan kesabaran serta keuletan.

  1. Bohromrom

Bohromrom atau dikenal juga dengan kue boh duek beudeh, kue ini terbuat dari tepung ketan yang dibalut dengan parutan kelapa. Cara membuatnya sangat mudah. Campurkan tepung ketan, garam dan air panas. Aduk hingga rata. Tuang air dingin, aduk hingga adonan kalis. Ambil satu sendok teh adonan isi dengan bahan isian yakni gula jawa. Bulatkan dan panaskan air bersama daun pandan hingga mendidih. Masukkan adonan, angkat, gulingkan diatas kelapa parut lalu sajikan.

  1. Meuseukat

Meuseukat ini merupakan salah satu kue tradisional dari aceh atau semacam dodol nanas khas aceh. Meuseukat terbuat dari tepung terigu dan campuran buah nanas, paduan yang unik dengan cita rasa yang khas. Meuseukat sangat jarang ditemukan dipasar-pasar tradisional dan terkadang harus dipesan terlebih dahulu.

Jika sebelumnya meuseukat sering dibawa pada acara perkawinan aceh, kini meuseukat dapat juga dijadikan oleh-oleh jika berkunjung ke aceh.

Itulah 10 makanan khas Aceh, jangan lupa untuk mencicipi salah satu jenis makanan di atas atau bisa juga Anda bawa pulang sebagai oleh-oleh berkunjung ke Aceh.

Sumber : http://acehtourismagency.blogspot.co.id/2012/08/10-makanan-khas-tradisional-aceh.html

PANTAI PENYU, DESTINASI WISATA KELUARGA DI PESISIR LEUPUNG

Pohon cemara menjulang tinggi, di riak-riak pohon terdengar suara angin yang membawakan daun cemara saling bersentuhan. Suasana pantai begitu terasa.

Pantai Penyu namanya, nama tersebut baru disematkan oleh mahasiswa KKN Usnyiah saat mereka ditempatkan di Leupung, Aceh Besar beberapa bulan lalu. Dinamakan demikian, karena saat itu ada pelepasan tukik atau anak penyu disana.

Bukan hanya pantai, tempat ini juga ada sungai umpama danau kecil dengan air yang tenang. Biasanya pada akhir pekan ramai wisatawan lokal yang berkunjung ke sana.

“Disini bisa dibilang tempat wisata keluarga, biasanya keluarga, karyawan dan mahasiswa yang datang masak-masak dan segala macam,” kata ibu-ibu sepuh baya, pengelola daerah itu.

Kata dia, biasanya yang sering mengunjungi pantai penyu adalah rekan mahasiswa yang melakukan pesijuek mahasiswa baru serta rombongan keluarga dan instansi-instansi perkantoran.

“Kadang-kadang disini juga sering ada ‘Meuramin Kuah Beulangoeng’ dan diadakan aneka lomba-lomba,” katanya.

Menurut pantauan mediaaceh.co, tak jarang juga pantai penyu disulap menjadi tempat berlangsungnya even-even besar seperti rekan dari dealer motor dan mobil, Yamaha misalnya.

Tak kalah menariknya, danau ini juga sering dijadikan tempat Pra-Wedding oleh pasangan pengantin baru. Pantai penyu adalah salah satu destinasi wisata keluarga yang menjanjikan pesona dan pemandangan takjub bagi Anda

Sumber : http://mediaaceh.co/news/pantai-penyu-destinasi-wisata-keluarga-di-pesisir-leupung-11849

RAJA – RAJA ACEH BERKUMPUL DI LAMNO

CALANG – Raja-raja dari seantero Aceh, Kamis (17/10) kemarin berkumpul di Lamno, Kecamatan Jaya, Aceh Jaya. Mereka menghadiri seumeuleung (upacara menyuapi raja), sebuah tradisi para raja Daya yang berlangsung di makam Poteumeureuhom di Desa Gle Jong, Kecamatan Jaya.

Di antara raja yang hadir kemarin adalah Raja Pidie, Raja Linge, Nagan Raya, Blangpidie, Aceh Selatan, Raja Meulaboh, dan sejumlah raja lainnya di Aceh. Hadir pula Bupati Aceh Jaya, Ir Azhar Abdurrahman dan tokoh masyarakat setempat.

Upacara itu terasa lebih lengkap karena dihadiri Pemangku Wali Nanggroe, Malik Mahmud Al-Haytar.  Upacara tersebut merupakan adat memuliakan raja yang dilaksanakan setiap tahun sejak 1480 Masehi. Pelaksanaannya selalu pada hari ketiga Idul Adha.

Ribuan warga membanjiri lokasi tersebut, karena di situ selain dilakukan prosesi seumeuleung juga menjadi lokasi wisata yang sering dikunjungi warga, apalagi dalam suasana Lebaran, sehingga pengunjungnya makin ramai.

Raja Daya, T Saifullah kepada Serambi, Kamis (17/10) mengatakan, upacara seumeuleung yang dilaksanakan di makam Poteumeuruhom itu perlu dilestarikan karena sarat makna. T Saifullah sendiri merupakan keturunan dari Raja Sultan Alaidin Inayatsyah yang ke-13.

Sementara itu, Pemangku Wali Nanggroe, Malik Mahmud Al-Haytar yang menghadiri upacara seumeuleung mengatakan, ke depan ia akan berupaya  melestarikan semua adat istiadat yang ada di Aceh, baik di tingkat nasional maupun internasional.

Menurutnya, jika Aceh ini berada dalam kondisi aman dan politiknya stabil, maka akan sangat mudah dilakukan pembangunan dan dapat dilestarikan semua adat budaya yang diyakini Malik Mahmud mampu membangkitkan perekonomian masyarakat.

Dalam upacara seumeuleung tersebut, pengawal raja terlebih dulu memeriksa Astaka Diraja. Setelah itu barulah dilakukan penjemputan raja di sebuah balai yang disebut Balee Meunaroi.

Ketika sang Raja memasuki Astaka Diraja, maka raja-raja yang dindang dari berbagai daerah di Aceh melakukan penyambutan dan memberikan hormat kepada Raja Daya dengan mengucapkan Daulat Tuanku.

Setelah itu, dilakukan doa bersama yang dipimpin mufti kerajaan setempat. Setelah selesai pembacaan doa, raja pun memberikan amanat kepada tamu agung dan rakyatnya. Tak lama berselang langsung dihidangkan makanan yang disebut dengan Buet bu ulee. Untuk itu, dua dayang laki-laki langsung memberikan pelayanan kepada sang Raja, hingga menyuapinya. Sementara raja-raja lainnya dan tamu angung dipersilakan mencicipi makanan yang sudah dihidangkan. Di akhir kegiatan tersebut, rombongan secara bersama-sama berziarah ke makam Poteumeureuhom dengan menaiki 99 anak tangga

Sumber : http://aceh.tribunnews.com/2013/10/18/raja-raja-aceh-berkumpul-di-lamno

SEJARAH KOPI GAYA ACEH

Saat ini di Aceh terdapat dua jenis kopi yang di budidayakan adalah kopi Arabika dan kopi Robusta Dua jenis Kopi Gayo yang sangat terkenal yaitu kopi Gayo (Arabika) dan kopi Ulee Kareeng (Robusta). Untuk kopi jenis Arabika umumnya dibudidayakan di wilayah dataran tinggi “Tanah Gayo”, Aceh Tenggara, dan Gayo Lues, sedangkan di Kabupaten Pidie (terutama wilayah Tangse dan Geumpang) dan Aceh Barat lebih dominan dikembangkan oleh masyarakat disini berupa kopi jenis Robusta. Kopi Arabika agak besar dan berwarna hijau gelap, daunnya berbentuk oval, tinggi pohon mencapai tujuh meter. Namun di perkebunan kopi, tinggi pohon ini dijaga agar berkisar 2-3 meter. Tujuannya agar mudah saat di panen. Pohon Kopi Arabika mulai memproduksi buah pertamanya dalam tiga tahun. Lazimnya dahan tumbuh dari batang dengan panjang sekitar 15 cm. Dedaunan yang diatas lebih muda warnanya karena sinar matahari sedangkan dibawahnya lebih gelap. Tiap batang menampung 10-15 rangkaian bunga kecil yang akan menjadi buah kopi.

Dari proses inilah kemudian muncul buah kopi disebut cherry, berbentuk oval, dua buah berdampingan. Kopi Gayo merupakan salah satu komoditi unggulan yang berasal dari Dataran Tinggi Gayo. Perkebunan Kopi yang telah dikembangkan sejak tahun 1908 ini tumbuh subur di Kabupaten Bener Meriah dan Aceh Tengah. Kedua daerah yang berada di ketinggian 1200 m dari permukaan laut tersebut memiliki perkebunan kopi terluas di Indonesia yaitu dengan luas sekitar 81.000 ha. Masing-masing 42.000 ha berada di Kabupaten Bener Meriah dan selebihnya 39.000 ha di Kabupaten Aceh Tengah. Gayo adalah nama Suku Asli yang mendiami daerah ini. Mayoritas masyarakat Gayo berprofesi sebagai Petani Kopi.

Varietas Arabika mendominasi jenis kopi yang dikembangkan oleh para petani Kopi Gayo. Produksi Kopi Arabika yang dihasilkan dari Tanah Gayo merupakan yang terbesar di Asia Kopi Gayo merupakan salah satu kopi khas Nusantara asal Aceh yang cukup banyak digemari oleh berbagai kalangan di dunia. Kopi Gayo memiliki aroma dan rasa yang sangat khas. Kebanyakan kopi yang ada, rasa pahitnya masih tertinggal di lidah kita, namun tidak demikian pada kopi Gayo. Rasa pahit hampir tidak terasa pada kopi ini. Cita rasa kopi Gayo yang asli terdapat pada aroma kopi yang harum dan rasa gurih hampir tidak pahit. Bahkan ada juga yang berpendapat bahwa rasa kopi Gayo melebihi cita rasa kopi Blue Mountain yang berasal dari Jamaika. Kopi Gayo dihasilkan dari perkebunan rakyat di dataran tinggi Gayo, Aceh Tengah.

Di daerah tersebut kopi ditanam dengan cara organik tanpa bahan kimia sehingga kopi ini juga dikenal sebagai kopi hijau (ramah lingkungan). Kopi Gayo disebut-sebut sebagai kopi organik terbaik di dunia.

 

MENIKMATI PESONA PULAU BUNTA DI ACEH BESAR

Di Aceh Besar, banyak pilihan tempat wisata yang bagus, dan dijamin tidak membosankan. Seperti menikmati putihnya pasir pantai Lampuuk, menikmati sejuknya air terjun Luthu Lamweu, berendam di kolam air panas di Krueng Raya, dan memancing ikan di Lhok Mata Ie.

Selain itu, bila Anda bosan berwisata di daratan melulu, dan ingin yang lebih menantang lagi, yaitu naik boat dan menikmati matahari terbenam di tengah lautan, di Aceh Besar lah surganya. Di Kabupaten Aceh Besar ada banyak pilihan tempat wisata pulau, seperti, Pulau Nasi, Pulau Breueh, Pulau Batee, Pulau Bunta, dan beberapa pulau kecil lainnya.

Dari sejumlah pulau yang Loveaceh.com sebutkan di atas, Pulau Bunta patut Anda datangi. Pulau Bunta adalah salah satu dari sebagian pulau kecil yang terdapat di Aceh Besar. Pulau ini terletak di Kecamatan Peukan Bada, Kabupaten Aceh Besar. Kalau di lihat dari Google Maps, pulau ini memang mirip seperti unta yang sedang merayap, mungkin karena alasan inilah di sebut Pulau Bunta.

Nampak Pulau Bunta di lingkaran kuning kiri

“Sebelum tsunami melanda Aceh, dulunya disini ada pemukiman penduduk, Gampong Bunta nama desanya. Tapi sayangnya, setelah tsunami melanda, banyak penduduk yang meninggalkan pulau ini dan pindah ke daratan Aceh, mereka tinggal di sejumlah desa di Kecamatan Pekan Bada, Kabupaten Aceh Besar”, kata kepala desa Gampong Bunta, Amir kepada tim Loveaceh.com yang kami jumpai di rumahnya di Gampong Bunta, Pulau Bunta.

Masih menurut cerita kepala desa Gampong Bunta, meskipun banyak warganya yang tidak menetap di pulau ini lagi, akan tetapi di KTP mereka masih tertulis alamat dan tempat tinggal di Desa Gampong Bunta.

“Beberapa bulan lagi, kami akan mengadakan gotong royong massal, membersihkan Desa Gampong Bunta ini, dan akan membangun sejumlah fasilitas, karena kami ingin kembali menetap dan tinggal lagi di Desa Kampung Bunta ini”, kata Amir yang baru terpilih sebagai kepala desa Pulau Bunta yang baru.

Bila Anda hendak berwisata ke pulau ini, Anda jangan kuatir akan tidak adanya tempat berteduh, karena disini masih banyak terdapat rumah-rumah penduduk, ada yang sudah rusak tidak terawat, dan ada juga yang masih bagus karena masih di tempati.

Menurut pantauan kami, dari sepuluh rumah yang ada, sekitar 7 rumah yang masih di tempati. Mereka yang masih menetap di rumah ini sebagian besar bekerja sebagai nelayan dan berkebun.

Selain itu, fasilitas lainnya yang ada di pulau ini, dan bagi Anda yang ingin menginap atau bermalam adalah sebuah bangunan balai, mushola, dan juga sumur yang bisa Anda gunakan untuk mandi dan memasak. Untuk listrik jangan harap ada, jadi Anda harus membawa gengset atau power bank sendiri untuk sekedar charger handphone, dan kamera.

Lalu bagaimana dengan sinyal telepon seluler dan internet? Anda tidak perlu takut, karena sinyal telepon seluler disini lumayan bagus, hal ini karena pulau ini dekat dengan daratan Aceh, dan cukup dekat dengan tower BTS. Akses internet juga lumayan, untuk sekedar browsing, dan upploud foto ke sosial media masih bisa Anda lakukan.

Masih di pulau yang kecil ini, Anda bisa menikmati pantai yang indah dengan hamparan luas pasir putihnya yang eksotis, laut biru tanpa kotoran, melihat pesona matahari tenggelam (sunset)  yang hampir sempurna, dan aneka jenis ikan laut yang sangat menggoda untuk di pancing.

Nah, Anda juga bisa snorkeling disini dan menikmati aneka ikan laut dan terumbu karang yang tidak kalah bagus dari Pantai Iboh, Sabang. Perlu di ingat, untuk snorkeling Anda harus membawa sendiri perlengkapannya, karena di sini tidak tersedia fasilitas apapun.

Selain itu, Anda juga bisa mengelilingi pulau ini, melihat ribuan pohon kelapa yang tumbuh di lereng-lereng bukit, mendaki tebing, masuk ke hutan, melihat aneka jenis burung, dan naik ke puncak menara mercusuar.

Di atas puncak menara mercusuar ini, sensasi yang bisa Anda peroleh adalah melihat pemandangan birunya laut lepas yang menakjubkan, hamparan luas Samudera Hindia, melihat daratan Aceh, pantai Lampuuk, Pulau Batee, dan Anda juga bisa melihat Sabang dari kejauhan.

Selain itu, di atas menara mercusuar, Anda bisa melihat kapal-kapal besar yang lewat, boat nelayan yang mencari ikan, dan di tambah lagi dengan pemandangan alam yang eksotik yang memanjakan mata.

Jangan lupa untuk membawa kamera, karena di atas menara mercusuar ini sangat menakjubkan untuk foto selfie. Untuk sampai ke menara mercusuar ini, Anda harus menempuh perjalanan kaki sekitar 1 jam dari dermaga.

Ada yang aneh di pulau ini, Anda tidak akan menjumpai nyamuk. Jadi tidak perlu takut akan gigitan nyamuk. Selain nyamuk, di pulau ini juga tidak terdapat tupai, monyet, anjing dan kodok. Binatang liar yang banyak terdapat di pulau ini adalah babi hutan, jadi hati-hati bila masuk ke hutan di malam hari.

Bila ingin mendatangi pulau ini, dari Bandara Sultan Iskandar Muda ke pelabuhan Ulee Lheue jaraknya sekitar 30 menit naik becak atau mini bus. Dan untuk sampai ke pulau ini, tidak ada alat transportasi khusus, jadi Anda harus menyewa boat nelayan terlebih dahulu. Biaya sewa boat nelayan berkisar 1 jutaan, dan dapat memuat sekitar 15 orang.

Untuk jarak tempuh sendiri, dari pelabuhan Ulee Lheue ke Pulau Bunta berkisar 1 jam lebih, tergantung jenis kapal nelayan yang Anda tumpangi. Selain dari Ulee Lheue, Anda bisa juga naik kapal nelayan dari Desa Lamteungoh, Kecamatan Pekan Bada, Aceh Besar. Untuk harga dan jarak tempuhnya kurang lebih juga sama.

Perlu di ingat, Anda mesti melihat cuaca, bila sedang hujan atau lagi musim barat, tidak ada boat nelayan yang mau melayani Anda menuju Pulau Bunta, karena mereka tidak mau bertanggung jawab akan hal buruk yang bisa terjadi kapan saja.

Nah, bagaimana tertarik untuk mengunjungi dan menikmati keindahan Pulau Bunta yang masih perawan dan unik ini? Jadikan pulau ini sebagai destinasi liburan di akhir pekan Anda. Ingat, dimanapun tempat kita berwisata selalu menjaga kelestarian lingkungan. Terimakasih!

Sumber : http://www.loveaceh.com/wisata/menikmati-pesona-pulau-bunta-di-aceh-besar/